Singkong yang kita tanam,
tumbuh tak seberapa.
Di musim angin
kita bongkar,
dijemur berhari-hari,
kering sempurna jadi tepung.
Nasi thiwul dinikmati bersama.
Sebagian diserahkan pada hujan
agar alam membantu pemeraman.
Pelan, putihnya memudar
jadi gatot,
yang kita nikmati
di beranda saat hujan,
ditaburi parutan kelapa.
Rasa Bertahan
Daun-daun yang Pergi
Ada sekumpulan bambu,
pelan-pelan ditinggalkan daun.
Angin menariknya jauh,
bergumul dengan debu
di halaman rumah.
Kukumpulkan dalam tumpukan
di sudut halaman–
bahan bediang,
bersama daun jati.
Singkong yang hanya sepotong
disisipkan sampai kulitnya hitam
siap menjadi santapan.
Kenangan sederhana
tetap hangat
bersama seteguk rindu.
Langit Tetap Biru
Daun-daun meliuk tenang,
di sudut kebun,
bersisian.
Aku berdiri menatap
jati yang kehilangan daun-daunnya
sementara langit terbentang
biru.
Meja yang Menyimpan Kata
Di bawah lampu tembaga yang redup,
tangan pelan menulis.
Huruf-huruf adalah tetesan embun
yang diayun dari halaman kenangan
Di luar jendela,
malam menawarkan cerita
atap mengiringi rindu
yang tak selesai dibaca.
Kopi di cangkir kecil
tak lagi meliukkan uap,
hanya menyimpan aroma waktu
yang telah lalu.
Foto tua
menatap diam
di antara kata-kata yang tumbuh–
seolah ada kata yang belum selesai
dituliskan.
Gaplek dan Kopi Agustus
Agustus merayu gigil,
tanpa embun,
tanah retak menahan napas panjang.
Singkong berdiri dengan daun kering,
sebagian sudah diangkat,
dijemur jadi gaplek,
menyimpan cerita kemarau
di bawah matahari yang panjang.
Di tepi ladang,
kopi mengepul,
aromanya menyalami ayunan cangkul,
membongkar tanah liat,
agar harapan
tak ikut kering.
Secangkir Kata di Meja Kopi
Secangkir kopi di meja kayu,
uapnya menari di senyap pagi,
mengantarkan bisikan lembut
tentang kata-kata yang kau tinggalkan
di laman kecilmu.
Pahit kopi,
hangat cerita,
bertemu dalam adukan rasa.
Setiap goresan jadi tegukan,
setiap tegukan adalah baris tenang.
Sepenggal ingatan terselip,
menjadi benih kata
yang tumbuh perlahan,
menjadi utuh.
Sepenggal Pahit yang Bertumbuh
Rasa kopi,
putaran adukan,
berulang,
menyelinap pelan
dalam rajutan senja yang sunyi.
Entah dari mana
Sepenggal ingatan
Datang meraba,
perlahan tumbuh
diam-diam di hati.
Di cangkir tanpa ukiran,
pahitnya sampai dasar.
Di sana,
benih-benih kenangan,
tumbuh perlahan,
menyulam waktu,
menenun kata,
hingga hanya tersisa
senja,
secangkir kopi,
dan ada yang belum usai.
Hangat di Ujung Bibir
Seruput kopi,
pagi dingin merayap,
aroma pahit mengikat,
menyusup ke sela nafas,
membangunkan sunyi.
Cahaya di Jalan Pagi
Matahari mengurai cahaya,
menyentuh daun-daun hijau
yang melambai pelan.
Orang-orang berjalan perlahan,
sepeda berputar
di antara bayangan pepohonan,
dan waktu menetes lembut di udara,
detik yang memantulkan
ketenangan hari.
Lampu-lampu berdiri tegak,
menyimpan diam di tengah terang,
angin berbisik lembut,
tanpa tergesa,
tanpa kehilangan arah.
Pagi yang sederhana,
mengajarkan
terang tak selalu datang
dengan suara.
Cermin di Petak Sawah
Di kejauhan,
hijau perbukitan bernapas,
pepohonan menunduk
rapi dalam barisan
Angin membawa harum
tanah basah,
seperti bisikan alam
yang tak pernah tua.
Air di petak-petak
sawah memantulkan langit,
menyulam damai
di udara tropis
Kulihat wajahku
larut di bening air
mengingatkan jalan
yang lama tak kutapaki