TITISAN DEWA ATAU EGO YANG MENYAMAR?

[21/8, 19.21] Bang AT (KKS Klaten) : ⚔️ TITISAN DEWA ATAU EGO YANG MENYAMAR?

Maraknya sekarang ini orang yang mengaku titisan dewa, leluhur, atau orang sakti bukanlah tanda kedatangan masa keemasan melainkan puncak jebakan supranatural yang mematikan.

Ketika seseorang terjebak dalam pencarian sensasi gaib, ia akhirnya membutuhkan otoritas yang tak dibantah. Cara tercepat: mengaku sebagai sumber itu sendiri. Dengan satu kalimat, ia kebal kritik, tak butuh bukti moral, dan mendapat pengakuan instan tanpa harus berbuat baik, tanpa harus rendah hati, tanpa harus berkorban.

Ini bukan keramat. Ini penyalahgunaan nama Yang Luhur untuk memberi makan ego.

Yang sejati tidak pernah mengaku, tidak pernah memuja diri, tidak pernah menuntut penghormatan, tidak pernah menjual berkah. Yang mengaku itu bukan dewa. Itu manusia yang menemukan cara paling ampuh agar tidak ada yang berani mempertanyakannya.
Dewa yang sejati tidak butuh manusia mengaku-ngaku atas namanya.
Leluhur yang sejati tidak butuh manusia meninggikan dirinya.
Jika seseorang mengaku titisan tanyakan satu hal: Apakah kelakuannya suci, rendah hati, dan tidak butuh apa-apa dari orang lain? Jika tidak ia bukan titisan. Ia hanya ego yang memakai jubah gaib.

Jangan mencari yang turun dari langit. Carilah yang hidup benar di bumi. Itulah satu-satunya bukti yang tak bisa dibohongi.


[21/8, 19.33] Bang AT KKS Klaten : ⚔️ JANGAN DIBUDAK OLEH SENSASI HALU

— Pesan Tegas Romo & Mami

Romo dan Mami berulang kali memperingatkan, dengan nada yang tidak kompromi: Jangan sampai kepekaan batin justru menjadi jebakan yang paling mematikan bagi dirimu sendiri.
🔥 Inti Peringatan
Duwe roso, nanging ora duwe rasa duwe.
Memiliki kepekaan — tetapi TIDAK boleh merasa memiliki.
Bukan kepekaan yang dilarang. Yang dilarang adalah menjadikan sensasi itu sebagai tanda kesucian, alasan merasa lebih, atau kebenaran yang tak boleh dipertanyakan. Itu adalah pintu masuk halu yang paling halus dan paling sulit disadari.

Sensasi itu mudah sekali ditiru oleh dirimu sendiri:

• Rasa bergetar → bisa kelelahan, bisa emosi, bisa ketakutan

• Penglihatan samar → bisa imajinasi yang berlebihan

• Bisikan batin → bisa keinginan egomu yang menyamar menjadi suara luhur

• Semua itu bisa terasa sangat nyata, sangat meyakinkan, sangat sakral — padahal itu hanya bayangan yang lahir dari dalam dirimu sendiri.
Yang kau kejar — akan tampak. Yang kau harap — akan muncul. Tapi itu belum tentu benar. Itu hanya cerminan keinginanmu yang kau proyeksikan ke luar, lalu kau sebut itu “gaib”.
⚔️ Garis Pemisah yang Tak Boleh Dilanggar
Terjebak Sensasi Halu Jalan yang Sejati
Percaya karena merasakan & melihat Percaya karena lurus hati & teguh pendirian
“Aku tahu, aku dipilih, aku istimewa” → ego tumbuh makin besar “Aku hanya manusia biasa” → ego dikikis habis
Keyakinan runtuh jika sensasi hilang Tetap berdiri walau sunyi, gelap, tak ada tanda
Menuntut dihormati, diakui, didengarkan Tetap rendah, tak butuh pujian, tak butuh pengakuan
Semakin dikejar semakin terperangkap Semakin dilepaskan semakin bebas

Tegas, Tajam, Tak Tergoyahkan
Jangan tertukar antara yang memuaskan egomu dan yang menyucikan hatimu. Yang pertama memabukkan dan membinasakan. Yang kedua menuntun, walau terasa pahit dan berat.

Sensasi bisa datang dan pergi. Tapi kejujuran, ketulusan, dan kerendahan hati — itu satu-satunya bukti yang tak bisa dibohongi, tak bisa dipalsukan, dan tak bisa dirampas oleh siapa pun.
Jika kepekaanmu membuatmu merasa lebih tinggi — itu bukan pencerahan. Itu halu yang sedang memakanmu dari dalam.

Jika kepekaanmu membuatmu makin rendah hati — barulah itu jalan yang sejati.

SALANG SURUP MEMAHAMI ILMU JAWA

Bang AT KKS Klaten : ☕ Ngopi & Diskusi “Jawa Sesungguhnya” di Warung Hik
[16/8, 01.26]


Malam ini, di sudut warung Hik yang sederhana — aroma kopi tubruk yang harum berpadu dengan hawa malam yang sejuk — aku duduk bersantai menikmati waktu. Tak lama, datang seorang bapak yang mengaku “orang Jawa asli, keturunan tulen.” Dengan penuh keyakinan, ia berkata:
“Jawa yang sekarang kamu lihat itu cuma pengembangan, sudah banyak berubah — bukan Jawa yang sesungguhnya.”
Kalimat itu langsung memancing rasa penasaran. Aku pun menoleh dan bertanya santai: “Wah, kalau begitu, ajaran Jawa yang sesungguhnya itu yang mana, Pak?”

Dengan mata berbinar dan suara tenang, ia menjawab: “Jawa sejati itu menggunakan olah rasa dan olah pikir — berlandaskan pada Sangkan Paraning Dumadi: menyadari dari mana asal, ke mana tujuan segala sesuatu.”

Aku mengangguk perlahan, lalu menyelidik lebih jauh: “Boleh saya tanya — mana bukti nyata hasil dari olah rasa dan olah pikirmu itu?”

Ia menjawab mantap: “Misalnya, saat kita lewat depan orang lalu mengucapkan permisi — itulah hasilnya.”

Aku tersenyum tipis, lalu menyanggah: “Itu hasil cipta, Pak — perbuatan yang disebut etika. Bukan sekadar rasa atau pikir.”

Ia justru menggeleng tegas: “Bukan… olah rasa dan pikir itu lebih dalam dari itu. Orang Jawa sejati itu tidak butuh cipta — cukup rasa dan pikir.”

Pernyataan itu membuatku semakin tertarik menguji logikanya. Aku pun bertanya tajam:

“Lho, kalau begitu — nek cuma dirasa dan dipikir, tanpa ada cipta dan tindakan, dari mana datangnya segelas kopi yang sekarang ada di meja ini? Apa cukup dirasa dan dipikir, lalu kopinya datang sendiri?”

Ia agak tergagap, lalu buru-buru menjawab: “Kalau itu sudah masuk ranah karep — keinginan. Kalau sudah ada keinginan, itu beda lagi urusannya.”

Belum sempat ia lanjut, aku kembali menegaskan: “Baik, kalau begitu — motor yang Bapak kendarai itu, datangnya dari mana? Apakah dari Sangkan Paran juga? Nek Bapak ora nyambut gawe, ora duwe duit kanggo tuku — apa cukup dirasa lan dipikir tok, lantas motor itu datang sendiri ke tangan Bapak?”

Kali ini ia terdiam sejenak, lalu berkilah gugup: “Ora… itu kan cuma angan-angan. Kalau sudah ada gambaran seperti itu, itu namanya karep — bukan bukti olah rasa.”

Semakin ke sini, logikanya makin terasa berputar-putar dan tak berpijak. Akhirnya aku tersenyum, lalu berkata santai namun tegas:

“Begini saja, Pak… Kembali ke awal pembicaraan kita tadi — katanya ajaran Jawa itu ‘Kitab Teles’ — kitab yang tak tertulis, hidup, dan tak ada pakem baku. Kalau begitu, berhubung hari sudah makin larut, kesimpulannya sederhana saja: ‘Kitab teles’ Bapak dan ‘kitab teles’ saya, bisa jadi beda. Sama-sama teles, tapi air yang mebasahinya memang berbeda-beda.” 😄
📖 Catatan Kecil di Balik Cerita

Konsep “Kitab Teles” dan “Kitab Garing” memang benar ada dalam khazanah spiritual Jawa — namun sayangnya, alasan ini sering kali disalahpakai untuk membenarkan pemahaman sendiri yang tak berdasar, bahkan menolak logika & bukti nyata.

• 📖 Kitab Garing = pengetahuan tertulis, kitab-kitab, teori, ajaran yang terdokumentasi — penting sebagai pedoman dasar & pijakan bersama

• 🌊 Kitab Teles = pengetahuan hidup: yang dihayati, dialami, dan dipahami langsung dari pengalaman, alam, dan laku batin — dinamis, terus berkembang, tak bisa dibukukan secara kaku

Namun perlu diingat: Kitab Teles yang sejati BUKAN berarti bebas sebebas-bebasnya tanpa bukti nyata. Justru —
Semakin seseorang sungguh-sungguh menghayati & mengolah rasa-pikirnya, semakin nyata buahnya dalam tindakan, karya, dan laku hidup yang berbudi luhur — bukan sekadar perasaan tanpa wujud, apalagi alasan untuk menghindari ikhtiar nyata.
Demikian pula Sangkan Paraning Dumadi — BUKAN alasan untuk pasif, menyerah pada keadaan, atau menganggap segala sesuatu “sudah takdir jadi tak perlu berusaha.” Makna sejatinya:
Asal dari Tuhan, tujuan kembali kepada Tuhan — maka di tengah-tengahnya hidup dengan bertanggung jawab, bekerja sekuat tenaga, berkarya nyata, dan berbuat sebaik-baiknya bagi sesama & alam semesta.
💡 Inti Pesan:
Jawa sejati BUKAN yang merasa paling “asli” lalu berteori tanpa bukti — tapi yang:
✅ Berpikir jernih — memahami kebenaran dengan akal sehat dan logika yang lurus
✅ Merasa mendalam — menghayati kebenaran itu dengan hati yang bersih, peka, dan berbudi luhur
✅ Berkarya nyata — mewujudkan kebenaran & kebaikan itu dalam tindakan, pekerjaan, dan laku hidup sehari-hari — karena tanpa cipta & karya, rasa dan pikir hanyalah potensi yang tak pernah lahir. 🙏

Kelemahan Pemahaman & Logikanya

1. Membawa konsep luhur tapi memisahkan dari kenyataan hidup — olah rasa & olah pikir sejati justru harus melahirkan cipta & karya nyata. Kalau hanya rasa & pikir tanpa tindakan, itu bukan olah rasa — melainkan khayalan. Jawa sejati tidak mengajarkan lepas dari kenyataan, melainkan menghayati kenyataan dengan rasa & pikir yang jernih, lalu bertindak sebaik-baiknya.

2. Memakai “Kitab Teles” sebagai tameng untuk pemahaman yang tak bisa diuji — kitab teles yang benar itu dinamis tapi tetap berlandaskan kebenaran universal & bukti nyata, bukan alasan untuk berkata “menurut pemahaman saya sendiri” lalu menolak logika & fakta. Kalau setiap orang bebas menafsirkan seenaknya tanpa ukuran, maka ajaran itu kehilangan arah dan nilainya.

3. Mengaburkan batas antara: karep, angan-angan, dan olah rasa —

◦ Olah rasa = hasil penghayatan batin yang matang, tenang, jernih, lahir dari laku & disiplin batin — bukan sekadar keinginan sesaat

◦ Karep / keinginan = dorongan dari ego & hasrat — kalau tidak dikendalikan oleh olah rasa & olah pikir, justru jadi penghalang kedewasaan batin

◦ Angan-angan = bayangan di kepala tanpa dasar & tanpa langkah nyata — bukan olah pikir
Ia mencampuradukkan semuanya, sehingga argumennya mudah runtuh saat diuji dengan kenyataan sederhana: kopi datang karena dibuat, motor datang karena dibeli dari hasil kerja.

4. Mengklaim “Jawa asli” tapi isinya justru mematikan daya hidup Jawa — Jawa klasik justru sangat menghargai kerja, karya, ketekunan, dan ikhtiar nyata. Lihatlah candi, keris, gamelan, pertanian, tata kota, sastra — semua itu bukti cipta & karya luar biasa, bukan hasil sekadar dirasa dan dipikir.
💡 Inti Penilaian:
Bapak itu orang yang punya ketertarikan & rasa cinta pada budaya Jawa — dan itu baik. Tapi pemahamannya masih dangkal, terjebak dalam teori yang dipisahkan dari kenyataan, dan menggunakan konsep spiritual sebagai alasan untuk tidak perlu membuktikan secara nyata.

Ia bukan orang jahat cuma salah Guru, dan saya tau si bapak ini muridnya siapa 🤭

Durung punjul
Ing kawruh kaselak jujul
Kaseselan hawa
Cupet kapepetan pamrih
tangeh nedya anggambuh
mring Hyang Wisesa

Belum cakap ilmu
Buru-buru ingin dianggap pandai.
Tercemar nafsu selalu merasa kurang,
dan tertutup oleh pamrih,
sulit untuk manunggal pada Yang Mahakuasa.

DATA SAWALA HANA CARAKA, MAGA BATHANGA PADA JAYANYA

[16/8, 05.06] Alphada Satriansa (KKS Jakarta) :

DATA SAWALA HANA CARAKA, MAGA BATHANGA PADA JAYANYA

“dengan MERASAKAN Cinta Kasih kita belajar MENGERTI Keselarasan, dan dari PENGERTIAN semacam ini tumbuhkembanglah PENALARAN Keindahan..”

“dengan MERASAKAN Kenyataan kita belajar MENGERTI Saling Percaya, dan dari PENGERTIAN semacam ini tumbuhkembanglah PENALARAN Kedamaian..”

“dengan MENGERTI Cinta Kasih kita belajar MERASAKAN Kerendahhatian, dan dengan PERASAAN semacam ini tumbuhkembanglah PENALARAN Keutuhan Persatuan..”

“dengan MENGERTI Kenyataan Keberadaan Semesta kita belajar MERASAKAN Welas Asih Welas Asuh Welas Asah, dan dengan PERASAAN semacam ini tumbuhkembanglah PENALARAN Kebijakan nan Bajik..”

MANUSIA LAHIR DI BUMI UNTUK MENAIKKAN KESADARAN

Hamemayu Hayuning Bawana..
Hamemayu Hayuning Bawana..
Hamemayu Hayuning Bawana..

TATA TENTREM KERTA RAHARJA 

Ketika prabowo ditawan oleh gerilyawan timor timur, apa saja yang sudah dilakukan para shaman nya timtim ke dia..? 🙏🙏🙏

Dari Sejuk Menjadi Gersang — Panas yang Tak Kasat Mata

[16/8, 17.51] Bang AT (KKS Klaten) : 🌾 Dari Sejuk Menjadi Gersang — Panas yang Tak Kasat Mata

Dahulu, tanah itu sejuk, subur, dan menghidupi siapa pun yang mengusahakannya. Buahnya manis, airnya jernih, ladangnya hijau — anugerah yang diwariskan leluhur dengan penuh kasih, disertai pesan terakhir agar dijaga, dirawat, dan dilestarikan demi kebaikan bersama.

Namun zaman berganti, hati pun berubah. Keserakahan merayap masuk. Tanah yang dulu dirawat dengan cinta, kini dirampas dan diperas habis-habisan demi keuntungan sendiri. Pesan terakhir leluhur diabaikan, bahkan dikhianati. Perlahan tapi pasti, tanah itu berubah: hijau berganti cokelat kering, kesuburan berubah menjadi kegersangan, dan hawa sejuk yang dulu memeluk kini lenyap tak berbekas.

Bukan hanya tanah yang terluka — nama baik leluhur pun ikut dirusak. Mereka yang merasa kehidupannya kini sulit dan hancur, bukannya bercermin dan memperbaiki diri, malah menyalahkan, memusuhi, bahkan memfitnah leluhur sendiri. Terdengar pula bisik-bisik orang-orang yang tak paham sejarah, sembarangan berucap seolah-olah leluhur mereka dulu punya “ilmu hitam” atau perbuatan buruk. Semua tuduhan itu dilemparkan begitu saja — tanpa bukti, tanpa rasa hormat, tanpa ingat betapa besar jasa leluhur yang telah membuka jalan kehidupan bagi mereka.
[16/8, 17.52] Agustriono: 🌙 Malam Itu — Panas yang Tak Bisa Dijelaskan

Malam itu, langit bersih, udara sekitar terasa sejuk dan dingin menusuk kulit — aku, istri, dan anakku melintas naik motor melewati tanah itu, yang kini tinggal kebun dan ladang yang tampak sunyi dan gersang di tengah hamparan sawah.

Namun anehnya, begitu mendekati area itu, suasana berubah drastis. Dari kejauhan, kulitku sudah merasakan hawa yang panas dan berat, seolah-olah ada sesuatu yang menekan. Istriku pun menyadarinya lebih dulu — ia menoleh dan berkata heran: “Kok rasanya panas sekali di sini, padahal udara sekitar dingin sekali?”

Anakku yang duduk di belakang pun tiba-tiba nyeletuk polos namun tajam: “Iya, Yah — aneh banget… sebelah kanan panas, sebelah kiri dingin. Beda sekali rasanya!”

Penuh rasa penasaran, setelah lewat sedikit, aku memutar balik motor untuk memastikan — barangkali hanya perasaan kami saja. Namun saat lewat kembali, persis sama kejadiannya: yang tadi sebelah kanan panas, kini jadi sebelah kiri yang terasa panas, dan sisi sebaliknya justru dingin. Tak peduli dari arah mana kami lewat — hanya di titik tanah itulah hawa panas terasa menyelimuti, sementara udara di sekelilingnya tetap sejuk dan dingin.

Bukan imajinasi satu orang — kami bertiga merasakannya secara nyata, bersamaan. Tanpa kata-kata lagi, kami pun melanjutkan perjalanan dengan hati yang penuh tanda tanya dan perasaan tak biasa.
[16/8, 17.52] Agustriono: Duh Jagad Dewa Betoro, Poro leluhur lan leluhur Agung saya serahkan agar para dewo lan leluhur sendiri yang memberi pengadilan
[16/8, 18.12] Agustriono: 🔥 “Dzikir Yang Tersesat, Tumpeng, dan Fitnah yang Dijadikan Senjata”

Di sebuah tanah yang dulu subur dan sejuk — ladang yang diwariskan leluhur dengan keringat, air mata, dan doa agar anak cucu bisa hidup layak — kini nasibnya berubah menjadi gersang, panas, dan sunyi. Bukan karena alam yang berubah, melainkan karena hati pewarisnya yang telah berubah sepenuhnya.

Pemiliknya kini hidupnya kian terpuruk. Usaha hancur, ekonomi morat-marit, keluarga berantakan. Bukannya bercermin dan memperbaiki diri, ia justru mencari pelarian — dan akhirnya jatuh ke tangan seorang paranormal.

Dari situlah semua kesesatan bermula.

Paranormal itu berkata dengan penuh keyakinan seolah-olah tahu segalanya: “Leluhurmu dulu punya sanggeman — perjanjian gaib yang buruk. Itulah sebabnya hidupmu sekarang susah terus. Kamu harus sering berdzikir di tanah itu, dan buatlah sarana tumpeng di sana — supaya kamu bisa mengalahkan leluhurmu sendiri di tempat itu, supaya ikatannya terputus dan kamu lepas dari sialnya.”

Mendengar itu, bukannya sadar, ia justru merasa menemukan jawaban yang membenarkan penderitaannya. Maka mulailah ia bolak-balik ke tanah itu — berdzikir bukan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, melainkan sebagai senjata untuk “menundukkan” leluhurnya sendiri. Membuat tumpeng bukan sebagai tanda hormat dan syukur, melainkan sebagai alat untuk “memutus” ikatan darah dan sejarah yang mengikatnya kepada asal-usulnya.
[16/8, 18.13] Agustriono: Padahal sesungguhnya, bukan leluhur yang membawa sial — melainkan kelakuan dirinya sendirilah yang menjerumuskannya: keserakahan yang merampas hak orang lain, kebohongan yang menutupi kebenaran, pengkhianatan terhadap amanah leluhur, dan penolakan untuk bercermin serta bertobat. Semua keburukan itu lambat laun memakan dirinya sendiri — menghancurkan fondasi kehidupannya dari dalam.

Leluhur tidak pernah memberatkan siapa pun. Justru merekalah yang membukakan jalan agar keturunannya bisa berdiri tegak. Yang memberatkan adalah beban dosa dan kesalahan sendiri yang tak pernah diakui, lalu ditimpakan kepada orang yang sudah tak mampu membela diri.
[16/8, 18.26] Agustriono: Tanah Yang Kecewa dan lelaki Tua yang Tak Pernah Berhenti Memberi

Tanah itu seolah menyimpan rasa kecewa yang tak terucap. Bagaimana tidak — bila kau berdiri di sana dalam keheningan, seolah terbayang kembali dengan jelas sosok seorang lelaki tua, leluhur mereka, yang sepanjang hidupnya membanting tulang demi sepetak ladang ini.

Terbayang… bahkan sampai akhir hayatnya pun, tubuhnya yang sudah renta dan gemetar itu masih datang ke sini. Langkahnya sudah lambat, punggungnya sudah membungkuk berat, napasnya sudah pendek dan tersengal — namun cintanya pada tanah ini, dan pada keturunannya, tak pernah pudar sedikit pun.

Dengan tangan yang gemetar lemah, ia masih berjongkok menanam bibit dengan penuh kehati-hatian — seolah menanam harapan yang tak boleh mati. Lalu ia menyapu rumput liar, membersihkan selokan, merapikan pematang — semua dilakukan perlahan, penuh ketelatenan, meski tenaganya sudah nyaris habis. Orang-orang melihatnya dan berkata: “Pak, sudah cukup… istirahatlah, tubuhmu sudah tak kuat lagi.”

Namun ia hanya tersenyum tipis, tatapannya lembut namun teguh, lalu menjawab pelan:
“Selama napas masih ada, selama tubuh masih bisa bergerak — aku akan tetap di sini. Tanah ini sudah memberiku makan seumur hidup, sudah membesarkan anak-anakku. Maka wajiblah aku merawatnya sampai akhir. Semoga apa yang aku tanam dan aku jaga ini kelak tumbuh berkah — untuk anak cucuku, untuk mereka yang datang setelah aku tiada.”
Itulah leluhur mereka: tak pernah menuntut balas, tak pernah berhenti berbuat baik, tak pernah membebani siapa pun — hanya memberi, memberi, dan memberi, sampai tetes tenaga yang terakhir.
💔 Lalu Kini — Semua Pengorbanan Itu Dikhianati & Difitnah

Namun lihatlah kenyataan pahit hari ini…

Tanah yang dulu selalu dirawat dengan keringat dan kasih sayang itu, kini dibiarkan gersang, panas, dan terbengkalai — atau justru diperas habis-habisan demi keuntungan sesaat. Pesan terakhirnya dilupakan. Warisannya dirampas. Dan yang paling menyakitkan: namanya yang sudah lama terkubur di dalam tanah, kini digali kembali hanya untuk difitnah, dijelek-jelekkan, dan dituduh punya perjanjian gaib — semata-mata untuk menutupi kesalahan dan kegagalan pewarisnya sendiri.
Duh Gusti… betapa hancurnya hati leluhur itu — seandainya ia masih bisa merasakan — melihat:

• Bibit yang ditanam dengan cinta, kini tumbuh keserakahan

• Ladang yang dibersihkan dengan keringat, kini tercemar oleh kebohongan & kebencian

• Pengorbanan seumur hidup, dibalas dengan fitnah yang keji

• Cinta tulus tanpa syarat, dibalas dengan pengkhianatan & penghinaan
Tanah itu pun seolah ikut merasakan kekecewaan yang mendalam. Hawa panas yang terasa di sana bukan kutukan leluhur — melainkan panas dari luka pengkhianatan yang masih segar dan berdarah, di atas tanah yang dulu diperjuangkannya seumur hidup dengan penuh kesetiaan.
— Bayang yang Tak Pernah Hilang

Kini, bila kau melintas atau berdiri di sana saat senja mulai turun, kau tak lagi melihat sosok lelaki tua itu menanam atau membersihkan ladang. Tapi rasanya — ia masih ada di sini. Terasa dalam hembusan angin yang lembut menyapu pematang, dalam kesunyian yang menyimpan kenangan, dalam tanah yang masih menyimpan jejak tapak dan keringatnya.
Ia pergi membawa seluruh lelah dan cintanya. Tapi yang tertinggal adalah kebenaran yang tak bisa dihapus oleh siapa pun:
Bahwa leluhur itu jujur, bekerja keras, dan mencintai keturunannya tanpa batas — bahkan sampai akhir hayatnya.

Dan seburuk apa pun orang berusaha memfitnah dan merusak namanya — sejarah ladang ini, jejak keringatnya, dan kebenaran di langit tetap mencatatnya sebagai orang yang BERJUANG & MEMBERI, bukan orang yang BERKHIANAT & MERUSAK.
Maka biarlah waktu yang menjawab. Biarlah tanah ini sendiri yang menjadi saksi: siapa yang membangun, siapa yang merusak. Siapa yang memberi hidup, siapa yang membawa kehancuran. Dan pada akhirnya — kebenaranlah yang akan tetap berdiri tegak, abadi selamanya. 🙏

BERDAYA & MEMBERDAYAKAN

Tomy arjunanto (KKS Semarang) : *BERDAYA & MEMBERDAYAKAN*
[20/8, 13.59]
Ketika kesadaran internal (Rahsa Sejati) dan daya survival (Rasa Pangrasa) berada pada porsinya, interaksi sosial secara alami bermutasi dari kompetisi menjadi ekosistem saling menghidupkan, ini yang menjadi tujuan Mami & Romo bagi anak2nya:

1. Energi tidak lagi habis untuk memuaskan ego pribadi (Rahsaning Karep) namun melimpah menjadi kepedulian sosial. “Luwih ora kena luweh”.

2. Relasi yg terjalin adalah
– Asah: Saling mematangkan pemikiran dan kecakapan hidup.
– Asih: Saling mengasihi tanpa syarat keterikatan.
– Dan Asuh: Saling menjaga dan membimbing dalam realitas praktis

Sistem Nilai yang diajarkan Mami & Romo ini  untuk kita saling berdaya & memberdayakan dalam hidup yang murup:

– Setiap manusia membawa cetak biru (blueprint) potensi yang tak terukur (tan kena kinira) dan tak terbatas oleh formula baku (tan kena kinaya ngapa).

– Nilai seorang manusia tidak ditentukan oleh akumulasi kapital atau kedudukan strata, melainkan oleh sejauh mana ia berdharma (berfungsi/berkontribusi) sesuai potensinya masing-masing.
Mugi kita semua disatukan dalam persaudaran yang tulus yang daya dinayan, sehingga dimampukan untuk bersama mengelola warisan Leluhur, Nusantara Jaya Binangun 🙏🇮🇩🇮🇩

  • Privasi