Berita duka terus mengalir untuk dunia ilmu di tanah air. Belum lama Profesor Parsudi Suparlan, antropolog kenamaan berpulang. Menyusul Fuad Hasan, psikolog yang pernah menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Juga Profesor Sartono, sejarawan terkemuka yang disertasinya mengenai gerakan petani Banten begitu mengguncang. Profesor Sartono menjadikan petani, ‘aktor bukan siapa-siapa’, menjadi pusat perhatiannya dalam ilmu sejarah yang digelutinya. Harian Kompas mendapuk mereka bertiga ini sebagai ilmuwan (sosial) generasi pertama Indonesia. Ilmuwan yang menempuh jalan asketik, hidup bersahaja, tidak silau dengan hiruk pikuk media. Di tengah keringnya dunia ilmu sosial (juga politik) Indonesia saat ini, kepergian mereka menggugah.
Ada seorang figur lain dari ilmuwan generasi pertama yang juga saya kagumi. Pak Thee Kian Wie, ekonom senior di LIPI. Pak Thee sangat bersahaja, tetapi karya akademiknya dihormati di luar negeri. Ia sangat santun dan begitu rendah hati. Saya ingat ketika selama kurun waktu 2001-2003 saya ikut mengelola dan mengkordinir sebuah kelompok diskusi informal dua mingguan di Jakarta. Macam-macam anggotanya. Ada dosen, peneliti, karyawan swasta, wartawan, aktifis LSM dan lain-lain. Kami datang dari beragam latar kelompok ideologi dan juga agama. Persamaan kami waktu itu adalah semua muda usia. Juga umumnya belum lama lulus kuliah S-1.Kelompok itu bertemu dua minggu sekali di sebuah rumah di Jalan Proklamasi di Jakarta, berdiskusi macam-macam hal sepulang kerja mulai jam 7 malam. Forum itu menjadi oasis bagi kami yang menolak terjebak dalam rutinitas pekerjaan di tempat masing-masing.
Sekali waktu kami mengundang Pak Thee Kian Wie untuk berbagi ilmu. Pak Thee sudah cukup berumur, tapi dengan senang hati datang berdiskusi malam-malam. Ia menolak dijemput dan memilih menyetir sendiri datang bersama istrinya yang kemudian ikut menyimak diskusi dengan sepenuh hati. Seingat saya, pak Thee menolak uang (hasil saweran anggota kelompok kami) sebagai honornya yang kami berikan seusai diskusi.
Hari itu saya ingat betul bagaimana pak Thee berdiskusi dengan santun bersama kami yang muda-muda yang terbatas ilmunya. Tapi tidak ada rasa sedikitpun bahwa pak Thee sedang menggurui kami. Ia bicara dengan data, tidak pula mengeluarkan pandangan-pandangan populis untuk menyenangkan pendengarnya.
Saya rasa teladan mereka tidak akan pernah hilang.
Mungkin kata-kata Robert Frost begitu pas menggambarkan para ilmuwan generasi pertama ini, yang menempuh jalan ‘sunyi’ nya dan meninggalkan jejak yang dalam dalam dunia ilmu sosial Indonesia. Saya cuplik dari blog Yus Arianto, sahabat masa kuliah di Bandung dulu (http://blogyusariyanto.wordpress.com).
I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I–
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference – Robert Frost (1874-1963)