Dalam perjalanan batin, kita sering mendengar kata Iman. Bagi banyak orang, iman sering kali dianggap sebagai “kotak titipan” berisi daftar hal yang harus kita percayai supaya hati tenang atau supaya selamat di akhirat. Namun, jika kita masuk ke level kesadaran yang lebih dalam dimana kondisi batin yang anteng dan bening, iman berubah wujud. Ia bukan lagi sekadar percaya, tapi sudah sampai pada level “Melihat”.
1. Iman sebagai “Cadangan” vs. Iman sebagai “Mata”
Kita harus berani mengakui di tahap awal, percaya itu sering kali hanyalah cadangan atau tambalan atas ketidaktahuan kita, semacam kruk mental. Kita percaya karena kita belum mampu melihat sendiri. Kita meminjam mata tradisi, teks, atau penuturan orang lain untuk menjelaskan ketidaktahuan kita.
Di tahap ini, iman bersifat defensif. Karena ia adalah titipan, kita merasa perlu menjaganya dengan ketat, takut jika logika atau realitas akan merusaknya. Ibarat kita memegang peta, tapi belum pernah menginjakkan kaki di lokasinya, kita memegangnya erat takut jika peta itu robek atau dibantah orang.
Lanjutkan membaca “Dari “Katanya” Menjadi “Nyatanya”: Tak Sekedar Percaya Namun Melihat”