Tragedi Uang Receh

Sebelum ane cerita tentang tragedi yang memalukan ini, ane ingin sedikit ngomong lebar panjang tentang sholat di masjid. Salah satu kewajiban seluruh umat muslim di dunia buat yang laki-laki dan jantan kayak ane adalah sholat berjamaah di masjid. (jama..ah.. nggee..) Ya, insya Allah ini pendapat yang kuat walau ulama yang berpendapat gak makan biskuat. Ente bayangin aja sob, dalam peperangan yang berkecamuk hebat, di mana debu-debu berterbangan, teriakan membahana mengudara, darah bertumpah ruah, bunyi pedang berdenting-denting *ting ting bukan permen, ting ting bukan biskuit, Rasulullah nyuruh sahabat-sahabatnya buat sholat jamaah. Lah, otomatis kita yang aman-aman, adem ayem, dan santai kayak di pantai lebih pantes lagi sholat jamah.

And then, ada kisah nih, tapi bukan dongeng sebelum tidur. Ini kisah tentang seorang sahabat Nabi yang buta, gak bisa liat. Jadi, si tunanetra (biar lebih sopan dan keren) ini sholat ke masjid dipapah oleh dua orang. (Ya Allah, jangan jadikan hamba buta karena itu akan nyusahin orang di sekitar ane. Aamiin). Terus, dia nanya ke Rasulullah tentang kondisi dia, boleh gak untuk gak sholat di masjid. Rasulullah mengiyakan. Tapi ketika mau beranjak, rasulullah manggil tuh si tunanetra, dan nanya ente denger adzan gak. Si tunanetra bilang iya. Yo wes, kalo gitu ente tetap ke masjid, kata Rasulullah. Wow. Itu buta bung. Lalu bagaimana dengan kita? Jreng, jreng. Hadisnya shohih lo. Laa roiba fiih (kalo mau tau artinya baca arti ayat al-baqoroh ayat kedua). Ups, sorry, kok jadi ceramah sih. Padahal kan ane belum dapat ijazah S1 buat ceramah di mimbar jum’at. 2 tahun lagi. Hiks. *eh, sekarang tukang becak bisa jadi khotib, naf! Baca lebih lanjut

Goa Jepang

Sebelumnya, ane sempat bingung, yang bener itu gua atau goa sih. Setelah melalui proses penelitian panjang sekitar 2 menit buka software bahasa Indonesia (bisa download gratis di sini), akhirnya ketemu juga jawaban yang sesuai EYD yang baik dan benar: gua. Tapi, setelah mikir, eh, ntar dikirain judulnya gua orang Jepang, jadi diganti jadi goa. Ya, gini gini ane cinta Indonesia. Rasa nasionalisme itu gak dipuji dan gak dicela dalam Islam. So, sah sah saja.

Karena dulu SMP dan SMA ane berteman dengan orang-orang pintar (bukan paranormal), gak heran kalo punya temen yang kuliah di UI, ITB, dan universitas keren dah. (sayangnya gak ketularan pintar). Bahkan beberapa temen malah kuliah di Malaysia, Cina, dan lain-lain, alias luar negeri. Jadi terbersit perasaan ingin ke luar negeri. Asa pun membumbung tinggi menembus kabut dan awan putih yang selembut kapas itu. Duh, kesambet. Baca lebih lanjut

Kucing Malam

Don’t judge an article by a title. Bener gak sih tulisannya. Kali-kali aja ada kurator bahasa inggris yang hobi ngurusin typo-typo dan grammar yang ancur dalam bahasa inggris. Jadi jangan anggap tulisan ane kali ini bernuansa romantis. Ya, kali ini ane akan membawakan kisah yang ada nuansa horornya sedikit. Kucing, atau yang dikenal dengan bla bla (nyebut nama latin) adalah hewan yang berada di dekat kita, menyatu dengan lingkungan kita, dan banyak di antara kita –bangsa manusia- memeliharanya. (gak penting banget lo naf).

Sebelumnya, akan ane deskripsikan sedikit  (ceileh, bahasanya) tentang kasur ane. Sebagaimana kamar asrama pada umumnya, ranjangnya dua-dua gitu. Jadi satu di atas, satu di bawah. Alhamdulillah, ane dapet ranjang di bawah. Kalo di atas kan repot bolak-balik naik tangga. Habisnya ane kan superactive gitu. Dikit-dikit ambil minum, dikit-dikit ke kamar tetangga, dikit-dikit ke kantin, ya serba sedikit sih, tapi tetep aja bikin repot. Nah, di atas kasur ane itu, ada lemari kayu yang merangkap meja, hasil karya temen sekelas, Heru. Jadi, di sinilah ane meletakkan buku-buku yang banyak beud itu dan tempat laptop kesayangan ane bersemayam. Kalo posisi tidur, kaki ane masukkan ke bawah lemari berkaki itu.
Baca lebih lanjut

High Heels, Ayam Bakar dan UAS

Assalamu ‘alaikum, kawan. Apa kabar? Semoga hasil UAN bagi yang udah UAN memuaskan. Perkenalkan, nama ane Hannaf. Ya, panggil aja gitu. Hari ini hari sabtu. Bukan sembarang hari sabtu lo. Why? Karena hari ini adalah hari pertama ujian akhir semester empat. Itu artinya, sudah hampir setengah perjalanan menjadi seorang mahasiswa ane lakoni. Halah. Itu artinya, kurang dua minggu lagi ane akan pulang dari merantau ke pulau seberang tanpa jembatan penyeberangan. Halah lagi. Dan di tanggal ini, yaitu 9 April, setahun yang lalu, adalah awal perjalanan pulang kedua kalinya ke Palembang, ranah yang dirindukan.

Pertama-tama, ane ucapkan alhamdulillah, segala puji hanya, hanya, dan hanya milik Allah, karena ane lolos audisi menulis buku antologi bersama temen-temen BMGers. Keep writing, friend! Tema audisi itu anti galau gitu, jadi ya ane harus membuktikan bahwa ane gak akan galau lagi. Hoho. (Ketauan suka bergalau ria) Kalo kata Ibu Kartini itu, habis gelap terbitlah terang, yang terilhami surat sapi betina alias al-Baqoroh, ane justru bilang habis galau terbitlah move on, yang terilhami tweet seorang BMGers yang di-RT-in oleh mas Jonru di twitternya. (Itu mah bukan ilham) By the way, ini buku kedua yang memuat tulisan ane lo. Doakan sebentar lagi buku ane beneran terbit ya. Allahumma aamiin. Baca lebih lanjut