Showing posts with label Traveling. Show all posts
Showing posts with label Traveling. Show all posts

Wednesday, May 31, 2023

Kenapa tidak ada kursi bernomor I di pesawat?

 



Sudah lama saya bertanya-tanya, ketika naik pesawat, kenapa tidak ada nomor tempat duduk "I" di pesawat. Dan hari ini, ketika sesorang menanyakan hal itu (lebih tepatnya komplain), saya langsung googling. Jawaban Google, berdasarkan Wikipedia, adalah sebagai berikut:

On many aircraft, the rightmost seats have letter designations HJK, skipping the letter I. This is because each seat has a row number followed by letter; letters that may be confused with numbers (I, O, Q, S, or Z) must be avoided, usually for people with dyslexia.

Jadi jawabannya, kenapa tidak ada huruf I, juga tidak ada huruf O, Q, S, dan Z, di pesawat adalah untuk menghindari keambiguan.

I ambigu dengan angka 1,

O dan Q ambigu dengan angka 0,

S ambigu dengan angka 5, dan

Z ambigu dengan angka 2.

Orang dengan disleksia, kondisi di mana seseorang mengalami kesulitan belajar yang menyebabkan masalah pada proses menulis, mengeja, berbicara, dan membaca, akan sulit membedakan huruf-huruf di atas sehingga akan kesulitan menemukan tempat duduknya di pesawat.

Thursday, January 09, 2020

Winter vacation: Kumamoto dan Saga-ken

Ishikawa-ken, penghujung tahun 2019

Senin adalah awal pekan, awal memulai pekerjaan. Namun tidak dengan senin itu. Senin itu adalah awal liburan. Bergegas dia meninggalkan apatonya, mengejar bis untuk ke stasiun. Bus shuttle berangkat jam 8:55, dan lima menit sebelum bis itu berangkat, dia sudah berada di dalamnya. Dari Nomi, kota tempat kampusnya berada, menuju Komatsu, stasiun dimana dia memulai perjalanan, ditempuh selama 30 menit dengan shuttle kampus tersebut. Hari ini adalah hari terakhir shutle beroperasi sebelum liburan tahun baru. Shuttle akan beroperasi lagi tanggal tiga Januari, tepat dimana dia pulang dari liburan. Untuk sekedar liburanpun dia mengatur jadwalnya sedemikan rupa sehingga transportasi dapat diperolehnya senyaman mungkin.

Jadwal shuttle selama winter 2019/2020

Di Komatsu, dia sampai jam 9:30. Masih ada waktu 45 menit sebelum kereta pertama tujuan Fukui berangkat. Dia pun membeli tiket juhacchi kippu (18kippu), tiket free-pass khusus kereta api JR yang berlaku selama lima hari, se-jepang, asalkan masih kereta JR, maksimal tipe kereta api ekspress, bukan tipe atasnya (limited express, shinkansen). Setelah mengantongi tiket, dia pun berkeliling, memperhatikan lalu lalang orang-orang di stasiun Komatsu. Banyak orang menjemput saudaranya, atau temannya. Tahun baru serasa lebaran di Indonesia.


Dari Komatsu dia mengambil kereta tujuan Fukui. Dari Fukui berpindah ke Tsuruga. Masing-masing sekitar satu jam. Dari Tsuruga dia bisa lebih lama di kereta, sekitar 2.5 jam, ganti kereta di Himeji menuju Aioi, ganti kereta di sana menuju Okayama, tujuan terakhirnya hari itu. Nahas, dia ketinggalan melewatkan kereta di Aioi. Akhirnya dia memutuskan untuk tetap di kereta sampai tujuan akhir, Banshu-Ako. Dari sana dia berpindah ke kereta menuju Okayama. Jadwal kedatangannya di Okayama mundur sejam dari yang diperkirakan. Seharusnya jam 17.02, kenyataanya dia sampai di Okayama jam 18.30

Rute dari Himeji ke Okayama via Banshu-Ako. Harusnya perjalanan bisa lebih singkat jika berhendi di Aioi, kemudian oper kereta tujuan Okayama.

Thursday, November 28, 2019

A (Muslim) Trip to Lanzhou, China

This trip was a conference trip, APSIPA 2019. This year APSIPA conference was held in Lanzhou City, Gansu Province, China.

Departure

I depart from Kansai Airport. Because the flight is in the morning, at 9 am, I stay one night in Kansai AP (first cabin hotel) before departure. A prayer room is available on the 3rd floor. The halal ざ-udon on the second floor is what I always visited when departing from Kansai. For subuh prayer, I can do it in my bed. Although it is very small, we can use it to stand face to qibla. Another choice is to do it in a private area of the bathroom. One of the bathrooms in First Cabin Kansai has a large space (about 3 x 1.5 m outside shower room).

Transit in Beijing (BCIA, Beijing Capital Int'l Airport)

China is complicated (compared to Japan). The security is very strict. You need to be scanned in a dedicated base. No laptop, tablet, phone, coin, liquid more than 100 ml, should be inside the bag. Separate it. Prohibited items such as a knife, cutter, liquid more than 100 ml, should be moved into the suitcase, not as in cabin baggage.

Prepare the arrival statement card (yellow) in advance before entering the immigration post. The staff (police) also asked about my last boarding pass. Once they passed me to enter China, I can look for space to pray (Dhuhur and Ashr) inside the terminal (T3).

There is no dedicated prayer room in T3. I used the most quite waiting space (near a gate) to pray, behind digital signage advertisements. Some peoples see me when I pray. I think it is no problem. Once finished, I go for waiting the time in a space near my gate.

There is free wifi in BCIA (Beijing Capital Intl Airport). To use it, you must scan your passport in a machine to get id and password. Lanzhou airport also provides free wifi. Note that all Google services are blocked in China. A vpn is required beforehand to use Google service.
 

Stay in AirBnB rented room

I rent a room via AirBnB. It is cheaper than a hotel, just JPY 16000 for 5 days with a similar facility to the hotel. However, although that apartment is very close to the venue, it needs a digital key to enter. Luckily, a friend from Thailand arrives earlier. We call him via free wifi in Crown Plaza Hotel to pick up.

First Walking Course

On the second day, I take a walking course along the Yellow River. I used two different bridges to go and back to my hotel. This is my first impression of real life in China. They have such facilities as the futsal field, parks, and pavement along the river. However, urban areas still lack proper facilities. Some road is not asphalted yet. The image below is my first walking course path in the Lanzhou area. The distance of my walk is 4.3 km.

First walking course path

Monday, January 08, 2018

(Tidak) Merayakan tahun baru (2018): kemudahan menjalankan ibadah di Jepang

Tahun baru 2018.

Berawal dari keinginan untuk mengisi liburan dengan kegiatan yang postif. Memanfaatkan musim libur, awalnya "kami (saya + Dwi Prananto)" ingin menggunakan 18 kippu, tiket terusan murah meriah yang yang bisa dipakai untuk semua jenis kereta express dan local. Namun, karena seat kereta Moonlight Nagara sudah habis, kami memutuskan untuk naik bis. Pada (perayaan) Tahun baru ini, kami mendapatkan kemudahan menjalankan ibadah (sholat) di beberapa public space di Jepang.

Tokyo

Kami berangkat dari Nomi (能美市) jam 8 malam. Dengan menggunakan bus shuttle dari kampus menuju Tsurugi eki (鶴来駅). Dari Tsurugi dilanjut kereta hokutetsu (北陸石川線)  ke nishi-kanazawa (西金沢)/shin-nishikanazawa (新西金沢), dan dengan JR ke Kanazawa. Bus ke Tokyo berangkat dari Kanazawa eki (nishi gate) jam 22.15, dijadwalkan sampai di Tokyo ikebukuro jam 7.10, namun agak terlambat, jam 7.30. Pesan tiket Bus bisa lewat web ini, dan bayar via kombini atau credit/debit card. Jangan takut, bis ini amat sangat nyaman, lengkap dengan penutup kepala dan tempat kaki yang membuat tidur menjadi pulas.

Dari Ikebukuro Sunshine bus terminal kami berjalan menuju stasiun Ikebukuro. Dari Ikebukuro kami naik Yamanote Line ke Ueno untuk menuju ke Space hostel. Harusnya ada eki yang lebih dekat, yakni Iriya. Karena belum tahu, kami turun di Ueno dan jalan ke Space hostel. Kelebihan hostel ini, selain murah juga bisa check in lebih pagi, jam 08.00 JST. Hostel ini juga dekat dengan Ueno koen, zoo, National Museum dan beberapa obyek wisata lainnya.

Tuesday, December 26, 2017

Kembali ke Jepang: Life at Nomi

Tak terasa, sudah tiga tahun saya meninggalkan Jepang, tepatnya 3 tahun 3 bulan. Alhamdulillah, Allah menakdirkan saya kembali ke Jepang melalui MEXT. Melalui seorang teman, saya mendapat informasi tentang beasiswa MEXT, kemudian saya apply beasiswa tsb, wawancara dan alhamdulillah diterima. Saat bekerja di Jepang dulu, saya sudah beberapa kali apply beasiswa dan gagal. Saya sendiri bisa ke Jepang saat itu dengan beasiswa Jasso, kemudian bekerja di sebuah perusahaan Jepang di Mie-ken. Pelajaran yang bisa diambil, jangan takut untuk mencoba. Puluhan kali saya mencoba mendaftar beasiswa (Jepang) sejak S1, kemudian setelah lulus S2, kemudian setelah jadi PNS, akhirnya berbuah. Sebelumnya saya diinstruksikan untuk mendaftar beasiswa ke Eropa, namun hati kecil saya ingin kembali je Jepang, lingkungan dimana saya sudah terbiasa. Dan Tuhanpun mengabulkannya, Aamiin.

Saya masih ingat betul email terakhir dari calon supervisor yang mereject aplikasi saya, beliau menulis: "I regret to tell you this bad news, but I am hoping your fruitful stay in Japan", dan alhamdulillah, insyaAllah menjadi kenyataan.

Friday, November 03, 2017

Sightseeing in Takayama dan Shirakawa Go

Date & Time: Saturday, October 28th, 2017 7:50 - 19:00
Destinations: Takayama, Shirakawa-go
Participants : 40 International Students, 4 Staffs of International Student Section
Total: 44 participants
Fee: JPY 1700

Shirakawa go from the view point

Time table:
07.50   Leave JAIST
09.15   Rest at service area
10.15   Arrive at Takayama
12.45   Leave Takayama
13.00   Lunch at Festa Forest
13.45   Leave for Shirakawa Go
14.45   Arrive at Shirakawa Go
16.45   Leave Shirakawa Go
18.00   Rest at rest area
19.00   Arrive at JAIST

Resume:

Wednesday, August 02, 2017

A Trip to Skocjan Caves - Slovenia from Trieste - Italy

This summer I got an offer again, a summer school on CODATA-RDA research data science in ICTP Trieste. The school is hold from Sunday to Friday, it is off on Saturday and Sunday. Take the moment in Europe, I do googling to some tourism place in Slovenia close to Trieste. Yup, Slovenia. This is the fourth time I went to Trieste, but I never go that neighbor country of Italy. After some googling, I found Skocjan Cave in Divaca, it is not so far from Trieste and can be reached by bus and Train.

So I have looked for how reach to Skocjan cave from Trieste. I found the route is Trieste - Opicina (by bus) - Divaca (by Train). The Google didn't show us much information, but gives us some link to explore. Some traveler on the tripadisor suggest to use tram to Opicina continued by train. The problem is the tram is not operated since 2016 until now (July 2017). However, there is bus number 42 from Piazza Oberdan (Trieste) to Opicina. So the route is, bus number 6 Grignano - Oberdan, Continued to bus number 42 Oberdan - Opicina.

A post shared by Bagus Tris Atmaja (@bagustris) on


Friday, June 30, 2017

Gambir, Monas dan Istiqlal (termasuk cara apply visa Italia)

Ini bukan tentang Traveling, tapi ini tentang memanfaatkan waktu dan tempat agar tak terbuang sia-sia. Ya, daripada menunggu di stasiun atau ruang tunggu. Ada waktu yang perlu dimanfaatkan, dan ada tempat yang dapat dikunjungi, inilah tiga tempat dalam satu kompleks yang dapat dijangkau dengan berjalan kaki itu. Biasanya saya mengunjungi ketiganya saat mengurus visa (di Kedutaan Italia).

Stasiun Gambir
Ini adalah stasiun paling modern di Jakarta menurut saya. Meniru model stasiun di Eropa dan Jepang, rel sepur atau gauge berada di atas sedangkan di bawahnya digunakan untuk administrasi dan pertokoan. Satu kekurangan stasiun ini: belum melayani rute KRL. Jika stasiun ini digunakan untuk melayani rute KRL, perjalanan ke semua sudut kota Jakarta akan mudah dijangkau.

Jika berangkat dengan kereta, dari Surabaya misalnya, ada beberapa kereta dari Surabaya Gubeng yang berhenti di stasiun Gambir, jika tidak anda bisa menggunakan transjakarta menuju stasiun ini. Per Juni 2017, kereta Bima dan Bangunkarta berhenti di stasiun Gambir dari Surabaya Gubeng. Sedang dari stasiun Pasar Turi, ada kereta Sembrani dan Argo Bromo Anggrek, baik yang berangkat pagi jam 08.00 WIB, atau yang berangkat malam, Argo Bromo Anggrek Malam, berangkat jam 20.00 WIB.

Jika berangkat menggunakan pesawat terbang, ada bus Damri di ketiga terminal yang menuju stasiun Gambir. Per Juni 2017, tarifnya masih empat puluh ribu rupiah. Waktu tempuh dari Bandara Soekarno-Hatta sampai ke Gambir biasanya 40 menit.

Tugu Monas
Tugu Monas terletak tepat di belakang stasiun Gambir. Dari stasiun, anda cukup berjalan kaki menuju bagian belakang kiri dan disitulah pintu Monas terletak. Kalau di Monas dan punya uang saku, sempatkan-lah naik ke puncak tugu agar bisa melihat Jakarta dari Puncak Monas. Tiket lift-nya sebesar sepuluh ribu rupiah.
Tugu Monas, dari pintu belakang stasiun Gambir

Monday, April 03, 2017

Candi Sukuh dan Candi Ceto

Candi adalah warisan cagar budaya yang bisa dipelajari dan diambil ilmunya. Biasanya, candi terletak di tempat dengan pemandangan yang indah sehingga view candi tersebut akan terlihat menakjubkan, khususnya di saat sore hari. Dua candi berikut terletak tidak jauh dari Magetan, tepatnya di Kecamatan Jenawi, Kab. Karang Anyar Jawa Tengah. Candi Sukuh dan Candi Ceto merupakan peninggalan Majapahit di lereng barat Gunung Lawu di akhir kejayaannya, pertengahan abad ke-15.



Rute Perjalanan

Saya berangkat dari Yogyakarta, setelah mengunjungi Air Terjun Grojogan Sewu, kami melanjutkan perjalanan ke Candi Sukuh dan Candi Ceto. Tepat di jalan keluar pintu II Grojogan Sewu, ada jalan ke kanan naik, jalan tersebut menuju Candi Sukuh, kira-kira 20 menit dari Pintu II Grojogan Sewu (lihat peta dibawah). Jalan tersebut sangat menanjak, jika anda berboncengan, saya sarankan salah satu turun ketika sangat menanjak. Selebihnya, jalanan sangat lempeng dan aman dikendarai dengan sepeda motor. Pada peta di bawah, saya mengambil jalan langsung menuju Candi Sukuh dari pintu bawah Grojogan Sewu (via Jl. Tengklik).


Thursday, March 23, 2017

Air Terjun Grojogan Sewu

Ini adalah kali kedua saya ke Grojogan Sewu, sebuah destinasi wisata air terjun di lereng Gunung Lawu sebelah barat, wilayah kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Perjalanan saya ke Air terjun ini sebelumnya bersama teman-teman SMP saya saat semester terakhir kuliah melalui pintu I dari arah Magetan. Berbeda dengan saat itu, kali ini saya masuk lewat pintu II dari arah barat (Solo/Yogya).
Panaorama utama di obyek wisata utama Grojogan Sewu

Rute perjalanan

Saya berangkat dari Jogja, dengan mengandalkan google maps, dan mencari jalur paling alternatif. Dari tiga pilihan yang ditawarkan google maps, saya memilih rute paling bawah. Kami hanya berdampingan dengan bis sampai Klaten saja, selebihnya jalan sendiri-sendiri. Jalan yang ditawarkan google maps ini menakjubkan, kadang jalannya besar, tapi kebanyakan jalan kecil pedesaan, bahkan kadang jalan di area persawahan dan perbukitan yang sangat sempit. Hebatnya, jalan tersebut betul-betul tembus ke Tawangmangu. Dari jogja ke Tawangmangu kurang lebih kami tempuh dalam 3 jam.

Saturday, March 18, 2017

Hutan Pinus Imogiri

Suatu ketika saya di Jogja dan saya hanya punya waktu kurang lebih tiga jam untuk jalan-jalan. Kemana saya akan pergi...? Malioboro? Keraton Yogya..? Benteng Vredeburg...? Ah, semua tempat itu sudah saya kunjungi. Saya ingin sesuatu yang baru, tempat yang lagi trend dan booming. Kali ini, Hutan Pinus Imogiri menjadi pilihan saya. Wisata alam yang terletak di dekat makam raja-raja jogja tersebut menawarkan panorama jogja dari atas bukit Imogiri yang murah dan mempesona. Berikut kisahnya.


Rute Perjalanan
Untuk lebih mudahnya, saya akan memulai perjalanan dari pertigaan flyover Janti. Jika anda naik kendaraan umum dari arah Solo, akan akan melewati Bandara Adi Sucipto, dan setelah itu masuk Jogja maka akan dihadapkan pada pertigaan Janti. Jika anda menggunakan kendaraan umum (Bis/kereta), akan lebih mudah menggunakan Gojek atau Uber karena saat ini belum ada angkutan umum menuju Imogiri. Dari Janti, rute menuju hutan Pinus Imogiri dapat dilihat pada peta berikut.

 

Tuesday, March 07, 2017

Pantai Gatra, Clungup, dan Tiga Warna

Ini adalah petualangan saya kesekian kalinya setelah off (Setelah petualangan terakhir mengunjungi Ambarawa). Perjalanan yang amat sangat mirip sekali dengan Sempu Island in Advanture (Read this!) Lokasinya pun tidak berbeda jauh dengan tempat tersebut, hanya beberapa meter dari Sendang Biru, pantai tempat menyeberang ke Pulau Sempu. Perjalanan ini tentang Raja Ampat-nya Jawa Timur: Pantai Gatra, Clungup dan Tiga Warna.
Pantai Clungup, view 180 derajat
A post shared by Bagus Tris Atmaja (@bagustris) on

Saturday, December 31, 2016

Catatan Pendakian Gunung Kinabalu

Kinabalu adalah nama sebuah kota, sekaligus gunung, di negara bagian Sabah, Malaysia. Gunung Kinabalu merupakan bagian dari Kinabalu Park (taman nasional) yang dilindungi oleh World Heritage Site. Gunung tersebut adalah gunung tertinggi di Malaysia. Kisah berikut merupakan catatan perjalanan seorang teman ketika mendaki Gunung Kinabalu selama 4 hari perjalanan. Pendakian tersebut dilakukan pada 25-28 Februari 2012(4 hari). Saya edit dan moderasi sedikit agar tidak berantakan. For English version, you can read it here.

Gunung Kinabalu dilihat dari Kundasan (sumber: Wikipedia)


Dua Minggu sebelumnya… 

Berawal dari ajakan camer saya bergegas menyiapkan dokumen, terutama paspor, dan peralatan gunung saya yang udah hampir setahun terbengkalai. Perasaan sungkan, semangat dan penasaran bercampur aduk, karena ini pertama kalinya saya naik gunung di luar negeri, bareng rekan perjalanan yang sangat berbeda dari perjalanan saya mendaki sebelumnya.

Day 0 

Setelah packing, kami bergegas ke Juanda untuk perjalanan ke Jakarta. Karena pesawat Air Asia ke Kota Kinabalu (disingkat KK) hanya ada dari Jakarta. Alhamdulillah pesawat on time. Di Terminal 3 Soetta kami bertemu rombongan dari Jakarta dan Bandung. Sedangkan rombongan dari Batam, Malaysia, dan Singapura langsung ke KK. Rombongan tersebut adalah para WNI yg kerja disana. Fyi, perjalanan kami semua ke Gunung Kinabalu berada dibawah naungan Karas Adventure yang bertanggungjawab atas semua, mulai transport, akomodasi, perijinan, dan asuransi. Gampangannya, semua peserta tinggal bayar, terima beres, tapi tetap memperhatikan aturan umum pendaki gunung, terutama fisik dan mental.

Saturday, December 03, 2016

Berkelana dengan kereta tua di Ambarawa

Baru kali ini saya sangat menikmati perjalanan seorang diri di tempat wisata di tempat lokal. Perjalanan kali ini berasa perjalanan di Eropa atau di Jepang, cuma beda tempat, Indonesia tidak kalah dengan Eropa dan Jepang. Perjalanan seorang diri, naik kendaraan umum, tanya sana-sini, dibantu google maps yang sangat helpful dan saya benar-benar menikmatinya. Perjalanan dengan style yang mengingatkan saya akan perjalanan ke Inuyama castle (still my best adventure) dan perjalanan ke Goa grotta gigante, gua terbesar di Eropa saat itu. Here is the story..

Rute jalur kereta Api Ambarawa-Tuntang yang melintasi Danau Rawa Pening

Start perjalanan saya adalah dari daerah Srondol, area Sukun, kota semarang. tempat tinggal saya selama tiga minggu ini. Saya naik bis dari terminal bayangan sukun (depan swalayan Ada) menuju Bawen. Rute yang saya tuju adalah Sukun - Bawen - Ambarawa. Dari Sukun ke Bawen seharusnya tiket tidak mahal-mahal amat, mungkin sekitar 5000 - 10000, tapi saat itu saya ditarik 20000, tanpa diberi karcis pula. Tapi biarlah, itu mental masyarakat kita saat ini, atau memang ada tarif minimal karena bus-nya tujuan purwokerto? Dalam waktu sekitar setengah jam perjalanan sampailah di terminal Bawen, dari sana langsung keluar nyegat angkot (elf/colt, biasanya warna merah) menuju Ambarawa. Tarif dari Bawen ke Ambarawa adalah tiga ribu rupiah.

Saturday, November 26, 2016

Places to Visit in Semarang

While you are in Semarang, and you have one day left without any activity, or you came to Semarang for travelling, there are several interesting places to visit in Semarang, the capital of Central Java province. Why the capital of central java is Semarang, not the Solo, previous sultanate of Surakarta? Well, I think it is due to historical reason. This city is the oldest in central Java, built by Islam spreader, then the VOC was came and built the city. Semarang derived from the name of "asem" (tart) and "arang" (charcoal). So here are my list of one-day traveling in Semarang.


1. Lawang Sewu

Lawang Sewu ("Thousand Doors") is a landmark in Semarang, Central Java, Indonesia, built as the headquarters of the Dutch East Indies Railway Company. The colonial era building is famous as a haunted house, though the Semarang city government has attempted to rebrand it. The Former names of this building Administratiegebouw Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij. The Groundbreaking was started in 1904 and Completed in 1919, but it was opened since 1907. Now the Owner is PT Kereta Api (Indonesia railway company). This building shows very strong construction, the wall thick is twice of current brick length. You can see the images and its blueprint below.
A photo posted by Bagus Tris Atmaja (@bagustris) on


Monday, September 28, 2015

Venice Again!

Alhamudlillah, ini kali keduanya saya ke Italia dalam tiga bulan ini. Berbeda dengan perjalanan sebelumnya, perjalanan kali ini lebih smooth karena saya sudah menguasai medan. Inilah catatan perjalanan yang semoga berguna untuk anda yang akan ke sana. Oya, tujuan akhir saya sebenarnya bukanlah venice, tapi Trieste, kota tetangga Venezia alias Venice.
Kanal Venice

Surabaya - Jakarta

Seperti biasa, home base keberangkatan saya adalah kota pahlawan. Karena pesawat dari Jakarta ke Venice via dubai berangkat sore (jam 17.00) saya memilih penerbangan surabaya-jakarta di waktu dhuha, yakni sekitar jam 10.00. Berangkat dari rumah sekitar pukul 7.30 sambil memulai aktivitas sabtu pagi menambah semangat perjalanan saya saat itu. Saya memilih citilink sebagai maskapai yang saya gunakan dari Surabaya ke Jakarta karena bisa diandalkan, kalaupun molor (telat/delay) juga masih dalam hitungan menit, berbeda dengan maskapai sebelah yang telatnya unlimited. Karena bukan connecting flight (Sby-Jkt) waktu keberangkatan ini harus diperhitungkan agar punya waktu untuk mengambil bagasi dan pindah terminal, idealnya minimal 2-3 jam. Dhuhur saya sampai jakarta, ambil bagasi, naik shuttle bis dan masih punya waktu untuk wifi-an sebelum check in.

Sunday, September 13, 2015

Sightseeing in KL: KLCC, Merdeka Square and Central Market

Once upon time in KL (Kuala Lumpur), Malaysia, I have plenty of time to go around. While staying in UTM Campus which is close to the downtown, I exploit my time for city sightseeing. We start our journey from Damai station which is located near UTM KL campus. By LRT (light rapid transport) we stop in Pasar Seni station.

Merdeka Square
The first destination of this City sightseeing is Merdeka square, like "aloon-aloon" in every city in Indonesia. Once known as Padang (field), this vast lawn was the cricket pitch belonging to the neighboring Royal Selangor club. At midnight on 31 August 1957, the Union flag was lowered and the Malayan flag raised for the first time right here, a hugely symbolic event signifying the end of British rule over Malaysia. The field was officially renamed on 'Dataran Merdeka' on 1 January 1990.


Sunday, August 09, 2015

Welcome to Kuala Lumpur

Ini adalah kali pertamanya saya mengunjungi Kuala Lumpur, setelah beberapa kali transit di Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Berbeda dengan workshop sebelumnya, tiket perjalanan course kali ini di-handle sepenuhnya oleh panitia (AUN/SEED-Net), jadi kita tinggal terima jadi e-ticket, terus berangkat. Thanks to the committee!



SBY - JKT - KL
Sebetulnya, akan lebih mudah naik AirAsia dari Surabaya ke KL daripada naik Garuda. Namun karena peraturan, kita dibookingkan pesawat Garuda dengan rute Surabaya - Jakarta - KL, total hampir dua belas jam saya habiskan untuk perjalanan itu. Never mind, karena kita tidak mengeluarkan uang sama sekali. Berangkat dari rumah jam 7 pagi, sampai di KLIA hampir jam 7 malam. Setelah itu, kita mencari transportasi ke penginapan.

Saturday, July 11, 2015

A one day trip in Trieste, Italia

Trieste adalah kota kecil di perbatasan Italia dan Slovenia, tepatnya di utara timur (timur laut) Italia. Kisah kedatangan saya di kota ini bisa dibaca di sini. Suatu ketika di hari minggu, saya tidak mempunyai agenda, saya putuskan untuk keluar naik bis, tidak tahu kemana, biarlah langkah kaki yang memutuskan.

Di Trieste, tiket bus anda tidak diperiksa. Lebih longgar daripada di Jepang. Jadi, bisa saja anda naik bus tanpa membeli tiket, tergantung kejujuran masing-masing. Saya naik bus nomor 6 dari Adriatico Guest House (AGH), dan berhenti dimana orang-orang juga berhenti, bus stop (halte) setelah stasiun Trieste Centrale.

Turun dari bus, saya juga berjalan mengikuti arah kebanyakan orang berjalan, dan saya menemukan tempat-tempat berikut yang sebelumnya sudah terbayang secara visual dari internet.

Canal Grande di Trieste
Merasa berada di Venice, itulah yang saya rasakan ketika menjumpai kanal ini. Namun saya ingat, ini Trieste, bukan Venice. Inilah Canal Grande di Trieste! Tidak banyak landscap memang, namun perpaduan kanal dan bangunan di ujung kanal tersebut mengingatkan kita pada zaman Romawi kuno. Tempat romantis ini sangat cocok untuk minum kopi di sore hari, sambil bercengkerama memandang laut Adriatic

Canal Grandi di Trieste

Monday, June 29, 2015

From Surabaya to ICTP Trieste

Perjalanan kali ini agak chaos. Bagaimana tidak, sejak dari Surabaya - Jakarta sudah delay (1 jam), kemudian Jakarta - Kuwait (via Kuala Lumpur) juga delay (3 jam). Terakhir dari Kuwait ke Roma delay juga (2 jam). Hal ini mengakibatkan saya tidak konsen dalam mengambil keputusan saat sampai di stasiun tujuan. Ok, this is the story.

Surabaya - Jakarta (1,5 hour)
Kali ini saya menggunakan maskapai favorit saya, citilink. Tidak biasanya citilink telat, dari jadwal seharusnya jam 13.25, baru jam 2.30 pesawat tersebut boarding. Dan yang lebih parah lagi, keterlambatan tersebut tidak diumumkan, kita dibiarkan menunggu tanpa kejelasan. Sepertinya pelayanan citilink sudah turun, tapi semoga tidak, semoga hanya kali ini saja.

Jakarta - Kuwait
Sejak datang, papan display digital di dalam Bandara Soekarno Hatta sudah menunjukkan kalau pesawat ini terlambat tiga jam, dari seharusnya jam 11 malam, menjadi jam 2 dini hari. Saya manfaatkan waktu tersebut untuk nge-charge hp dan laptop. Ada snack dan kopi untuk mengkompensasi keterlambatan tersebut, saya manfaatkan untuk supply sebelum sahur nanti di pesawat. Jam 2-an, pesawat Kuwait meluncur, dalam dua jam sampai di Kuala lumpur, dan transit disana selama satu jam. Di pesawat dapat makanan yang saya gunakan untuk sahur, kemudian saya lanjutkan sholat subuh di pesawat tersebut. Karena langsung menuju Kuwait setelah itu, penumpang tidak diturunkan selama di Kuala Lumpur, ini pengalaman pertama kalinya saya transit on the plane, biasanya kalau transit ya turun. Pesawat berangkat tepat waktu dan itu akan menjadi perjalanan terlama kali ini, 7 jam. Alhamdulillah saya bisa tertidur saat itu, dan saat bangun sudah hampir mencapai Kuwait. Welcome to Kuwait, welcome to Arab!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...