tag:blogger.com,1999:blog-72173740305447873502026-04-08T12:34:36.452-07:00darkest holewho understand the poet? only the tomb. so to the tomb i confessed my dream. (c.b.)intjahhttp://www.blogger.com/profile/01523218798186178245noreply@blogger.comBlogger63125tag:blogger.com,1999:blog-7217374030544787350.post-30648914749180833422012-12-28T19:52:00.000-08:002012-12-28T19:52:24.375-08:00PUISI TENTANG SURABAYA<br /> <span style="font-size: x-small;">Para pembaca blog yang saya muliakan,</span><br /> <span style="font-size: x-small;">selamat bertemu lagi dengan saya, pengampu blog yang Anda cintai ini. Di penghujung tahun 2012 ini saya akan mengantarkan kepada para pembaca yang mulia dua puisi yang bertema Surabaya. Puisi pertama karya Agam Wispi dan puisi yang kedua karya Mashuri.</span><br /> <span style="font-size: x-small;">Terima Kasih. &nbsp;<b> </b></span><br /> <br /> <span style="font-size: x-small;"><b>Sajak Agam Wispi </b></span><br /> <br /> <span style="font-size: x-small;"><b>SURABAJA</b></span><br /> <br /> <span style="font-size: x-small;">tiap kita djumpa<br /> surabaja<br /> aku selalu remadja<br /> gembira kepada kerdja<br /> pasti kepada harapan<br /> surabaja<br /> laut dan kota<br /> rata</span> <br /> <span style="font-size: x-small;"><br />surabaja bau keringat<br /> bau kerdja<br /> ketegarannja harum semerbak<br /> dan malamnja malam bertjinta<br /> deritanja<br /> terisak-isak<br /> dalam dengus napas<br /> darah bergelora<br /> tjemara bersiut<br /> meliut semampai<br /> wilo merunduk<br /> merenung sungai<br /> besok ke laut<br /> dia akan sampai</span><br /> <span style="font-size: x-small;"><br />tapi ini!<br /> malam pelaut<br /> buih hidup<br /> jang menggapai!<br /> surabaja<br /> lebih remadja<br /> dalam bantingan usia</span><br /> <span style="font-size: x-small;"><br />kutjinta surabaja<br /> sebab dia kota kelasi<br /> kurindukan surabaja<br /> sebab trem berlari-lari<br /> (djakarta? Term diganti impala!)<br /> kusukai surabaja<br /> sebab betja dan taman<br /> ditepi kali<br /> kubanggakan surabaja<br /> sebab dia kota berani<br /> kusenangi surabaja<br /> sebab kedjantanan bernjanji<br /> kepahlawanan bergolak<br /> dari kantjah-kantjah jang menggelegak<br /> dan tahun-tahun kenangan<br /> jang diwariskan<br /> mogok pertama<br /> buruh kereta api<br /> zeven provincien<br /> buruh pelabuhan dan pelaut<br /> bersatu hari<br /> disiram hudjan peluru<br /> dan dentjing belenggu<br /> rantai besi, bendera pertama<br /> internasionalisme proletar<br /> dipantjangkan<br /> proklamasi ? sitiga-warna diturunkan<br /> dan dalam pelukan sang saka<br /> dipandjatkan kepuntjak perlawanan<br /> kemudian<br /> diantara serpihan bom<br /> jang mengojak<br /> dan kota jang terbakar<br /> terbakarlah semangat pertempuran<br /> njalanja<br /> tak terpadamkan<br /> hingga kini<br /> nanti<br /> dan kapanpun<br /> njalanja panas menempa<br /> badja kemerdekaan<br /> badja kehidupan<br /> ketika kita tidak lagi bertanja<br /> pilih njala atau pilih badjanja?<br /> dan kita merebut<br /> kedua-duanja!<br /> djauh mengatasi segala<br /> pekik pilu dan djerit sendu<br /> ratapan kehilangan dan erang kesakitan<br /> adalah bagai ibu jang melahirkan baji<br /> jang kemudian memeluk dan menjusui<br /> serta mengusap-usapnja dengan kesajangan kebahagiaan<br /> disitu Hari Pahlawan<br /> dilahirkan<br /> kko pesiar<br /> menunggu trotoar<br /> kelasi-kelasi<br /> melambaikan dasi<br /> jang bernama “kesenangan” memperpandjang umurnja<br /> maka itu djadi terlambat<br /> tapi bus dan truk tidak menunggu<br /> ajo, pulang djalan kaki!<br /> tjinta sudah ketinggalan<br /> ditembok-tembok kota<br /> o, ketika kapal merapat lego djangkar<br /> pelabuhan mengulurkan tangannja<br /> dan lampu kota mengerdipkan matanja<br /> dan bus-bus kadet menderu<br /> megah<br /> dan di tundjungan sikadet melangkah<br /> gagah<br /> putih-putih<br /> dan gadisnja dua<br /> jang satu pedang jang satu wanita<br /> dan si gadis punja mata kedjut pelita<br /> dan si pedang punja mata gelegak darah mudah<br /> si kadet djua permata dari lautan<br /> bukan main!<br /> namun adakah permata berkilau<br /> tanpa sebersit tjahja mentjekau?<br /> dan tiadalah angkatan perang<br /> tak bertulang-punggung<br /> kukuh<br /> merekalah<br /> kelasi dan pradjurit<br /> darat laut udara<br /> polisi<br /> milisia dari rakjat pekerdja<br /> tangan-tangan badja jang keras menghentam<br /> tidak perduli bom nuklir<br /> tapi tangan!<br /> tangan jang menentukan <br /> jang menghajunkan pedang kemenangan<br /> selama di djantungnja<br /> debur-mendebur<br /> gelora repolusi<br /> mengabdi rakjat pekerdja<br /> sokoguru<br /> buruh<br /> tani<br /> matahari tenggelam<br /> di djembatan wonokromo<br /> surabaja berdandan<br /> bagi malam berdesau<br /> tjemara<br /> tjadar kota<br /> jang disingkapkan<br /> surabaja<br /> napas merdeka<br /> jang dipertaruhkan<br /> pahlawan-pahlawan lahir<br /> pada djamannja dan diukur<br /> oleh pengabdiannja<br /> kepada rakjat<br /> dan hari depannja<br /> djaman lampaupun berlalu<br /> djaman baru datang<br /> melahirkan pahlawan baru<br /> namun pahlawan sebenarnja<br /> hanja tumbuh dalam lumpur dan debu<br /> pembesar-pembesar boleh bermatian<br /> orang-orang besar boleh berlahiran<br /> tenaga segar dari kepahlawanan<br /> djuga sekarang<br /> djika muda-mudi berperasaan<br /> merasakan hidup sampai ke tulang-sumsumnja<br /> dan jang tua-tua teguh<br /> membatu karang oleh hempasan gelora<br /> merekalah orangnja<br /> dan kebanjakannja<br /> tak bernama<br /> merekalah petani jang dirampas tanahnja<br /> kembali merebutnja dari setan-setan desa<br /> mereka jang berdjuang membebaskan dirinja<br /> dari belenggu perbudakan tanah<br /> dan buruh-buruh pelabuhan buruh pabrik<br /> jang beruntun-rutun pagi hari<br /> berkilat-kilat oleh keringat<br /> dan hitam oleh matahari<br /> pengangkut pasir jang menunggu<br /> perahu menghajut ke gunung sari<br /> betja jang berkerumun di lubuk djalanraya<br /> kko – kelasi – pradjurit<br /> jang ingat kepada asalnja<br /> pegawai-pegawai jang sadar kepada klasnja<br /> (bukan pemabok “karyawan jang mengingkari “makan-gadji”)<br /> si miskin-kota jang kehilangan desanja<br /> dan mengisi sudut-sudut gelap kota<br /> dengan kerdap-kerdip pelita<br /> petani-petani jang dirampok panennja<br /> dan tepat menghidjaukan bumi, memerahkan tanah<br /> pemuda peladjar mahasiswa jang membakar buku USIS*<br /> dan mengusir setan-setan ilmu dari amerika imperialis<br /> untuk mematahkan belenggu kebodohan<br /> ratjun kemerdekaan jang berbungkus kenikmatan hampa<br /> dan surabaja<br /> berderap dalam tempik-sorak<br /> meski bau tengik dan sarang malaria<br /> sama banjak njamuk dan lalat dimana saja<br /> tunggu! suatu hari pernjataan perang<br /> djuga kepadamu!<br /> disini ketegaran berkata sederhana<br /> keras dan langsung kehulu-hatimu<br /> jang sudah mati, ja sudah!<br /> jang hidup sekarang, menjiapkan repolusi<br /> dimana masing-masing beri djanji<br /> merdeka atau mati!<br /> bagi keringat kaum buruh<br /> bagi tanah-tanah petani<br /> bagi kepertjajaan kepada harapan<br /> MANUSIA<br /> ja, sekarang kita bertanja<br /> sudahkan tanah bagi petani?<br /> sudahkan keringat bagi kaum buruh?<br /> jang sudah – sedikit!<br /> jang belum – banjak!<br /> menteri-menteri tetaplah turun naik<br /> jang belum, kepingin djadi menterei<br /> jang djelek, tak mau turun<br /> jang baik, masih di podium<br /> dan rakjat tetap menuntut: kabinet nasakom!<br /> dan kabir-kabir main sunglap dengan peluru, wang, dan senjum<br /> dengan tuantanah dan imperialis?<br /> seketurunan! satu medja-makan dan sama-sama minum dan pemimpin-pemimpin munafik menghamburkan budi ikut berteriak “ganjang malaysia! Berdiri di atas kaki sendiri!”<br /> kemak-kemik pantjasila, manipol, djarek, sukarnoisme<br /> tapi main mata dengan modal monopoli<br /> gudang ratjun komunisto-phobi<br /> buruh phobi<br /> tani phobi<br /> partai phobi<br /> imperialisme amerika? Tunggu dulu!<br /> dan sardjana-sardjana membalik-balik bukunja<br /> tapi tak mengenal aspirasi tanahairnya sendiri <br /> dan seniman memabokkan diri dengan kepuasan murah<br /> tak tahu kemelaratan dan kebangkitan rakjatnja sendiri<br /> dan politikus mentjatut teori dengan “ala indonesia”<br /> munafik-munafik ini mau melupakan sumbangan dunia<br /> kepada sedjarah dan perdjuangan klas<br /> sungguh, kekerdilan yang memalukan dan hina<br /> adalah mereka jang mau menutup laut dengan telapak tangannja<br /> laut daripada kebenaran perdjuangan klas<br /> o, sudahkah keringat bagi kaum buruh?<br /> sudahkah tanah bagi kaum tani?<br /> jang menggarap!<br /> jang menggarap!<br /> jang menggarap!<br /> betapa berbelit-belit<br /> plintat-plintut<br /> tapi adakah jang lebih tegas dari kebenaran?<br /> sebab dia tak dapat digeser dari relnja repolusi?<br /> abad-abad telah menjumbangkan lokomotip-lokomotip raksasa<br /> jang menderu kentjang menembus belantara kegelapan<br /> dengan perdjuangan klas dan repolusi<br /> dengan marx, engels, dan lenin<br /> dengan mau tje-tung, bung karno, dan aidit<br /> dengan diri sendiri; rakjat tertindas<br /> antara sabang dan sukarna-pura<br /> di seluruh dunia dimana sadja</span><br /> <span style="font-size: x-small;"><br />o, djanganlah hanja membaca hurup-hurup<br /> tapi tak menangkap hakekat dan arti<br /> o, djanganlah sungai lupa kepada laut<br /> dan kemerdekaan tinggal abu tanpa api<br /> sebab kami<br /> surabaja<br /> sudah banjak mati</span><br /> <span style="font-size: x-small;"><br />sebab kepahlawanan sehari-hari<br /> tidak pada jang sudah mati<br /> berkata pemimpin besar repolusi<br /> djaman ini djaman konfrontasi<br /> pemimpin tengahan bitjara lain lagi<br /> katanja: perdamaian universil dan konsepsi</span><br /> <span style="font-size: x-small;"><br />dan perdamaian djadilah dewi ketjantikan<br /> dan pedang kemerdekaan ditumpulkan</span><br /> <span style="font-size: x-small;"><br />maka konsepsipun berlahiran diatas kertas<br /> dan kertas-kertas berhamburan setjepat inflasi<br /> mereka jang bekerdja dilaparkan oleh djandji<br /> mereka jang malas berpikir tanpa batas</span><br /> <span style="font-size: x-small;"><br />jang tak tahu ekonomi politik<br /> mau bikin ekonomi politik<br /> maka begitu naik djadi menteri<br /> harga beras melambung tinggi<br /> maka berkatalah rakjat suatu hari<br /> bisa sekarang bisa nanti<br /> stop!<br /> mau konsepsi apa lagi?<br /> kami sudah banting kemudi ke u.u.d empatlima<br /> kami sudah bikin manipol dan nasakom<br /> land reform dan dekon<br /> ajo, konfrontasi<br /> melawan tudjuh setan-desa<br /> imperialis amerika<br /> atau <br /> sebelum roda ini melindas<br /> minggir!</span><br /> <span style="font-size: x-small;"><br />kami mau repolusi<br /> kami mau buku dan pedang ditangan<br /> kami mau tanah dan bedil dibidikkan<br /> kami mau palu dan meriam didentumkan<br /> kami mau pukat dan kapal-selam berkeliaran<br /> kami mau indonesia dan rakjatnya jang gesit berlawan<br /> bagi repolusinya dan bagi dunianya<br /> bagi dunia dan bagi repolusinya</span><br /> <span style="font-size: x-small;"><br />dan surabaja<br /> senatiasa remadja<br /> dalam bantingan usia<br /> berdjuang<br /> beladjar<br /> kerdja</span><br /> <span style="font-size: x-small;"><br />kutjinta surabaja<br /> dia kota kelasi<br /> kurindukan surabaja<br /> sebab trem berlari-lari<br /> kusukai surabaja<br /> betja dan taman ditepi kali<br /> kubanggakan surabaja<br /> kota berani mati<br /> kusenangi surabaja<br /> kedjantanan jang bernjanji</span><br /> <span style="font-size: x-small;"><br />surabaja <br /> menghadang pukulan<br /> menghantam<br /> bertubi-tubi<br /> disini tjemara bersiut<br /> meliuk semampai<br /> dan wilo merunduk<br /> merenung sungai</span><br /> <span style="font-size: x-small;"><br />kelasi, djika besok kelaut<br /> djangan lupa kepada pantai</span><br /> <br /> <span style="font-size: x-small;">&nbsp; </span><span style="font-size: x-small;">Keterangan: *USIS adalah United States Information Service, aparatus propagandanya Amerika Serikat untuk mengedepankan kepentingan nasionalnya ke negara-negara asing.</span><br /> <br /> <span style="font-size: x-small;"><b>Sajak Mashuri</b> </span><br /> <br /> <span style="font-size: x-small;"><span style="font-weight: bold;">Ironi Kota Singgah</span><br /><br /> : Hotel Itu Bernama Surabaya, Kawan<br /><br />selat itu menyekat pipih geografi, kau menyebutnya: Surabaya<br />kota yang terbaca dari titik kecil: noktah hitam di peta, <br />di pinggir delta, di tepi laut Jawa<br />kau berhayat di antara kiblat-kiblatnya<br />ketika kita bertemu tanpa sekat, lalu kau<br />melihat sebarisan malaikat ---di Ampel, di Bungkul, berjamaat<br />atau tak terangkul di seberang semak-keramat<br />tapi aku terasing, buta, serupa pejalan yang tak sempat<br />melihat ujung tubuh: ber-Hujung Galuh, be-ruh<br />aku pun tak mampir berlabuh, tak parkir ke riuh <br />: bongkar-muat, ganti cawat, atau angkat sauh<br /><br />kau tetap saja berkisah dengan angka, tahun-tahun<br />tapi aku seperti tersekat di seperempat abad pertama<br />pasca 1900: saat segala genap menjadi ganjil<br />dan segala luapan demikian gigil<br />saat gelora masih membenih di asa: meletup ke degup<br />indra, seperti pelari dengan api<br />yang tak redup, meski hati terseret ke jalan-jalan mati<br />jalan penuh mimpi!<br /><br />lalu kau sebut 45: aku pun tersudut ke ruang nganga, <br />aku tak ingat sungguhkah gaung itu meraung<br />demikian agung; adakah tonggak: lingga yang menancap<br />tanah demikian tegap; lalu kau acungkan sahwat<br />: o, pahlawan, pahlawanku bertugu<br /><br />tapi aku pun seasing budak belian kembali,<br />ketika segala temali mengikatku lagi<br />kutapaki jalan-jalan penuh hantu, perempatan berbatu<br />kulihat mercu suar membubung tinggi, berkabut<br />aku terpana ke pesona <br /> : di lorong-lorong renjana <br />aku dipersilah dengan pantun penuh gairah: <br /><br />“Tanjung Perak, kapale kobong!<br />Mangga pinarak, kamare kosong!”*<br /><br />kau pun beringsut, seperti seorang yang mengigau<br />tapi aku bersorak, tanpa risau:<br />“inilah Surabaya, hotel tempat singgah<br />tapi bukan tempat berlibur, atau mengubur darah<br />segalanya lembur<br />seperti juga kapal-kapal yang berhenti lalu<br />berangkat, berganti-ganti<br />di sini, segala ranjang tak cukup dipandang<br />tapi dierami<br />silahkan merangkak, sebab segala sprei tak sengak<br />tak ada jerami, tak ada jejak<br />kecuali apak selangkang sendiri, yang kumal<br />ketika segala kemudi kembali ke asal<br />ke tujuan awal<br />di sini, kamar telah menjadi bujur sangkar<br />dan tak kenal lingkaran”<br /><br />kau pun turun, menghitung kesunyian demi kesunyian<br />tapi biografi telah terbelah, garis-garis itu saling patah <br />kau dapati dirimu batu<br />tak berayah-beribu ---kau sangsikan jejak<br />-jejak panjang, segepok riwayat nan keropok<br />ihwal pertempuran di delta<br /> antara ikan-buaya<br />lalu segalanya menjadi nama<br />kota, jalan, kampung, sungai, juga lorong-lorong keparat<br />tempat buaya darat bermunajat… <br />kau pun sangsikan segala sebab; kerna tak ada warta <br />yang lebih nyata kecuali kata-kata dusta<br />yang diulang ke berjuta<br /><br />aku pun tersampir seperti gombal lusuh<br />di pinggir lenguh ---aku tak hirau pada riuh<br />sejarah ingatanmu<br />kudapati tubuhku, kurayakan tubuhku<br />seperti persinggahan di tengah perjalanan<br />yang tak mengenal kenang<br />kenanganku pun hilang bersama sunyi<br /> : perempuan<br />yang selalu berharap diairi, di semak, di makam<br />di rumah-rumah yang berjajar dengan geletar<br /> <br />ketika kau mabuk<br />dan ambruk kedalaman luka tak berufuk<br /> : silam! <br />kuangkat bir hitam, kuingat pada anak terkutuk<br /> : diriku!<br />aku bangkit, kuangkat sauh, kulenguh langit<br />: “beri aku harapan untuk berlayar ke cakrawala<br /> tanpa rasa luka oleh perih kenang dan ingat”<br /><br />di seberang, kubangun kota-kota di hatiku<br />dengan batu-batu yang kucuri dari persinggahanku<br />agar aku tidak melupakanmu, <br />melupakan angka-angka<br />yang sempat kau hitung dengan deret aritmatika<br />yang tak kunjung kau ketahui jumlahnya<br />---kecuali waktu yang terus berputar<br />kau tetap tak tak ingin sesat di silam<br />dan terbenam bersama jangkar malam<br /> : kini telah 180 derajat berputar<br />tak ada alasan untuk membangun sangkar<br /><br />moga di milenium ini, kau tak lagi terpaku<br />pada paku silammu<br />tapi mengandangkannya di kalbu<br />lalu kau tulis deret rumus baru<br />: bahwa zaman telah berganti<br /> hotel itu harus diperbarui, dicat dan pugar kembali<br /> atau disucikan api…<br /><br /> Surabaya, 2006/9<br />* Di Tanjung Perak, kapal dilalap api<br />silahkan singgah sejenak, kamarnya tak berpenghuni </span><br /> <span style="font-size: x-small;"> </span> <div class="post-footer"> <div class="post-footer-line post-footer-line-1"> <span style="font-size: x-small;"><span class="post-author vcard"> </span></span></div> <span style="font-size: x-small;"><br /></span></div> intjahhttp://www.blogger.com/profile/01523218798186178245noreply@blogger.com1tag:blogger.com,1999:blog-7217374030544787350.post-64709535305022340502011-08-21T14:19:00.000-07:002011-08-21T14:23:42.880-07:00DUA KISAH CHARLES BAUDELAIRE<!--[if gte mso 9]><xml> <w:worddocument> <w:view>Normal</w:View> <w:zoom>0</w:Zoom> <w:trackmoves/> <w:trackformatting/> <w:punctuationkerning/> <w:validateagainstschemas/> <w:saveifxmlinvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:ignoremixedcontent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:alwaysshowplaceholdertext>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:donotpromoteqf/> <w:lidthemeother>EN-US</w:LidThemeOther> <w:lidthemeasian>X-NONE</w:LidThemeAsian> <w:lidthemecomplexscript>X-NONE</w:LidThemeComplexScript> <w:compatibility> <w:breakwrappedtables/> <w:snaptogridincell/> <w:wraptextwithpunct/> <w:useasianbreakrules/> <w:dontgrowautofit/> <w:splitpgbreakandparamark/> <w:dontvertaligncellwithsp/> <w:dontbreakconstrainedforcedtables/> <w:dontvertalignintxbx/> <w:word11kerningpairs/> <w:cachedcolbalance/> </w:Compatibility> <w:browserlevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> <m:mathpr> <m:mathfont val="Cambria Math"> <m:brkbin val="before"> <m:brkbinsub val="--"> <m:smallfrac val="off"> <m:dispdef/> <m:lmargin val="0"> <m:rmargin val="0"> <m:defjc val="centerGroup"> <m:wrapindent val="1440"> <m:intlim val="subSup"> <m:narylim val="undOvr"> </m:mathPr></w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"> <w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"> <w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"> <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"> <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"> <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"> <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"> <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"> <w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"> <w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"> <w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"> <w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"> <w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"> <w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"> <w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"> <w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"> <w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"> <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"> <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"> <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"> <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"> <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"> <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"> <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"> <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"> <w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"> <w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"> <w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"> <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"> <w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"> <w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"> <w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"> <w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"> <w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"> <w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 10]> <style> /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} </style> <![endif]--> <p class="MsoNoSpacing"><span style="font-size:85%;"><b style="mso-bidi-font-weight:normal">ORANG ASING</b>*)</span></p> <p class="MsoNoSpacing"><span style="font-size:85%;">Cerpen: Charles Baudelaire</span></p> <p class="MsoNoSpacing"><span style="font-size:85%;"> </span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-indent:.5in"><span style="font-size:85%;">“Siapakah yang paling kaucintai, lelaki penuh teka-teki? Ayahmu, ibumu, saudarimu ataukah saudaramu?”</span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-indent:.5in"><span style="font-size:85%;">“Aku tak punya ayah, ibu, saudari, ataupun saudara.”</span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-indent:.5in"><span style="font-size:85%;">“Teman-temanmu?”</span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-indent:.5in"><span style="font-size:85%;">“Dan kini kaugunakan kata-kata yang tak pernah aku pahami.”</span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-indent:.5in"><span style="font-size:85%;">“Negerimu?”</span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-indent:.5in"><span style="font-size:85%;">“Aku tak tahu di garis lintang apa ia diletakkan.”</span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-indent:.5in"><span style="font-size:85%;">“Keindahan?”</span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-indent:.5in"><span style="font-size:85%;">“Aku membencinya sebagaimana kaubenci Tuhan.”</span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-indent:.5in"><span style="font-size:85%;">“Baiklah, lantas apa yang kaucintai, orang asing yang tak biasa?”</span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-indent:.5in"><span style="font-size:85%;">“Aku menyukai awan…awan yang melintas…di atas sana...di atas sana…awan yang mengagumkan!”</span></p> <p class="MsoNoSpacing"><span style="font-size:85%;"> </span></p><span style="font-size:85%;"> </span><p class="MsoNoSpacing"><span style="font-size:85%;">*) Diterjemahkan oleh Indra Tjahyadi dari <i style="mso-bidi-font-style:normal">The Foreigner</i>, dalam Charles Baudelaire, <i style="mso-bidi-font-style:normal">Paris Spleen and La Fanfarlo</i>, translated with introduction and notes by Raymond M. MacKenzie (Cambridge: Hackett Publishing Company Inc, 2008), hal. 5.</span></p><p class="MsoNoSpacing"><!--[if gte mso 9]><xml> <w:worddocument> <w:view>Normal</w:View> <w:zoom>0</w:Zoom> <w:trackmoves/> <w:trackformatting/> <w:punctuationkerning/> <w:validateagainstschemas/> <w:saveifxmlinvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:ignoremixedcontent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:alwaysshowplaceholdertext>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:donotpromoteqf/> <w:lidthemeother>EN-US</w:LidThemeOther> <w:lidthemeasian>X-NONE</w:LidThemeAsian> <w:lidthemecomplexscript>X-NONE</w:LidThemeComplexScript> <w:compatibility> <w:breakwrappedtables/> <w:snaptogridincell/> <w:wraptextwithpunct/> <w:useasianbreakrules/> <w:dontgrowautofit/> <w:splitpgbreakandparamark/> <w:dontvertaligncellwithsp/> <w:dontbreakconstrainedforcedtables/> <w:dontvertalignintxbx/> <w:word11kerningpairs/> <w:cachedcolbalance/> </w:Compatibility> <w:browserlevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> <m:mathpr> <m:mathfont val="Cambria Math"> <m:brkbin val="before"> <m:brkbinsub val="--"> <m:smallfrac val="off"> <m:dispdef/> <m:lmargin val="0"> <m:rmargin val="0"> <m:defjc val="centerGroup"> <m:wrapindent val="1440"> <m:intlim val="subSup"> <m:narylim val="undOvr"> </m:mathPr></w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"> <w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"> <w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"> <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"> <w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"> <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"> <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"> <w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"> <w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"> <w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"> <w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"> <w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"> <w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"> <w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"> <w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"> <w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"> <w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"> <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"> <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"> <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"> <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"> <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"> <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"> <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"> <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"> <w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"> <w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"> <w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"> <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"> <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"> <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"> <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"> <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"> <w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"> <w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"> <w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"> <w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"> <w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"> <w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"> <w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"> <w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 10]> <style> /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} </style> <![endif]--> </p><p class="MsoNoSpacing"><span style="font-size:85%;"><b style="mso-bidi-font-weight:normal">KEPUTUSASAAN PEREMPUAN TUA</b>*)</span></p><span style="font-size:85%;"> </span><p class="MsoNoSpacing"><span style="font-size:85%;">Cerpen: Charles Baudelaire</span></p><span style="font-size:85%;"> </span><p class="MsoNoSpacing"><span style="font-size:85%;"> </span></p><span style="font-size:85%;"> </span><p class="MsoNoSpacing"><span style="font-size:85%;">Kerutan-kerutan di kulit perempuan tua mungil merasakan kegembiraan melihat bayi yang cantik yang dibicarakan banyak orang, seseorang yang ingin disenangkan oleh banyak orang; mahluk yang cantik ini serapuh dirinya, perempuan tua mungil, dan—juga seperti dirinya—tanpa gigi dan rambut.</span></p><span style="font-size:85%;"> </span><p class="MsoNoSpacing"><span style="font-size:85%;"><span style="mso-tab-count:1"> </span>Dan ia menghampiri bayi itu, berencana untuk membuat seutas senyum dan wajah penuh kegembiraan padanya.</span></p><span style="font-size:85%;"> </span><p class="MsoNoSpacing"><span style="font-size:85%;"><span style="mso-tab-count:1"> </span>Tetapi bayi yang takut itu meronta dibelaian perempuan jompo yang baik itu, dan memenuhi seluruh sudut rumah dengan dengkingannya.</span></p><span style="font-size:85%;"> </span><p class="MsoNoSpacing"><span style="font-size:85%;"><span style="mso-tab-count:1"> </span>Lantas perempuan tua yang baik itu berbalik pulang ke kesendiriannya yang abadi, dan ia menangis di sebuah sudut, berkata kepada dirinya sendiri”</span></p><span style="font-size:85%;"> </span><p class="MsoNoSpacing"><span style="font-size:85%;"><span style="mso-tab-count:1"> </span>“Ah, bagi kami perempuan-perempuan tua yang buruk, zaman-zaman menyenangkan tanpa rasa bersalah telah usai; dan yang kami bangkitkan hanyalah kengerian bagi bayi mungil yang ingin kami cintai!”</span></p><span style="font-size:85%;"> </span><p class="MsoNoSpacing"><span style="font-size:85%;"> </span></p><span style="font-size:85%;"> </span><p class="MsoNoSpacing"><span style="font-size:85%;">*) Diterjemahkan oleh Indra Tjahyadi dari <i style="mso-bidi-font-style:normal">The Old Woman’s Despair</i>, dalam Charles Baudelaire, <i style="mso-bidi-font-style:normal">Paris Spleen and La Fanfarlo</i>, translated with introduction and notes by Raymond M. MacKenzie (Cambridge: Hackett Publishing Company Inc, 2008), hal. 6.</span></p><span style="font-size:85%;"> </span><p class="MsoNoSpacing"><span style="font-size:85%;"> <br /></span></p> intjahhttp://www.blogger.com/profile/01523218798186178245noreply@blogger.com2tag:blogger.com,1999:blog-7217374030544787350.post-13630035926183353272011-05-19T02:57:00.000-07:002011-05-19T02:58:25.133-07:00KOPLO<div style="font-family: times new roman; text-align: center;"><span style="font-weight: bold;font-size:100%;" >KOPLO</span><br /><br /><span style="font-size:100%;">Cerpen: Indra Tjahyadi</span><br /></div><div style="text-align: justify;"><br /><span style="font-family: times new roman;font-size:100%;" >Koplo, begitulah orang kampung kami biasa memanggilnya. Dia terlahir dengan nama Supeli. Emaknya, Mbok Dar, adalah seorang bekas pelacur murahan yang ketika masih dines dulu sering terkena penyakit kelamin. "Sipilis!" begitu kata Kak Muali, seorang bandar dadu yang rumahnya persis di sebelah rumahku, beberapa tahun yang lalu.</span><br /><br /><span style="font-family: times new roman;font-size:100%;" >Mereka, Koplo dan emaknya, tinggal di sebuah rumah sesek, lima rumah dari rumahku. Meskipun demikian, Koplo tidak punyai bapak. Sebab, dulu ketika mengandungnya, mbok Dar, emaknya Koplo itu, masih dines. Jadi itu wajar kalau Koplo tidak punya bapak. "Lha wong segitu banyak, Bu. Siapa yang tahu," jawab Mbok Dar sekenanya ketika ditanya Bu Bidan perihal siapa ayah Koplo sebenarnya.</span><br /><br /><span style="font-family: times new roman;font-size:100%;" >Bahkan yang lebih sadis lagi, ketika Koplo masih nethek, Mbok Dar masih saja tetap dines. Baru beberapa tahun kemuadian, setelah Koplo bisa merangkak, Mbok Dar pensiun dari dinesnya tersebut. Jujur saja, tak satu pun orang di kampung kami yang tahu kenapa Mbok Dar "pensiun" dari dinesnya itu. Sebagai gantinya, dia jualan rujak. Selain juga jadi tukang urut panggilan dan tukang cuci di rumah Pak RT Ngasdur.</span><br /><br /><span style="font-family: times new roman;font-size:100%;" >Tak satu pun orang di kampung kami yang mau berteman dengan Koplo. Menurut orang kampung, Koplo itu gendheng. "Pernah," kata Jumari, seorang tukang becak yang biasanya tidur dalam becaknya di ujung kampung kami., dengan mimik wajah yang bersungut-sungut, "aku lihat Koplo berdiri di tengah pasar, ndak pake baju. Gendheng!"</span><br /><br /><span style="font-family: times new roman;font-size:100%;" >"Sama, Ri," timpal Soleh, seorang sopir mikrolet yang rumahnya persis di depan rumahku, suatu hari ketika kami duduk-duduk di pucuk kampung, "Bahkan ketika itu, pelinya yang ndak disunat itu lho juga dibuat-buat mainan. Sampai ibu-ibu yang waktu itu belanja di pasar girab-girab. Dasar wong gendheng!"</span><br /><br /><span style="font-family: times new roman;font-size:100%;" >Jujur saja, sebenarnya aku sendiri tidak tahu, Koplo itu waras atau gendheng. Sebab, menurutku, perilakunya sih biasa-biasa saja, sama seperti orang-orang kampung kami yang lainnya.</span><br /><br /><span style="font-family: times new roman;font-size:100%;" >Sampai suatu malam dengan tergopoh-gopoh Koplo menghampiriku. Ketika itu aku lagi duduk-duduk sambil minum kopi di warungnya Cak Bogang. Seperti biasa kalau sudah di atas jam sebelas malam warung Cak Bogang sepi, biasanya cuma ada aku sama Cak Bogang saja, tapi malam itu Cak Bogang tidur di kursi panjang di salah satu sisi warungnya itu.</span><br /><br /><span style="font-family: times new roman;font-size:100%;" >Aku sendiri tidak tahu, kenapa malam itu Koplo menghampiriku. Mimik wajahnya serius. Matanya memperlihatkan sorot yang tajam, lain dari biasanya.</span><br /><br /><span style="font-family: times new roman;font-size:100%;" >"Din," katanya sambil menepuk punggungku. "Aku ingin kerja. Aku capek bikin susah emakku terus.Emakku sudah tua, Din. Kasihan kalau harus kerja terus-terusan"</span><br /><br /><span style="font-family: times new roman;font-size:100%;" >Terus terang aku terkejut mendengar ucapnya. "Orang ini sebenarnya gila atau waras ya?" pikirku. Tapi, sebelum aku sempat mengeluarkan sepatah kata. Ia begitu saja pergi dari sisiku.</span><br /><br /><span style="font-family: times new roman;font-size:100%;" >Semanjak malam itu aku tidak pernah bertemu lagi dengannya, bahkan orang-orang kampung kami pun tak ada satu pun yang tahu ke mana Koplo dan emaknya pergi.</span><br /><br /><span style="font-family: times new roman;font-size:100%;" >Ada khabar yang beredar kalau Koplo dan emaknya itu hilang dicuri ninja. Maklum ketika itu berita tentang penculikan orang dan pembantaian orang oleh orang yang berpakaian hitam-hitam serta bertopeng mirip ninja dari Jepang sedang santer-santernya. Tapi, aku tidak percaya begitu saja. Lha Koplo itu siapa, kok pakai diculik atau digorok. Diakan bukan siapa-siapa. Cuma orang aneh.</span><br /><br /><span style="font-family: times new roman;font-size:100%;" >Hingga pada suatu, ini kira-kira sekitar empat tahun kemudian, ketika aku sudah menikah, sewaktu di kios koran dekat terminal biasa aku mangkal sebagai sopir mikrolet, aku terkejut. Pada sebuah surat khabar yang biasanya menampilkan berita-berita kriminal potret Koplo terpampang dengan tubuh terkapar bersimbah darah, dan di sampingnya ada sebuah tulisan besar berwarna merah: SEORANG COPET TEWAS DITEMBAK KARENA COBA MELAWAN PETUGAS.</span></div>intjahhttp://www.blogger.com/profile/01523218798186178245noreply@blogger.com1tag:blogger.com,1999:blog-7217374030544787350.post-77692051601494704182011-05-16T23:58:00.001-07:002011-05-16T23:58:48.653-07:00DONGENG MIGRASI ANTROPOSENTRISME NAIF<p class="MsoNoSpacing" align="center" style="text-align:center"><b><span style="font-size:12.0pt;font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;">DONGENG MIGRASI ANTROPOSENTRISME NAIF</span></b><span style="font-size:12.0pt;font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;"><o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" align="center" style="text-align:center"><span style="font-size:12.0pt;font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;">Cerpen: Indra Tjahyadi<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;"> <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;">Pada suatu malam ketika kalian membaca kumpulan sajak karya Afrizal Malna yang bertajuk Arsitektur Hujan, kalian seolah digiring masuk ke sebuah dunia. Sebuah dunia yang dipenuhi benda-benda. Kalian seakan dibuat tak pernah mampu melepaskan diri darinya. Bahkan kalian seakan dibuat bergantung padanya.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;">Tubuh kalian menggigil. Keringat dingin mengucur dari sekujur tubuh kalian. Deras? Ya! Membasahi sekujur tubuh kalian. Kalian ketakutan. Maka kalian tutup kumpulan sajak karya Afrizal Malna yang bertajuk Arsitektur Hujan tersebut cepat-cepat. Seolah kalian tak ingin berlama-lama terjebak dan hidup dalam dunia ciptaan Afrizal tersebut. Dunia tersebut terlampau mengerikan untuk kalian.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;">Hingga keesokan harinya kalian memutuskan untuk menaruh kumpulan sajak karya Afrizal tersebut di gudang rumah kalian yang berbau apek tersebut. Kalian timbun kumpulan sajak karya Afrizal tersebut dengan berbagai barang yang ada di rumah kalian. Kalian kubur benda tersebut. Kalian tak ingin bertemu lagi dengan benda tersebut. Kalian, memutuskan, untuk tak ingin lagi membacanya kapan pun. Kapan pun?<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;">Akan tetapi, beberapa hari kemudian, di sebuah perpustakaan di kota kalian, kalian berkenalan dengan F.W. Bateson. Orangnya, menurut kalian, ramah, menarik, yang terpenting, adalah mempunyai kegemaran yang sama dengan kalian: berbicara mengenai sajak!<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;">Pun kalian akhirnya menjadi akrab. Hari demi hari kalian lalui sambil berdiskusi tentang sajak. Pendek kata: tiada hari tanpa sajak! Akan tetai banyak orang mencemooh kalian. Memandang sinis pada kalian. Akan tetapi: “demi Tuhan, apakah ada yang salah berbicara mengenai sajak?”<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;">Kalian tak perduli. Kalian terlanjur merasa asyik-masyuk dengan dunia kalian tersebut. Dunia yang dipenuhi oleh sajak, bukan televisi, kursi atau kamar mandi yang membuat kalian senantiasa telanjang, onani dan bergosok gigi. Kalian benar-benar merasa ada di sana.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;">Akan tetapi, sesuatu terjadi! Kalian harus berpisah! Kalian harus saling pindah dari kota kalian. Kalian bersedih. Akan tetapi, sebelum kalian saling berpindah ke tempat kalian yang baru, kalian masih sempat melakukan satu diskusi, untuk yang terakhir kalinya. Dan pada diskusi yang terakhir tersebut, ia berkata pada kalian: bahwa pengaruh zaman pada puisi tak dapat dilihat dari penyairnya, akan tetapi dari bahasa yang digunakannya.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;">Lalu, kalian pun saling berpisah. Kalian saling berpindah dari kota kalian. Dan kalian pun kembali bersendiri, hanya ditemani televisi, kursi dan kamar mandi kalian. Kalian pun memutuskan untuk pindah ke desa.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;">Beberapa minggu kemudian, kalian pun memutuskan untuk membersihkan rumah kalian. Mulai ruang tamu hingga gudang. Kalian melakukan packing barang-barang dan benda-benda milik kalian. Kalian pilih beberapa benda dan barang yang kira-kira akan kalian bawa pindah ke desa.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;">Akan tetapi, bukankah kalian ingin melepaskan diri dari barang dan benda-benda tersebut? Bukankah kalaian tak ingin bergantung pada barang dan benda-benda tersebut lagi? Maka, untuk apa kalian packing barang dan benda-benda tersebut?<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;">Maka, kalian pun memutuskan untuk tidak membawa barang dan benda-benda tersebut. Kalian meutuskan hanya membawa barang dan benda yang perlu saja. Kalian tak ingin hidup seperti di kota kalian yang dulu. Kalian tak ingin menjadi manusia sepeti dalam dunia ciptaan Afrizal. Kalian mampu ada tanpa benda-benda dan barang tersebut. Kalian tak butuh benda dan barang-barang tersebut!<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;">Akan tetapi kepindahan kalian ke desa tersebut ternyata tak membawa banyak perubahan dan manfaat bagi kalian. Sebab, baru saja kalian sampai pada hari ketiga masa kepindahan kalian ke desa tersebut, kalian sudah rindu dengan barang dan benda-benda. Kalian rindu televisi ketika hari menapak malam. Kalian rindu kursi ketika hari mengintip fajar. Kalian rindu cermin ketika hari melintas siang.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;">Memang, kerinduan tersebut dapat kalian rendam. Akan tetapi, hal tersebut hanyalah untuk beberapa hari saja. Dan ketika kalian mulai menginjak penghujung minggu kedua masa tinggal kalian di desa tersebut, kalian sudah tak mampu lagi meredamnya. Kalian pun memutuskan untuk kembali ke kota kalian. Dan hal tersebut berarti kembali hidup di tengah barang dan benda-benda.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;">Sebenarnya kalian malu untuk mengakui hal tersebut. Tetapi memang tak ada satu alasan pun yang sanggup membuat kalian untuk tidak mengakui hal tersebut. Maka, hari itu juga, kalian putuskan untuk kembali berkemas-kemas. Cepat-cepat? Ya! Dan ketika kalian berkemas-kemas tiba-tiba kalian mendengar suara pintu diketuk: Tok! Tok! Tok! Dan secara tidak sadar kalian pun berucap: <i>masuk sajalah. Tidak ada siapa-siapa di sini; bahkan diri kami juga tak ada</i>.[1]<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;"> <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;">Surabaya, 1997-2001.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;"> <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;">--------------------------------------------------------------------------------<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;"> <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;">[1] Dari sajak Afrizal Malna yang berjudul <i>Pulo Gadung Dari Peta 15 Menit</i>.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify"><span style="font-size:12.0pt; font-family:&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;"> <o:p></o:p></span></p>intjahhttp://www.blogger.com/profile/01523218798186178245noreply@blogger.com1tag:blogger.com,1999:blog-7217374030544787350.post-87815927876578899002011-05-02T13:22:00.002-07:002011-05-02T13:24:54.074-07:00Urgensi Posmodernisme<div style="text-align: center;"><span class="Apple-style-span" ><b>POSMODERNISME</b></span></div><div style="text-align: center;"><span class="Apple-style-span" ><b>Oleh: Indra Tjahyadi</b></span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" ><b>Pengantar</b></span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Scott Lash dalam bukunya "The Sociology of Postmodernism" (1990) menyatakan bahwa posmodernisme telah menjadi istilah yang tersebar di mana-mana. Ia telah menjadi perbendaharaan ucapan sehari-hari. Bahkan ia telah menjadi semacam klise yang terus terngiang-ngiang.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Kiranya, apa yang dinyatakan oleh Lash tersebut bukanlah hal yang tidak berdasar. Di Indonesia, sebagai contoh, pembicaraan mengenai posmodernisme telah ramai berkelebatan semenjak tahun 1980-an. Para intelektual dan akademisi Indonesia semacam Yasraf Amir Piliang, Emmanuel Subangun, Rocky Gerung, Tommy F. Awuy, sampai Ignas Kleden pun pernah mengangkat topik dan tema posmodernisme dalam tulisannya. Bahkan seorang kritikus sastra muda terkini dari Surabaya, Ribut Wijoto, baru-baru ini mengeluarkan satu buku yang berkaitan dengan posmodernisme yang berjudul "Kondisi Postmodern Kesusastraan Indonesia" (2009).</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Tentunya, dalam benak kita, situasi ini menimbulkan pertanyaan-pertanyaan seperti: apakah posmodern itu? Mengapa ia begitu menarik perhatian banyak intelektual dan akademisi? Apakah gunanya mengetahui, mempelajari, dan memahami posmodernisme itu? Adakah implikasi negatif dan positif dari posmodernisme itu? Dan, bagaimanakah posmodernisme dalam konteks budaya media saat ini?</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" ><b>Pengertian Posmodernisme</b></span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Istilah posmodernisme yang muncul dan menghantui khazanah pemikiran kebudayaan di Indonesia saat in sebenarnya telah muncul sejak lama. Menurut Noeng Muhadjir, istilah posmodernisme telah muncul semenjak tahun 1930-an. Frederico de Oniz adalah orang pertama yang menggunakan istilah ini untuk menyatakan periode peralihan dari modernisme awal ke modernisme dengan kualitas lebih tinggi. </span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Pada tahun 1940-an istilah ini muncul dalam ranah arsitektur, dan pada tahun 1960-an muncul di ranah sastra. Akan tetapi, istilah posmodernisme ini baru benar-benar menemukan momentumnya ketika Jean-Francois Lyotard menggunakan istilah ini sebagai judul bukunya yang terkenal "La Condition postmoderne: Rapport sur le savoir" pada tahun 1977.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Sejak Lyotard menggunakannya dan membahasnya secara filosofik melalui bukunya tersebut, perdebatan mengenai posmodernisme muncul ramai di permukaan. Meskipun demikian, ramainya perdebatan mengenai posmodernisme ini tidak mengimplikasikan bahwa telah terbentuk definisi yang tunggal mengenai hal itu saat ini. </span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Saat ini definisi mengenai posmodernisme masih bertebaran riuh di jagad ilmu pengetahuan dan filsafat. Setiap akademisi, intelektual, bahkan filsuf masih berdebat mengenai definisi posmodernisme. Meskipun demikian ini tidak berarti bahwa posmodernisme tidak bisa diketahui, dipelajari, dan dipahami. Kemungkinan untuk dapat diketahui, dipelajari, dan dipahaminya posmodernisme terbaca dari banyaknya perdebatan mengenai subjek pembahasan yang satu ini.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Lyotard mendefinisikan posmodernisme sebagai ketidakpercayaan terhadap metanarasi. Metanarasi merupakan narasi besar yang tersembunyi (atau bersembunyi) di balik pelbagai narasi yang bertebaran di jagad kebudayaan manusia. Ia merupakan "logos" yang memiliki legitimasi dan otoritas bagi kebenaran yang diamini oleh manusia.Metanarasi ini sifatnya niscaya dan monolitik. Jadi, bagi Lyotard, posmodernisme adalah ketidakpercayaan terhadap keniscayaan dan hal-ihwal yang monolitik.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Ketidakpercayaan terhadap keniscayaan dan kemonolitikan ini, menurut Lyotard, adalah sebuah kondisi. Dalam arti, bahwa ia tidak hanya berkaitan dengan hal-ihwal non-fisik, tetapi juga fisik. Oleh karena itu, ia beranggapan bahwa posmodernisme adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi pengetahuan pada masyarakat yang paling berkembang.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Sampai di sini, berkaitan dengan pernyataan Lyotard mengenai posmodernisme, tentunya muncul pertanyaan dalam benak kita: apakah yang dimaksud dengan masyarakat yang paling berkembang? mengapa justru masyarakat itu terjebak dalam kondisi yang mengharuskan mereka untuk tidak percaya pada metanarasi, pada keniscayaan dan monolitik?</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Untuk menjawab pertanyaan ini ada baiknya kita pindai kembali ke dalam wacana yang menyebabkan munculnya posmodernisme.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" ><b>Penyebab Posmodernisme</b></span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Memahami posmodernisme tidak dapat dilakukan tanpa memahami apa yang telah dilakukan oleh wacana modernisme. Ini karena, sebagaimana yang pernah dinyatakan oleh Agustinus Hartono dalam bukunya "Skizoanalisis" (2007), ia adalah mutasi sekaligus kontinuasi dari modernisme. Penempatan prefix "pos" di depan kata "modernisme" dalam istilah "posmodernisme"-lah yang menyebabkan posmodernisme tidak dapat hanya dipandang sebagai mutasi dari modernisme, tetapi ia juga harus dipandang memiliki kontinuasi dengan modernisme.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Anggapan ini, kiranya, ada benarnya. Arnold Toynbee mengategorikan posmodernisme sebagai era keempat sesudah Zaman Kegelapan (675--1075 M), Zaman Pertengahan (1075--1475), dan Zaman Modern (1475--1875). Pengategorian yang dilakukan oleh Toynbee ini memperlihatkan pada kita bahwa apa yang kita kenal dengan istilah "posmodernisme" merupakan kelanjutan Zaman Modern.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Karakter kontinuasi dan mutasi dari posmodernisme terhadap modernisme juga disampaikan oleh Richard Appignanesi dan Chris Garrat. Menurut Richard Appignanesi dan Chris Garrat, apa yang dimaksud dengan posmodernisme itu adalah campuran dari pelbagai pemaknaan yang berdasar pada anggapan bahwa ia bukan hanya hasil, akibat, anak, dan perkembangan modernisme, tetapi juga penyangkalan dan penolakan terhadap modernisme. Ia adalah kebingungan yang berasal dari dua teka-teki besar: melawan dan mengaburkan pengertian modernisme, dan menyiratkan pengetahuan yang lengkap mengenai modernisme yang telah dilampaui oleh zaman baru. Zaman di mana cara melihat, berpikir, dan berbuatnya manusia telah mengalami perubahan.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Perubahan cara melihat, berpikir, dan berbuat ini terjadi karena perubahan kesadaran manusia terhadap diri dan dunia. Perubahan kesadaran ini disebabkan karena sadarnya manusia akan kegagalan dari wacana modernisme, atau yang dalam perkataan Jean Baudrillard bahwa wacana modernisme--dengan utopia kemajuannya--hanya berakhir pada khayalan katastropi.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Modernisme, sejak awalnya, merupakan wacana dan proyek yang sangat ambisius. Ia diciptakan oleh Barat, dan didistribusikan oleh Barat ke seluruh penjuru dunia dengan pelbagai kiat. Bahkan, dalam pandangan yang negatif, ia didistribusikan oleh Barat ke seluruh penjuru dunia dengan menghalalkan pelbagai cara. Mulai yang halus, seperti hegemoni dan seduksi, sampai ke hal yang paling kasar dan tidak beradab seperti represi dan kolonialisasi. Tujuannya adalah jelas, membentuk dan menyebarkan keyakinan "kebenaran" tunggal (yang tentunya ini juga menurut ukuran Barat!).</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Mengenai modernisme, Akbar S. Ahmed dalam bukunya "Postmodernism and Islam: Predicament and Promise" (1992) berpendapat bahwa modernisme merupakan fase sejarah dunia yang ditandai dengan:</span></div><div><span class="Apple-style-span" >1. Kepercayaan pada sains, perencanaan, sekularisme dan kemajuan.</span></div><div><span class="Apple-style-span" >2. Keinginan untuk simetri dan tertib.</span></div><div><span class="Apple-style-span" >3. Keinginan akan keseimbangan dan otoritas.</span></div><div><span class="Apple-style-span" >4. Keyakinan terhadap masa depan atau pada utopia yang bisa dicapai.</span></div><div><span class="Apple-style-span" >5. Keyakinan akan sebua tata dunia natural yang mungkin. </span></div><div><span class="Apple-style-span" >Dan ini semua, dalam hemat Ahmed, berusaha dicapai oleh modernisme melalaui mesin, proyek industri besar, besi, baja, dan listrik. Oleh karena itu, menurut Ahmed, zaman modern dapat dipahami sebagai zaman industrialisasi dan zaman di mana kemanusiaan diremehkan.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Sejalan dengan pemaparan Ahmed mengenai modernisme, Noeng Muhadjir dalam bukunya "Filsafat Ilmu" (2001) menyatakan bahwa melalui pengarahan pada pengembangan ilmu ke pengembangan teori dan pengembangan paradigma atas dasar rasionalitas, modernisme telah mengendalikan manusia secara teknis dengan menggunakan prinsip-prinsip, sistem-sistem pembuktian, model-model logika, serta cara-cara tertentu dalam berpikir rasional. </span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Kondisi ini mengakibatkan manusia menjadi objek sistem, dan bukannya menjadi diri sendiri. Kondisi ini kian parah karena modernisme memaknai rasionalitas ke dalam wacana kepentingan kerja, dan direduksi menjadi efisiensi atas kriteria untung-rugi, dan lebih lanjut dijadikan sesuatu yang berupa pragmatik. </span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Perihal mengenai manusia menjadi objek sistem, dan bukannya menjadi diri sendirinya ini dapat dilihat secara jelas dalam konsep strukturalismenya Ferdinand de Saussure. Bagi Saussure, sesuatu itu baru bisa dipahami apabila ia berada dalam satu sistem tertentu yang bersifat arbitrer yang dibentuk berdasarkan konvensi.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Sifat arbirer merupakan sebentuk wacana hegemoni yang menempatkan manusia pada posisi "yang-determinan" saja. Padahal, manusia sebagai subjek tidak hanya mengandaikan sesuatu "yang-determinan", tetapi juga "yang-kontingen". </span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Bagi Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe dalam bukunya "Hegemony and Socialist Strategy" (1999), manusia adalah subjek yang senantiasa berada pada titik-titik antagonisme dan perjuangan. Ia adalah subjek yang terbentuk dari dua tataran, yakni: "yang-determinan" dan "yang-kontingen". Kedua tataran ini tidak dapat dilihat dalam sistem dominasi hirarkis, karena kedua memiliki kesejajaran. </span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Kesejajaran kedua tataran ini mengakibatkan munculnya gesekan-gesekan di antara keduanya. Gesekan-gesekan inilah yang mengakibatkan tidak dapatnya identitas manusia dilihat sebagai sesuatu yang niscaya. Identitas subjek manusia bukan sesuatu yang niscaya, tetapi sesuatu yang senantiasa mengalami antagonisme dan perjuangan. </span></div><div><span class="Apple-style-span" >Identitas manusia adalah sesuatu yang senantiasa mengalami redefinisi.</span></div><div><span class="Apple-style-span" >Wacana modernisme gagal melihat hal ini. </span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Bagi wacana modernisme, identitas manusia sebagai subjek adalah sesuatu yang niscaya. Keniscayaan ini hadir karena manusia berada pada dominasi yang-arbitrer, sebab hanya di bawah dominasi yang-arbitrer manusia dapat dipahami, dipelajari, dan dimaknai. Maka, bagi para modernis Saussurean, dunia sebagai "langue"-lah yang penting.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Pemosisian "langue" yang lebih penting ini, mengakibatkan manusia sebagai "parole" terdegradasi pada posisi yang lebih rendah. Di bawah kondisi ini, manusia bukan subjek yang bebas. Tidak adanya pengakuan "parole" mengakibatkan manusia sebagai subjek yang tidak selalu pasti tidak mendapatkan pengakuan. Akhirnya, manusia, jika ditelisik lebih dalam dan jauh, dalam wacana modernisme, bukanlah subjek yang bebas karena ia terikat pada hal-hal yang niscaya.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Bagi para posstrukturalis semacam Jean Jacques Lacan, Michel Foucault, ataupun Derrida, inilah titik kegagalan modernisme. Pengabaian pada "parole" merupakan pengabaian kepada manusia sebagai subjek yang menyeluruh. Dengan kata lain, menyitir pemikiran Gillez Deleuze dan Felix Guattari, sebagai subjek yang menyeluruh, manusia bukan hanya mahluk rasional tetapi juga mahluk berhasrat. </span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Kiranya, inilah yang menjadi penyebab munculnya wacana posmodernisme ke dalam peradaban manusia. Kegagalan proyek wacana modernisme dan munculnya kesadaran baru terhadap zaman merupakan pemicu muncul dan merebaknya wacana posmodernisme. Meskipun demikian, hal ini tentunya masih menyisakan pertanyaan lain dalam benak kita: apakah urgensinya posmodernisme sehingga banyak intelektual, akademisi, bahkan filsuf yang berlomba-lomba berbicara mengenai wacana ini?</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Tetapi, sebelum menjawab pertanyaan mengenai urgensi posmodernisme, ada baiknya, kita melihat dulu fenomena posmodernisme dalam konteks budaya media saat ini, dan implikasi negatif dan positif yang dimilikinya.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" ><b>Posmodernisme, TV, dan Film</b></span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Saat ini, sulit bagi kita mengelak dari dominasi budaya media. Media menjadi pembentuk kesadaran kita. Tengok saja bagaimana pengetahuan kita tentang suatu hal sangat dipengaruhi oleh representasi yang disuguhkan oleh pelbagai media semacam tv, film, bahkan internet.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Kita akan sama-sama mengutuk seseorang karena ia menurut media telah melakukan hal yang negatif. Kita sama-sama akan bersimpati kepada seseorang apabila menurut media ia telah melakukan hal yang baik. Pendek kata, media menjadi satu hegemoni bagi ruang-ruang epistemologi kita, yang dalam kenyataannya, bukanlah ruang yang bebas nilai.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >TV dan Film sebagai ujung tombak budaya media sadar betul akan posisinya yang vital dalam kondisi posmodernisme. Lewat tv dan film posmodernisme merepresentasikan dirinya dengan jalan penghilangan batas-batas antara yang-riil dan yang-tidak-riil. </span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Penghilangan batas-batas ini mengakibatkan manusia posmodernisme memiliki identitas yang tidak stabil. Ia senantiasa pada posisi redefinisi ke-subjek-annya. Dalam kondisi posmodernisme, ini terlihat jernih pada manifestasi budaya "zapping". </span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Zapping--atau kesadaran nol--merupakan gejala ketaksabaran posmodern tanpa kedalaman. Ia merupakan produk hiperaktivitas "posindustrial" dan kegelisahan ekstrem. Budaya ini muncul bersamaan dengan merebaknya kabel multi-saluran dan satelit pemancar, diikuti dengan bantuan tidak terelakkan dari kendali jarak jauh. Sisi menarik dari budaya "zapping" ini adalah adanya otokreasi tontonan yang menempatkan Anda sendiri menjadi pemiliknya.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Menurut Marshall McLuhan fenomena ini merupakan satu cara menggantikan masa lalu yang terputus akibat modernisme. Menurutnya: "Media telah menjadi pengganti dunia masa lalu. Sekalipun kita seharusnya bisa menemukan kembali dunia tersebut, kita dapat melakukannya hanya dengan belajar intensif tentang cara media telah menyingkirkannya."</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Inilah nilai penting bagi posmodernisme. Dengan tidak menolak hegemoni budaya media, ia juga sekaligus melakukan resistensi dan pencarian lebih lanjut mengenai keberadaan manusia. Dan ini semua mungkin dilakukan di dalam kondisi posmodernisme yang mengagungkan kebebasan manusia. Karena, sebagaimana disampaikan Baudrillard, kebebasan manusia adalah kebebasan untuk mengonsumsi dan memproduksi sesuatu. Kebebasan untuk mencitrakan sesuatu sesuai dengan yang dikehendakinya sendiri. </span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Tetapi, untuk mengetahui bagaimana fenomena budaya telah merasuki kondisi posmodernisme ada baiknya kita membaca kembali buku Akbar S. Ahmed. Di situ dia menggambarkan bagaimana Islam yang sebenarnya tidak sefanatik seperti yang direpresentasikan oleh media-media Barat, akhirnya harus tercitra seperti apa yang direpresentasikan oleh media-media Barat tersebut.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Ini mengakibatkan konsekuensi tidak diterimanya Islam di Barat. Konsekuensi-konsekuensi logisnya, Islam kehilangan hak berkata-katanya, karena citra yang diimplankan kepada epistemologi Barat begitu kukuh menghegemoni. </span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Tetapi, inilah kondisi posmodernisme. Kondisi di mana ruang-ruang saling bersinggungan, bertukar, memburai, dan terfragmentasi dalam posisi-posisinya yang non-hirarkis. Kondisi di mana segalanya boleh sekaligus tidak boleh. Dan tentunya kenyataan ini memberikan implikasi negatif dan positif bagi posmodernisme. </span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Tetapi, apakah implikasi negatif dan positifnya posmodernisme itu?</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" ><b>Implikasi Negatif dan Positif Posmodernisme</b></span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Posmodernisme sebagai satu wacana senantiasa memiliki implikasi negatif dan positif. Seperti yang telah diketahui bersama, sebagai wacana, posmodernisme telah muncul sejak tahun 1930-an, akan tetapi baru menemukan momentumnya tatkala wacana ini digunakan oleh Lyotard pada kisaran tahun 1970-an.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Sebagai wacana, posmodernisme menawarkan pelbagai konsep kritisisasi terhadap wacana modernisme. Seiring dengan perkembangan waktu, dan semakin pesimisnya masyarakat terhadap modernisme, posmodernisme mulai berkembang. Ia tidak lagi hanya berkutat pada ranah arsitektur dan sastra, tetapi meluas hingga ke dalam ilmu sosial dan ilmu-ilmu fisika.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Posmodernisme mengkritik wacana modernisme dalam banyak hal. Seperti kita ketahui bersama bahwa modernisme mengarahkan ilmu ke pengembangan teori dan pengembangan paradigma yang didasarkan pada rasionalitas. Posmodernisme mengkritik hal ini. Bagi posmodernisme, apa yang telah dilakukan oleh modernisme itu menjadikan manusia sebagai objek sistem, dan bukan menjadi dirinya sendiri.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Modernisme, merujuk pada Noeng Muhadjir, telah mengendalikan manusia secara teknis. Pengendalian manusia secara teknis ini dilakukan dengan jalan membuat manusia untuk menggunakan prinsip-prinsip, sistem-sistem pembuktian, model-model lagika, serta cara-cara tertentu dalam berfikir rasional. Kondisi ini mengakibatkan manusia bukan menjadi subjek sistem, tetapi objek sistem, karena ia harus mematuhi setiap prinsip, sistem, model, cara yang ditentukan oleh modernisme.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Kepatuhan-kepatuhan ini mengakibatkan manusia kehilangan kebebasannya. Manusia bukanlah berada posisi pencari, tetapi pada posisi penemu. Oleh karena itu, modernisme menempatkan manusia sebagai penemu kebenaran. Penemu kebenaran berarti kebenaran itu sudah ada di sana, dan manusia tinggal menemukannya kembali. Sejalan dengan ini, dengan nada sinis, Milan Kundera pernah menyatakan bahwa penyair modern bukanlah pencipta kata, sebab kata-kata sudah ada di sana, dan penyair modern tinggal menemukannya kembali.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Posisi manusia modern sebagai subjek penemu kebenaran terartikulasikan dengan tepat pada pernyataan: "Eureka!". Pernyataan ini merupakan pernyataan yang sangat populer di dalam wacana modernisme. Posmodernisme mengkritisi hal ini. Oleh karena itu, di bawah kondisi posmodernisme, kebebasan manusia tampil dalam ujud manusia sebagai subjek pencari kebenaran.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Bagi Noeng Muhadjir, dalam posmodernisme tugas manusia adalah mencari kebenaran dan bukannya sebagai pembukti kebenaran. Kondisi ini karena posmodernisme tidak menawarkan kebenaran mutlak. Logosentrisme absolut yang diartikulasikan oleh modernisme ditolak dan dikritisi oleh posmodernisme. </span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Bagi posmodernisme, merujuk pada pemikiran Derrida, logosentrisme yang ditawarkan oleh modernisme haruslah didekonstruksi. Keharusan ini muncul, sebagaimana pernah dinyatakan oleh Lyotard, karena telah terjadi transformasi relasi antara sains dan kehidupan. </span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Laclau dan Mouffe melihat bahwa wacana keniscayaan yang didesakkan oleh hegemoni modernisme telah mengakibatkan munculnya krisis. Krisis ini berpusar pada retakan antara teori dan praktik. Sifat niscaya modernisme mengakibatkan teori tidak lagi akomodatif terhadap praktiknya. Akhirnya, modernisme gagal melihat, mempelajari, dan memahami dunia. Posmodernisme berusaha mengatasi krisis ini.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Krisis ini berusaha diatasi oleh posmodernisme dengan jalan mengembalikan manusia pada posisi subjek, dan bukannya objek. Modernisme pada abad 19 yang menonggak dengan strukturalisme, telah menghilangkan manusia sebagai subjek. Strukturalisme, dengan pemujaan struktur. mengakibatkan munculnya dehumanisasi.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Dehumanisasi ini terlihat pada wacana bagaimana manusia direduksi ke dalam struktur. Manusia hanya diakui sebagai objek dari struktur, dan bukan pencipta struktur. Dan ini terlihat jelas pada konsep "langue" dan "parole"-nya Saussure. Bagi Saussure, yang penting adalah "langue", dan bukannya "parole", sebab manusia hanya dapat dipahami dalam satu jaring yang lebih besar. Dengan kata lain, manusia hanya bisa dipahami dalam hubungannya dengan sistem yang mengitarinya.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Posmodernisme, dipelopori oleh posstrukturalisme, menolak pandangan ini. Bukan "langue" saja yang penting, sebab tanpa "parole", "langur" tidak akan ada. Dan jika begitu, "parole" merupakan unsur penting. Karena keberadaannya menentukan "langue" dan bukan sebaliknya.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Pemahaman semacam ini menggiring posmodernisme pada implikasi positif yang melihat manusia sebagai subjek merupakan hal penting. Manusia yang semenjak abad 19 lenyap dari khazanah pengetahuan, kembali ke kedudukannya yang penting. Oleh karena itu, bagi posmodernisme tidak ada kebenaran objektif, yang ada hanyalah kebenaran subjektif atau intersubjektif.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Pemahaman kebenaran model ini menggiring munculnya kebhinekaan makna. Makna bukan lagi sesuatu yang hanya tunggal. Denotativitas makna bukan sesuatu yang mutlak. Makna adalah banyak, tergantung dari relasi dan subjek yang menentukan. Inilah makna kebebasan dari posmodernisme. Inilah implikasi positif posmodernisme. </span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Tetapi, posmodernisme tidak hanya membawa implikasi positif. Ada implikasi negatif yang diakibatkan oleh kecenderungan yang ditawarkan oleh posmodernisme. Model pemaknaan yang subjektif ini mengakibatkan mengaburnya kebenaran. </span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Kondisi ini mengakibatkan posmodernisme sering tampil dengan wajahnya yang khaotik. Bebasnya dan bhinekanya pemaknaan ini mengakibatkan posmodernisme seakan-akan tidak memiliki kepastian. Padahal, jika ditelisik lebih jauh, posmodernisme juga menawarkan kepastian. Kepastian yang ditawarkan oleh posmodernisme adalah kepastian bahwa tidak ada yang pasti.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Demikianlah, setiap wacana memiliki implikasi negatif dan positifnya masing-masing. Begitu juga posmodernisme yang bagi banyak kalangan merupakan obat katastropi modernisme ternyata juga memiliki implikasi positif dan negatifnya.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" ><b>Urgensi Posmodernisme</b></span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Telah kita ketahui bahwa posmodernisme memiliki implikasi negatif dan positif. Meskipun demikian, ini tidak berarti bahwa posmodernisme tidak memiliki urgensi untuk diketahui, dipelajari, dan dipahami lebih dalan dan jauh. Ada relevansi yang kerap tidak kita sadari antara posmodernisme dan wacana Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi semboyan hidup bangsa-negara ini. Oleh karena itu, tetao menjadi hal penting elaborasi atas posmodernisme itu.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Penolakan dan penyangkalan posmodernisme adalah penolakan dan penyangkalan terhadap metanarasi, monolitik, sistem konvensi dan kearbitreran, atau dengan kata lain penolakan dan penyangkalan pada denotativisme yang didesakkan oleh wacana modernisme. Meskipun demikian, ini tidak berarti bahwa posmodernisme menolak rasionalitas yang didesakkan oleh modernisme.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Bagi posmodernisme, rasionalitas manusia masih tetap diakui keberadaannya. Akan tetapi, ia bukan sesuatu yang esa dalam manusia. Ada hal-hal yang non-rasionalitas, seperti hasrat, yang juga diakui keberadaannya dalam diri manusia.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Pemahaman ini memperlihatkan bahwa posmodernisme mengakui kebhinekaan. Penerimaan akan kebhinekaan ini semakin terang di bawah penerimaan posmodernisme atas ketaksaan. Kebhinnekaan dan ketaksaan ini membawa posmodernisme sampai pada keyakinan mengenai "penggandaan perbedaan".</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Perbedaan menemukan penghargaannya dalam posmodernisme. Pengakuan terhadap perbedaan ini menggiring posmodernisme sampai pada wilayah yang dipenuhi oleh perayaan akan fragmentasi. Perayaan fragmentasi ini mengimplikasikan munculnya kebhinnekaan kebenaran.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Inilah, kiranya, yang menjadi urgensi dari posmodernisme. Dengan mengetahui, mempelajari, dan memahami posmodernisme kita mengetahui bahwa kebenaran bukan sesuatu yang esa. Setiap subjek berhak atas kedudukannya di dalam "kebenaran" ini.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Di dalam konteks Indonesia yang jelas-jelas mengedepankan wacana Bhinneka Tunggal Ika (Unity in Diversity) pengakuan terhadap keanekaragaman merupakan hal yang penting. Bhinneka Tunggal Ika merupakan wacana yang mengandung makna pengakuan terhadap pelbagai ras, suku, maupun agama yang berbeda-beda yang ada di Indonesia.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Dalam konsep wacana ini, makna Indonesia hanya mungkin muncul apabila adanya perbedaan-perbedaan tersebut mendapatkan pengakuan. Posmodernisme membantu kita memahami bagaimana perbedaan-perbedaan tersebut hadir dalam kesadaran kita. Dan menyadarkan kita bahwa kebhinnekaan bukan hal yang buruk dan salah. Malah kebhinnekaan inilah yang nantinya dapat mengukuhkan identitas Indonesia. </span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Menurut Dede Oetomo dalam tulisannya "Refleksi Kritis Manusia Indonesia": "Manusia Indonesia memang merupakan sesuatu yang menjadi tujuan berbagai orang yang hidup bermasyarakat di wilayah Indonesia yang entah bagaimana bertautan dengan Indonesia...ini mengasumsikan bahwa keindonesiaan itu sendiri tidak tunggal, dan dapat tumpang-tindih atau bersentuhan dengan entitas sosial-budaya lain." </span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Jadi, identitas manusia Indonesia bukanlah identitas yang berangkat dari ketunggalan. Identitas manusia Indonesia adalah identitas yang majemuk, yang bersandar pada kebhinnekaan. Kebhinnekaan merupakan hal penting yang ditawarkan oleh wacana posmodernisme. </span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Inilah titik urgensi dan relevansi posmodernisme di Indonesia. Dalam konteks Indonesia, urgensi dari mengetahui, mempelajari, dan memahami posmodernisme bukan untuk menjadi Barat, tetapi untuk menjadi Indonesia itu sendiri. Sebab, posmodernisme itu sendiri merupakan karnaval kemajemukan dari yang-lokal dan yang-bhinneka. Bukan begitu, kawan?</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" ><b>Daftar Bacaan</b></span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Ahmed, Akbar S.. 1992. Postmodernism and Islam: Predicament and Promise. London: Routledge.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Appignanesi, Richard dan Chris Garrat. 1997. Mengenal Posmodernisme. Diterjemahkan oleh Alfathri Adlin. Bandung: Mizan.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Aziz, Imam (ed.). 2001. Galaksi Simulacra: Esai-Esai Jean Baudrillard. Jogjakarta: LKiS.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Baudrillard, Jean. 2006. Lupakan Postmodernisme. Diterjemahkan oleh Jimmy Firdaus. Jogjakarta: Kreasi Wacana.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Hartono, Agustinus. 2007. Skizoanalisis. Jogjakarta: Jalasutra.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Laclau, Ernesto dan Chantal Mouffe. 1999. Hegemony and Socialist Strategy: Toward a Radical Democratic.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Lash, Scott. 1990. The Sociology of Posmodernism. London: Routledge.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Lyotard, Jean-Francois. 2009. Kondisi Postmodern: Suatu Laporan mengenai Pengetahuan. Surabaya: Selasar.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Muhadjir, Noeng. 2001. Filsafat Ilmu. Jogjakarta: Rakesarasin.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Oetomo, Dede. 2009. "Refleksi Kritis Manusia Indonesia" dalam Prisma Vol. 28, No. 2, Oktober 2009.</span></div><div><span class="Apple-style-span" ><br /></span></div><div><span class="Apple-style-span" >Piliang, Yasraf Amir. 1999. Hiper-Realitas Kebudayaan. Jogjakarta: LKiS.</span></div>intjahhttp://www.blogger.com/profile/01523218798186178245noreply@blogger.com2tag:blogger.com,1999:blog-7217374030544787350.post-64495527255076872032009-12-01T07:33:00.000-08:002009-12-01T07:42:21.330-08:00Buku Puisi "Suluk Orang Patah Hati" karya Indra Tjahyadi<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgOm_Q8Bz7S-AQmmCpGCVHOg6PrzFjIgOBo1hm73qoxnyEaZf_l4GjLwtn3KNEvSUbXuBJ76ikn8YrjYJX8nT-6K8-e_3OKTNCMZxpj3F5U3j488lWlJZOXOtmSn-NTlo9Xe5Ey7BBJEw/s1600/cover+suluk+lengkap+01.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 136px; height: 200px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgOm_Q8Bz7S-AQmmCpGCVHOg6PrzFjIgOBo1hm73qoxnyEaZf_l4GjLwtn3KNEvSUbXuBJ76ikn8YrjYJX8nT-6K8-e_3OKTNCMZxpj3F5U3j488lWlJZOXOtmSn-NTlo9Xe5Ey7BBJEw/s200/cover+suluk+lengkap+01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410293445571178866" border="0" /></a><br /><div style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;"><span style="font-size:85%;"><span style="font-weight: bold;">Buku Puisi Terbaru dari Indra Tjahyadi</span><br /><br />Para pembaca blog yang saya cintai, selamat bertemu lagi dengan saya, pemandu blog yang anda cintai. Kali ini saya menampilkan buku puisi terbaru karya Indra Tjahyadi yang berjudul <span style="font-style: italic;">Suluk Orang Patah Hati</span>. Buku ini baru saja diterbitkan pada bulan Desember ini. Untuk menikmatinya anda dipersilahkan untuk mengunduhnya secara gratis pada alamat di bawah ini. Semoga buku ini dapat mengobati kerinduan anda pada puisi-puisi karya Indra Tjahyadi. Terima kasih.</span><br /><span style="font-size:85%;">alamat buku: http://www.4shared.com/file/163486336/7a9bb9ed/Indra_Tjahyadi_-_Suluk_Orang_P.html</span></span><br /><span style="font-size:85%;"></span></div><span style="font-size:85%;"><br /></span><span style="font-size:85%;"></span>intjahhttp://www.blogger.com/profile/01523218798186178245noreply@blogger.com4tag:blogger.com,1999:blog-7217374030544787350.post-86976044401741028272009-11-20T04:36:00.000-08:002009-12-01T07:35:19.339-08:00William Blake - Nujum Orang Suci<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhMP2GjsSson9mvJGY-g-1hnSLHkloldKBbrxcwbD46FKT4fgjIR8NAsBeFzP_8UZkAHUWb5iNAKPQPOjafKEzh6WoH4wSfbQX3w2ZEVFKwphoQioYRjU06OzPxRuvNbA94LhdI9WRetoQ/s1600/back+cover+nujum+william+01.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 136px; height: 200px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhMP2GjsSson9mvJGY-g-1hnSLHkloldKBbrxcwbD46FKT4fgjIR8NAsBeFzP_8UZkAHUWb5iNAKPQPOjafKEzh6WoH4wSfbQX3w2ZEVFKwphoQioYRjU06OzPxRuvNbA94LhdI9WRetoQ/s200/back+cover+nujum+william+01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410291702326041858" border="0" /></a><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj07GNNFKZCXxbeSEuUJ0xz5EO2i-QhmdORn_5yKulMayvre8Uhoq2uv30b1yDaefrUwUfBNZ0QnJuFtH1aMVJansq8UDKejBC2wd9jSnSNFgut5iuXrT7vroeNyEWWNAmOcYSBrKOlxB8/s1600/cover+nujum+william+01.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 136px; height: 200px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj07GNNFKZCXxbeSEuUJ0xz5EO2i-QhmdORn_5yKulMayvre8Uhoq2uv30b1yDaefrUwUfBNZ0QnJuFtH1aMVJansq8UDKejBC2wd9jSnSNFgut5iuXrT7vroeNyEWWNAmOcYSBrKOlxB8/s200/cover+nujum+william+01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410291696736213922" border="0" /></a><br /><br /><br /><div style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;"><span style="font-weight: bold;">Buku Puisi William Blake</span><br /><br /></span><span style="font-size:85%;">Para pembaca blog yang saya cintai, selamat bertemu lagi dengan saya, pemandu blog yang anda cintai. Kali ini saya menampilkan buku puisi karya William Blake yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Untuk menikmatinya anda dipersilahkan untuk menyedotnya melalui alamat: </span><span style="font-size:85%;">http://www.4shared.com/file/155883606/fa3e2a55/William_Blake_-_Nujum_Orang_Suci.html. </span><span style="font-size:85%;">Semoga puisi-puisi William Blake tersebut dapat menghibur para pembaca sekalian. Akhir kata saya ucapkan selamat menikmati.<br /><br /></span><span style="font-size:85%;"><br /></span></div>intjahhttp://www.blogger.com/profile/01523218798186178245noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-7217374030544787350.post-19733821251702273732009-06-07T03:00:00.000-07:002009-06-07T03:02:40.289-07:00Sajak Penyair Cina Masa Dinasti Tang<div style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;"><span style="font-weight: bold;">Sajak Penyair Cina Masa Dinasti Tang</span><br /><br />Para pembaca blog yang saya cintai, selamat bertemu lagi dengan saya, pemandu blog yang anda cintai. Kali ini saya menampilkan tiga sajak dari seorang penyair Cina semasa dinasti Tang yang namanya cukup terkenal, Wang Wei. Tiga sajak Wang Wei yang saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ini saya ambil dari buku "Five T'ang Poets". Semoga sajak-sajak Wang Wei tersebut dapat menghibur para pembaca sekalian. Akhir kata saya ucapkan selamat menikmati.<br /> <br /><span style="font-weight: bold;">Sajak Wang Wei </span><br /><span style="font-weight: bold;"> </span><br /><span style="font-weight: bold;">MUSIM SEMI DI TANAH PERTANIAN *) </span><br /><br />Beburung dara mendengkur di atap<br />kebun aprikot<br />putih berbunga di pinggiran kota<br /><br />para petani keluar dengan kapak di tangan<br />menebang pohonan mulberi<br />menyekop aliran air<br /><br />beburung layang-layang mencari sarangnya yang lama<br />lelaki tua duduk di bawah matahari<br />almanak di pangkauannya<br /><br />telah kulupakan gelas-gelas arakku<br />memikirkan kawanku yang hilang,<br />kawanku yang mati,<br />di kilauan rasa sakit masa lalu.<br /><br />*) diterjemahkan oleh Indra Tjahyadi dari sajak "A Spring Day at The Farm"<br /><br /><span style="font-weight: bold;">MENGAWASI PEMBURU*) </span><br /><br />Angin bertiup<br />dentingan busur-panah<br /><br />sang jenderal sedang berburu<br />di luar kota Wei<br /><br />rumputan yang mengering<br />memberikan sang elang<br />mata yang lebih tajam<br /><br />tanah tak bersalju<br />membirkan kuda-kuda<br />bercongklang bebas<br /><br />para pemburu melintasi pusat desa kami<br />menuju tempat mereka berkemah<br /><br />mereka menarik tali kekang, melihat ke belakang<br />ke tempat di mana mereka memanah jatuh sang elang<br /><br />awan yang datar<br />seribu mil dari petang.<br /><br />*) diterjemahkan oleh Indra Tjahyadi dari sajak "Watching the Hunt"<br /><br /><span style="font-weight: bold;">UNTUK SEKRETARIS SU*) </span><br /><br />Tempatku di mulut dusun<br />di luar pohon-pohon tinggi<br />di lingkari pedusunan yang sepi<br /><br />kau datang dari jalanan berbatu itu<br />tidak untuk apa-apa<br /><br />tak seorang pun menemuimu<br />di pondokanmu<br /><br />kapal-kapal ikan terjebak<br />di sungai yang membeku<br /><br />api perburuan terbakar dalam terang<br /><br />malam putih<br />dan hening<br /><br />hanya lolongan siamang<br />dan sebuah kuil lonceng yang jauh.<br /><br />*) diterjemahkan oleh Indra Tjahyadi dari sajak "To Secretary Su"</span></div>intjahhttp://www.blogger.com/profile/01523218798186178245noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-7217374030544787350.post-57803239876218742822009-04-24T05:55:00.000-07:002009-04-24T06:01:00.738-07:00Iklan Lowongan Kerja th 1889<div style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;"><span style="font-size: 85%;">Para pembaca yang saya cintai,</span></span><br /><span style="font-size:85%;"><span style="font-size: 85%;">kali ini saya akan menampilkan iklan lowongan kerja pada tahun 1889. Selamat menikmati.</span></span><br /></div><span style="font-size:85%;"><br /></span><div style="text-align: center;"><span style="font-size:85%;"><span style="font-weight: bold;">PENGOEMOEMAN !!!</span><br /></span><span style="font-size:85%;"><span style="font-weight: bold;">DAG INLANDER...HAJOO URANG MELAJOE...KOWE MAHU KERDJA ???</span><br /></span><span style="font-size:85%;"><span style="font-weight: bold;">GOVERNEMENT NEDERLANDSCH INDIE PERLU KOWE OENTOEK DJADI</span><br /></span><span style="font-size:85%;"><span style="font-weight: bold;">BOEDAK ATAOE TJENTENK DI PERKEBOENAN-PERKEBOENAN</span><br /></span><span style="font-size:85%;"><span style="font-weight: bold;">ONDERNEMING KEPOENJAAN GOVERNEMENT NEDERLANDSCH INDIE</span><br /></span><span style="font-size:85%;"><span style="font-weight: bold;"><br /></span>DJIKA KOWE POENYA SJARAT DAN NJALI BERIKOET:<br /></span></div><span style="font-size:85%;"><br />1. Kowe poenja tangan koeat dan beroerat.<br />2. Kowe poenja njali gede.<br />3. Kowe poenja moeka kasar.<br />4. Kowe poenja tinggal di wilajah Nederlandsch Indie.<br />5. Kowe boekan kerabat dekat pemberontak-pemberontak ataoepoen maling ataoepoen mereka jang soedah diberantas liwat actie politioneel.<br />6. Kowe beloem djadi boedak nederlander ataoepoen ondernemer ataoe toean tanah ataoe baron Eropah.<br />7. Kowe maoe bekerdja radjin dan netjes.<br /><br /></span><div style="text-align: center;"><span style="font-size:85%;">KOWE INLANDER PERLOE DATANG KE RAWA SENAJAN DISANA KOWE<br /></span><span style="font-size:85%;">HAROES DIPILIH LIWAT DJOERI-DJOERI JANG BERTOEGAS:<br /></span></div><span style="font-size:85%;"><br />1. Keliling rawa Senajan 3 kali.<br />2. Angkat badan liwat 30 kali.<br />3. Angkat peroet liwat 30 kali.<br />Kowe mesti ketemoe Mevrouw Shanti, Meneer Tomo en Meneer Atmadjaja.Kowe nanti akan didjadikan tjentenk oentoek di Toba, Buleleng, Borneo, Tanamera Batam, Soerabaja, Djakarta en Riaoeeiland.<br />Governement Nederlandsch Indie memberi oepah :<br />1. Makan 3 kali perhari dengan beras putih dari Bangil<br />2. Istirahat siang 1 uur.<br />3. Oepah dipotong padjak Governement 40 percent oentoek wang djago.<br /></span><div style="text-align: right;"><span style="font-size:85%;"><br />Haastig kalaoe kowe mahoe...<br /></span><span style="font-size:85%;">Pertanggal 31 Maart 1889<br /></span><span style="font-size:85%;">Niet Laat te Zijn Hoor...<br /></span><span style="font-size:85%;">Batavia 1889<br /></span><span style="font-size:85%;">Onder de naam van Nederlandsch Indie Governor<br /></span><span style="font-size:85%;">Generaal</span></div>intjahhttp://www.blogger.com/profile/01523218798186178245noreply@blogger.com1tag:blogger.com,1999:blog-7217374030544787350.post-28901231867737021612009-03-06T05:39:00.000-08:002009-03-06T05:43:56.157-08:00Berita di Harian Seputar Indonesia<div style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;"><span style="font-weight: bold;"><span style="font-weight: bold;"><span style="font-weight: bold;"></span></span></span>Para pembaca yang saya cintai,<br />kali ini saya akan menampilkan tulisan berita tentang aktivitas sasya tatkala menjadi pembicara di salah satu acara bedah buku di Surabaya. Selamat menikmati.<br /><br /><span style="font-weight: bold;">Penulis Indonesia Masih Minder</span></span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Seputar Indonesia, Friday, 27 February 2009</span><br /><span style="font-size:85%;">SURABAYA (SINDO) – Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) memang sudah berlalu dengan menghasilkan sebuah kumpulan berjudul Reasons for Harmony.</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Namun, pamornya kalah dibanding Asian Beach Games (ABG) di Bali pada saat yang sama.Penulis- penulis Indonesia pun tampak minder saat bertemu dengan penulis negara lain yang jadi pembicara. ”Penulis ini memang selalu minder pada orang-orang luar negeri. Kami tidak tahu siapa yang mengadakan sifat inferior maupun superior.Padahal, kami sama-sama manusia,” ucapan M Faizi, salah seorang peserta UWRF dalam bedah buku Antologi UWRF yang dilaksanakan Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) kemarin.</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Masalah rendahnya minat masyarakat Indonesia terhadap karya sastra memang memprihatinkan.”Itu terjadi juga karena rendahnya daya baca sastra masyarakat kita,” kata penyair Indra Tjahyadi. Indra mencontohkan kasus yang menimpa Mashuri, pemenang pertama lomba novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2007. Untuk menerbitkan antologinya, Mashuri harus ”mengemis” dari penerbit satu ke penerbit yang lain. (zaki zubaidi) </span><br /></div>intjahhttp://www.blogger.com/profile/01523218798186178245noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-7217374030544787350.post-24070291072192102542009-02-22T06:22:00.000-08:002009-02-22T06:28:44.808-08:00Tiga Sajak Penyair Korea<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgljqsEgzBUImSiZx5bbG0ucmsbUrp41dXtGNsh7MbPxXZDzUFsvf5mwlxv-KU9_bloyMlavijC1BWIiqRc264DekRm_vhrImxBwdgVVWNb9xg7KPxyGoonOrcJv4ILiUEArDrEu5qVOcI/s1600-h/sampul+buku+puisi+korea.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 132px; height: 200px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgljqsEgzBUImSiZx5bbG0ucmsbUrp41dXtGNsh7MbPxXZDzUFsvf5mwlxv-KU9_bloyMlavijC1BWIiqRc264DekRm_vhrImxBwdgVVWNb9xg7KPxyGoonOrcJv4ILiUEArDrEu5qVOcI/s200/sampul+buku+puisi+korea.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305628318737681442" border="0" /></a><span style="font-weight: bold;font-size:85%;" >Tiga Sajak Penyair Korea </span><br /><br /><div style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;">Para Pembaca blog yang budiman, </span><br /><span style="font-size:85%;">selamat bertemu lagi dengan saya. Kali ini saya menampilkan tiga buah puisi dari dua penyair Korea. Ketiga puisi penyair Korea yang tayang dalam blog ini semuanya saya ambil dari buku <span style="font-style: italic;">The Columbia Anthology of Modern Korea Poetry</span> dengan David R. McCann. Bagi saya ketiga puisi ini menarik, karena menyajikan kesederhanaan dan kejernihan imaji. Saya kira sampai segini dulu prakata dari saya. Tanpa banyak bicara lagi, saya ucapkan selamat menikmati tiga puisi dari dua penyair Korea. Selamat menikmati. </span><br /><span style="font-size:85%;"> </span><br /><span style="font-weight: bold;font-size:85%;" >Chu Yohan (1900-1980) </span><br /><span style="font-size:85%;"> </span><br /><span style="font-size:85%;">Chu Yohan adalah seorang penyair Korea yang dilahirkan di Pyongyang. Dia mengurus sekolah di Tokyo dan perguruan tinggi di Shanghai. <span style="font-style: italic;">Arumdaun saebyok </span>atau Fajar yang Indah (1924) merupakan buku puisi kesepuluh yang diterbitkan di Korea pada abad 20. Puisinya yang tayang dalam blog ini dialihbahasakan secara bebas oleh Indra Tjahyadi dari puisi <span style="font-style: italic;">Life, Death</span> (Hidup, Kematian). </span><br /><span style="font-size:85%;"> </span><br /><span style="font-weight: bold;font-size:85%;" >HIDUP, KEMATIAN </span><br /><span style="font-size:85%;"> </span><br /><span style="font-size:85%;">Hidup adalah matahari yang tenggelam, sebuah samudera darah, </span><br /><span style="font-size:85%;">Suara gegap gempita langit yang kencang. </span><br /><span style="font-size:85%;">Kematian adalah fajar, kabut yang pucat, </span><br /><span style="font-size:85%;">Sebuah nafas yang murni, pakaian di hari berkabung yang putih. </span><br /><span style="font-size:85%;"> </span><br /><span style="font-size:85%;">Hidup adalah kelap-kelip nyala lilin. </span><br /><span style="font-size:85%;">Kematian adalah kemilau berlian. </span><br /><span style="font-size:85%;">Hidup adalah komedi duka cita. </span><br /><span style="font-size:85%;">Kematian adalah tragedi yang indah. </span><br /><span style="font-size:85%;"> </span><br /><span style="font-size:85%;">Tatkala gelombang menggelegak menenggak gunung </span><br /><span style="font-size:85%;">Ratapan angin meraung di tiang-tiang kapal </span><br /><span style="font-size:85%;">Di atas malam-malam bersalju menumpuk di arah yang bisu </span><br /><span style="font-size:85%;">Cahaya-cahaya bulan nan berbulu melemparkan tawanya nan penuh. </span><br /><span style="font-size:85%;"> </span><br /><span style="font-size:85%;">Hidup adalah sebuah jalan kecil yang kotor menghadap kematin </span><br /><span style="font-size:85%;">Kematian adalah fajar kehidupan baru </span><br /><span style="font-size:85%;">Ah, tenunan yang rumit membuat galur Kematian </span><br /><span style="font-size:85%;">Sebuah kilau karunia yang sakral dalam air bah kehidupan yang berat. </span><br /><span style="font-size:85%;"> </span><br /><span style="font-weight: bold;font-size:85%;" >KIM SOWOL (1902-1934) </span><br /><span style="font-size:85%;"> </span><br /><span style="font-size:85%;">Kim Sowol adalah penyair Korea kelahiran Kusong, Propinsi Pyongyang Utara. Buku puisinya yang berjudul <span style="font-style: italic;">Chindallaekkot </span>atau yang dalam bahasa Indonesia berarti Bunga-bunga merupakan buku ke eempat belas yang diterbitkan di Korea di abad 20. Dua puisinya yang tayang dalam blog ini dialihbahasakan secara bebas oleh Indra Tjahyadi dari puisi <span style="font-style: italic;">Azaleas</span> (Bunga-bunga) dan <span style="font-style: italic;">A Day Long After</span> (Satu Hari Kemudian yang Panjang). </span><br /><span style="font-size:85%;"> </span><br /><span style="font-size:85%;"> </span><br /><span style="font-weight: bold;font-size:85%;" >BUNGA-BUNGA </span><br /><span style="font-size:85%;"> </span><br /><span style="font-size:85%;">Tatkala kau pergi </span><br /><span style="font-size:85%;">Muak melihatku, </span><br /><span style="font-size:85%;">Aku harus melepasmu baik-baik, tanpa kata. </span><br /><span style="font-size:85%;"> </span><br /><span style="font-size:85%;">Dari gunung Tak di Yongbyon </span><br /><span style="font-size:85%;">Segenggam kembang </span><br /><span style="font-size:85%;">Akan kukumpulankan dan kutaburkan di jalanmu. </span><br /><span style="font-size:85%;"> </span><br /><span style="font-size:85%;">Tapak demi tapak </span><br /><span style="font-size:85%;">Di leluruhan kembang sebelummu, </span><br /><span style="font-size:85%;">Kujejaki lembut, dalam, dan terus melangkah. </span><br /><span style="font-size:85%;"> </span><br /><span style="font-size:85%;">Tatkala kau pergi, </span><br /><span style="font-size:85%;">Muak melihatku, </span><br /><span style="font-size:85%;">Meskipun aku mampus; Tidak, aku tak akan mencucurkan airmata. </span><br /><span style="font-size:85%;"> </span><br /><span style="font-weight: bold;font-size:85%;" >SATU HARI KEMUDIAN NAN PANJANG </span><br /><span style="font-size:85%;"> </span><br /><span style="font-size:85%;">Jika kau mencariku di satu hari kemudian nan panjang, </span><br /><span style="font-size:85%;">Lantas aku mungkin berkata, "aku telah lupakan." </span><br /><span style="font-size:85%;"> </span><br /><span style="font-size:85%;">Jika kau menyalahkanku di hatimu, </span><br /><span style="font-size:85%;">"Sangat merindukanmu, telah aku lupa." </span><br /><span style="font-size:85%;"> </span><br /><span style="font-size:85%;">Dalam hatimu jika kau tetap menyalahkanku, </span><br /><span style="font-size:85%;">"Aku tak dapat percaya, maka aku telah lupakan. </span><br /><span style="font-size:85%;"> </span><br /><span style="font-size:85%;">Tak melupakan hari ini atau kemarin; </span><br /><span style="font-size:85%;">Suatu hari kemudian nan panjang, "telah aku lupakan," kataku. </span><br /></div>intjahhttp://www.blogger.com/profile/01523218798186178245noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-7217374030544787350.post-38882687475652724902009-02-09T06:14:00.000-08:002009-02-09T06:28:47.099-08:00Jus Itu Enak dan Murah<div style="text-align: justify;"><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6PRkZZR-yXuuzLBmy5L2BugntnsUITwYgBk65yN9LWQlrgTt0OoEZCNFlfEJyGMOyOFvlIXTTSPZDV2EvlCCA6a-ZSGA_U3zsPqg51byuY6iDRUN1YHMO4U5x4fq54Y67S8yOhc6oMMo/s1600-h/jus+cak+amin+%5Bb%5D.JPG"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6PRkZZR-yXuuzLBmy5L2BugntnsUITwYgBk65yN9LWQlrgTt0OoEZCNFlfEJyGMOyOFvlIXTTSPZDV2EvlCCA6a-ZSGA_U3zsPqg51byuY6iDRUN1YHMO4U5x4fq54Y67S8yOhc6oMMo/s200/jus+cak+amin+%5Bb%5D.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300801290059891090" border="0" /></a><br /></div><div style="text-align: justify;"><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhhMLpGPBK-N-JsoaS5zoYSe8cuwon-tlikmrluT8mDwx6WxYR_UT85eAEB94PyKs6w7eu8iEGqcJ2JYiLJwPRttAuPAlHA5u2hfEzKEGbxhfCx6FRy2jy6nkR8DLBTuxjS0je2RZHxBSw/s1600-h/jus+cak+amin+%5Ba%5D.JPG"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhhMLpGPBK-N-JsoaS5zoYSe8cuwon-tlikmrluT8mDwx6WxYR_UT85eAEB94PyKs6w7eu8iEGqcJ2JYiLJwPRttAuPAlHA5u2hfEzKEGbxhfCx6FRy2jy6nkR8DLBTuxjS0je2RZHxBSw/s200/jus+cak+amin+%5Ba%5D.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300801287822640514" border="0" /></a><span style="font-size:85%;">Para pembaca blog yang budiman,</span><br /><span style="font-size:85%;">Selamat bertemu lagi dengan saya, pemandu blog yang anda cintai. Sebelumnya saya ijinkan saya untuk mengucapkan "SELAMAT TAHUN BARU 2009. SEMOGA SEMAKIN SUKSES." Kali ini saya ingin menampilkan dua buah foto sebuah warung jus yang ada di Probolinggo, kota tempat saya tinggal saat ini. Warung itu bernama "Jus Cak Amin". Menurut saya jus di warung ini sangat enak sekali, baik dari segi rasa maupun harganya.</span><br /><span style="font-size:85%;">Baiklah saya kira sebegini dulu prakata dari saya. Akhir kata silahkan menikmati dua buah foto saya ini. Sekali lagi, Selamat Tahun Baru 2009, Sukses selalu bagi anda. Terima kasih.</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">NB. Ini saya tampilkan bukan karena kepentingan komersial, tapi semata karena saya menyukai karya jus mereka. </span></div>intjahhttp://www.blogger.com/profile/01523218798186178245noreply@blogger.com1tag:blogger.com,1999:blog-7217374030544787350.post-6608952050183577562008-12-18T06:19:00.000-08:002008-12-21T03:13:33.495-08:00V FOR VENDETTA<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhigjAWre-CLn9N4FrElX2pVSLb4LqqN1zOvz84dk6omot9X2kkOS1ol6G7wWXacRNuDteaJ-PWhOj-TbYAbED8KcvJXQ45Xa63cyKCAyO6fpj0ojowWVDG8OfZMXnbiPnT798eWyazu4U/s1600-h/Vforvendettamov.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 135px; height: 200px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhigjAWre-CLn9N4FrElX2pVSLb4LqqN1zOvz84dk6omot9X2kkOS1ol6G7wWXacRNuDteaJ-PWhOj-TbYAbED8KcvJXQ45Xa63cyKCAyO6fpj0ojowWVDG8OfZMXnbiPnT798eWyazu4U/s200/Vforvendettamov.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281136855772367746" border="0" /></a><span style="font-size:85%;"><br /></span><div style="text-align: justify;"><span style="font-weight: bold;font-size:85%;" >"V for Vendetta" karya Alan Moore dan David Lloyd</span><span style="font-size:85%;"><br /><br /></span><span style="font-size:85%;">Para pembaca blog yang budiman,<br /></span><span style="font-size:85%;">Selamat bertemu lagi dengan saya, pemandu blog yang anda cintai. Kali ini saya akan menampilkan sebuah kutipan dari novel grafis karya AAlan Moore dan David Lloyd yang berjudul "V for Vendetta". Novel grafis ini sungguh menarik, sebab bukan hanya ceritanya yang menakjubkan tetapi juga dialog-dialog yang ditampilkannya terkesan sangat kuat. Maka tanpa banyak cingcong lagi saya ucapkan selamat menikmati.<br /><br /></span><span style="font-weight: bold;font-size:85%;" >Kutipan dari "V for Vendetta"</span><span style="font-size:85%;"><br /><br /></span><span style="font-size:85%;">Remember, remember, the Fifth of November, the Gunpowder Treason and Plot. I know of no reason why the Gunpowder Treason should ever be forgot... But what of the man? I know his name was Guy Fawkes and I know, in 1605, he attempted to blow up the Houses of Parliament. But who was he really? What was he like? We are told to remember the idea, not the man, because a man can fail. He can be caught, he can be killed and forgotten, but 400 years later, an idea can still change the world. I've witnessed first hand the power of ideas, I've seen people kill in the name of them, and die defending them... but you cannot kiss an idea, cannot touch it, or hold it... ideas do not bleed, they do not feel pain, they do not love... And it is not an idea that I miss, it is a man... A man that made me remember the Fifth of November. A man that I will never forget</span></div>intjahhttp://www.blogger.com/profile/01523218798186178245noreply@blogger.com3tag:blogger.com,1999:blog-7217374030544787350.post-49042567724848587442008-09-13T06:11:00.000-07:002008-09-13T06:21:07.799-07:00TIGA PUISI CHARLES BAUDELAIRE<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiYwLHAYFU9Ll5gmob87EbtocECaCtgybMVLCI2tZsCYXUDokK08zxlztdGr2q4dWMwp6906dBDCrIrDsw3l9aQrgEd-YkKdRFoZ2-4C5YiS3SyIzTJbBYmy840KMbjcGC7-yWARld4SyU/s1600-h/cover+cb.jpg"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiYwLHAYFU9Ll5gmob87EbtocECaCtgybMVLCI2tZsCYXUDokK08zxlztdGr2q4dWMwp6906dBDCrIrDsw3l9aQrgEd-YkKdRFoZ2-4C5YiS3SyIzTJbBYmy840KMbjcGC7-yWARld4SyU/s200/cover+cb.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245495183144837202" border="0" /></a><br /><span style="font-size:85%;">CHARLES BAUDELAIRE (1821 – 1867)<br /><br /></span><div style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;">Para pembaca blog yang budiman,<br /></span><span style="font-size:85%;">Selamat bertemu lagi dengan saya, pemandu blog yang anda cintai. Kali ini saya akan menampilkan toga sajak dari Charles Baudelaire (C.B.) yang telah saya alihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia. Ketiga sajak C.B. ini saya ambil dari buku Baudelaire; Selected Poems terbitan Phoenix Poetry tahun 2003. Ketiga sajak C.B. yang saya alihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia ini semuanya berasal dari sajak-sajak C.B. yang telah dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris dari bahasa aslinya, Prancis, oleh J. M. Dent.<br /></span><span style="font-size:85%;">Tak pelak, Baudelaire adalah seorang penyair Perancis dengan daya persajakan terkuat yang pernah ada di dunia. Bahkan ia dapat adalah salah satu penyair besar Perancis dan dunia di abad 19. Meski memiliki imaji dan metafora yang muram, akan tetapi sajak-sajak Baudelaire tetap memiliki nilai pukau yang sangat hebat. Maka tanpa banyak cingcong lagi saya ucapkan selamat menikmati. Semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan perpuisian para pembaca blog yang saya cintai.<br /><br /></span><span style="font-weight: bold;font-size:85%;" >Sajak-sajak Charles Baudelaire</span><span style="font-size:85%;"><br /><br /></span><span style="font-weight: bold;font-size:85%;" >MALAM-MALAM DI SORGA TAK LEBIH CANTIK</span><span style="font-size:85%;"><br /><br /></span><span style="font-size:85%;">Malam-malam di sorga tak lebih cantik<br /></span><span style="font-size:85%;">Ketimbang dirimu, kekasih, tenang dan duka cita<br /></span><span style="font-size:85%;">Bejana tangisku; dan ketika kau berpaling<br /></span><span style="font-size:85%;">Cintaku tumbuh makin kuat. Malam mengubah hari,<br /></span><span style="font-size:85%;">Aku mencintamu untuk sebuah ikatan ironi<br /></span><span style="font-size:85%;">Tempatmu di antara langit dan pembelaanku<br /><br /></span><span style="font-size:85%;">Aku merangkak susuri tubuhmu layaknya sekumpulan<br /></span><span style="font-size:85%;">Cacing menyusuri sebuah mayat. O binatang buas, pujaan<br /></span><span style="font-size:85%;">Semakin kau perlihatkan padaku, untuk memperbesar rasa sakitku<br /></span><span style="font-size:85%;">Kebaikan dan hinaanmu yang keras kepala<br /><br /></span><span style="font-size:85%;">*) dialihbahasakan secara bebas oleh Indra Tjahyadi dari sajak <span style="font-style: italic;">The nightly heavend are not more beautiful</span><br /><br /></span><span style="font-weight: bold;font-size:85%;" >KAU AKAN MENYESAL</span><span style="font-size:85%;"><br /><br /></span><span style="font-size:85%;">Siapakah yang memahami seorang penyair? Hanya sebuah nisan.<br /></span><span style="font-size:85%;">Maka hanya pada nisan kuakui mimpi-mimpiku.<br /><br /></span><span style="font-size:85%;">Kegelapanku, kecantikanku yang muram, tatkala kau terbaring<br /></span><span style="font-size:85%;">Tidur di bawah pualam hitam, tatkala rumah besarmu<br /></span><span style="font-size:85%;">Yang kaya berubah menjadi bangunan batu yang rapuh,<br /></span><span style="font-size:85%;">Kamar tidurmu menuju sebuah kegelapan dan parit yang kosong<br /><br /></span><span style="font-size:85%;">Dan tatkala di bawah himpitan seluruh batu-batu itu<br /></span><span style="font-size:85%;">Hatimu tak dapat berharap ataupun bergerak,<br /></span><span style="font-size:85%;">Pahamu terkunci, kakimu tak lagi berlari<br /></span><span style="font-size:85%;">Para periang mengirimkan pesan kegairahan cinta,<br /><br /></span><span style="font-size:85%;">Bagaimana hal itu dapat berguna bila kau tak mengetahuinya<br /></span><span style="font-size:85%;">Apakah yang ditangisi kematian, kau yang beradat pelacur?<br /></span><span style="font-size:85%;">Demam dan insomnia menunggumu,<br /></span><span style="font-size:85%;">Cacing-cacing akan menggerogotimu sebagai penggerogotan rasa sesal yang dahsyat<br /><br /></span><span style="font-size:85%;">*) dialihbahasakan secara bebas oleh Indra Tjahyadi dari sajak <span style="font-style: italic;">You Will Repent</span><br /><br /></span><span style="font-weight: bold;font-size:85%;" >YA, KUINGAT RUMAH</span><span style="font-size:85%;"><br /><br /></span><span style="font-size:85%;">Ya, kuingat rumah, kuingat semuanya,<br /></span><span style="font-size:85%;">Tabirnya yang berat dan dindingnya yang berkapur,<br /></span><span style="font-size:85%;">Sebuah adonan Zohral yang bergemetelakan di pohon,<br /></span><span style="font-size:85%;">Tapal lengannya menyembuyikan ketelanjangannya<br /></span><span style="font-size:85%;">Dan setiap sore cahaya matahari merendah,<br /></span><span style="font-size:85%;">Menyapu atap, rerumput, kaca jendela<br /></span><span style="font-size:85%;">Terbuka seperti sebuah berkas, menumpahkan cahayanya,<br /></span><span style="font-size:85%;">Dan menatap kita sedang duduk-duduk di separoh malam:<br /></span><span style="font-size:85%;">Kita berat bercakap, menyaksikan bayang-bayang merangkak<br /></span><span style="font-size:85%;">Menyusuri papan yang kurus dan menuju ke ruang tengah.<br /><br /></span><span style="font-size:85%;">*) dialihbahasakan secara bebas oleh Indra Tjahyadi dari sajak Yes, I remember the house<br /><br /></span></div>intjahhttp://www.blogger.com/profile/01523218798186178245noreply@blogger.com4tag:blogger.com,1999:blog-7217374030544787350.post-13498467590061573852008-08-21T07:28:00.000-07:002008-08-21T07:35:55.400-07:00SORE DI STASIUN GUBENG [2]<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoLtLiaX95cKM2wtEMQbXqvQnt0dpcTuoRinOWF91UXNBXBNAt-O2rXxbVa7KcgQZD8rN0762OF_-DgRCmQ6DB_ki46wueoIzHF4aPvgr1L_LsvfLnH8Lfp8D_J4yvdahdONfLqRUtP_g/s1600-h/sore+di+gubeng6.JPG"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoLtLiaX95cKM2wtEMQbXqvQnt0dpcTuoRinOWF91UXNBXBNAt-O2rXxbVa7KcgQZD8rN0762OF_-DgRCmQ6DB_ki46wueoIzHF4aPvgr1L_LsvfLnH8Lfp8D_J4yvdahdONfLqRUtP_g/s200/sore+di+gubeng6.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236979296180070706" border="0" /></a><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgyKMzTrov4V4kUT_Kk-VzyYGkye0xn6g2nbEJUQ7EN-lsK7ftzWH_erKxjmb74ONOQ4ybvZsaXxcQsodhTgjZiHhn9vTym6wDKXSI1IZ4uOoFBWzP7vMrek2iXUXhXLUvjsp4b74rRZHk/s1600-h/sore+di+gubeng7.JPG"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgyKMzTrov4V4kUT_Kk-VzyYGkye0xn6g2nbEJUQ7EN-lsK7ftzWH_erKxjmb74ONOQ4ybvZsaXxcQsodhTgjZiHhn9vTym6wDKXSI1IZ4uOoFBWzP7vMrek2iXUXhXLUvjsp4b74rRZHk/s200/sore+di+gubeng7.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236979302519501346" border="0" /></a><br /><div style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;">Selamat malam para pembaca blog yang budiman….</span><br /><span style="font-size:85%;">Selamat bertemu lagi dengan saya, pemandu blog anda yang anda cintai. Kali ini saya akan menampilkan foto-foto hasil jepretan saya. Foto-foto ini saya ambil di Stasiun Gubeng Surabaya. Semoga foto-foto ini dapat menghibur anda yang rindu dengan kota Surabaya. Selamat menikmati.</span></div>intjahhttp://www.blogger.com/profile/01523218798186178245noreply@blogger.com3tag:blogger.com,1999:blog-7217374030544787350.post-76667319818769388032008-08-21T07:12:00.000-07:002008-08-21T07:28:12.478-07:00SORE DI STASIUN GUBENG [1]<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhH-AFs5KTWBfw3lC3_lp-GthrXwNzQ8JRVee0aLbUMHSb6ykzC6VQWKfK-1Is6fytCFLfla68KejLPPiHFnkBbg_rr0z6J0t3RJ9skkBXm-duEA7bwkDjA8shkEj7pJo6w7iT-K6irBfY/s1600-h/sore+di+gubeng1.JPG"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhH-AFs5KTWBfw3lC3_lp-GthrXwNzQ8JRVee0aLbUMHSb6ykzC6VQWKfK-1Is6fytCFLfla68KejLPPiHFnkBbg_rr0z6J0t3RJ9skkBXm-duEA7bwkDjA8shkEj7pJo6w7iT-K6irBfY/s200/sore+di+gubeng1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236977382639096978" border="0" /></a><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihbc17_UU8pYXEHeiU200nUp3hF-hOJGkXLIdB6a9Qs3t935KU5ZsNlvsGxPIJTtKRnWmFILAcMqL6AR23ZCndBba1_tPqdjsJayTA9ncZ43Ur5-hK56XEccG7NnSwVZRvzefi8meQdZg/s1600-h/sore+di+gubeng2.JPG"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihbc17_UU8pYXEHeiU200nUp3hF-hOJGkXLIdB6a9Qs3t935KU5ZsNlvsGxPIJTtKRnWmFILAcMqL6AR23ZCndBba1_tPqdjsJayTA9ncZ43Ur5-hK56XEccG7NnSwVZRvzefi8meQdZg/s200/sore+di+gubeng2.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236977387638213874" border="0" /></a><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhD13MbUlDprNxOBo38KJ-IrWw9OuPLiAy8ZkhAeOnPJKCjHHEBB10loS41fiUHm2VTCChN65SdQccvPPePEsEPqZgJ3mqAQqKMZgp27KJELNx7jXdJXQDSdOrigyMHNs7aUnMnPKnCZyc/s1600-h/sore+di+gubeng3.JPG"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhD13MbUlDprNxOBo38KJ-IrWw9OuPLiAy8ZkhAeOnPJKCjHHEBB10loS41fiUHm2VTCChN65SdQccvPPePEsEPqZgJ3mqAQqKMZgp27KJELNx7jXdJXQDSdOrigyMHNs7aUnMnPKnCZyc/s200/sore+di+gubeng3.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236977394342359522" border="0" /></a><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUU2Ery3ysiBuqGNi1t4vI64cdmjT_zarHzNlOV9rbXhld17xFk-FOFCzpDsT4bfRs57L0ruG-H2Zkl-IZ9yaMO8oXlD2EC0L_n4R4ObXWSKqYuiNGaV00nXWa0EcmSPRcZraPkp9L7Xk/s1600-h/sore+di+gubeng4.JPG"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUU2Ery3ysiBuqGNi1t4vI64cdmjT_zarHzNlOV9rbXhld17xFk-FOFCzpDsT4bfRs57L0ruG-H2Zkl-IZ9yaMO8oXlD2EC0L_n4R4ObXWSKqYuiNGaV00nXWa0EcmSPRcZraPkp9L7Xk/s200/sore+di+gubeng4.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236977397429959666" border="0" /></a><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhARoeP3l_1SAO66XoTEJAjBBqTwCliD9WjDlqZ3e89WXVYxBRIBj0s01quXGGQduX1gpwhAZhl44vAXwRO5CK0IzrTy8EkTmj8FoKuCol3FpFIXG55qDbT-954vI8qEgeioDFj8xHANKw/s1600-h/sore+di+gubeng5.JPG"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhARoeP3l_1SAO66XoTEJAjBBqTwCliD9WjDlqZ3e89WXVYxBRIBj0s01quXGGQduX1gpwhAZhl44vAXwRO5CK0IzrTy8EkTmj8FoKuCol3FpFIXG55qDbT-954vI8qEgeioDFj8xHANKw/s200/sore+di+gubeng5.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236977402549303666" border="0" /></a><br /><div style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;">Selamat malam para pembaca blog yang budiman….<br />Selamat bertemu lagi dengan saya, pemandu blog anda yang anda cintai. Kali ini saya akan menampilkan foto-foto hasil jepretan saya. Foto-foto ini saya ambil di Stasiun Gubeng Surabaya. Semoga foto-foto ini dapat menghibur anda yang rindu dengan kota Surabaya. Selamat menikmati.<br /></span></div>intjahhttp://www.blogger.com/profile/01523218798186178245noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-7217374030544787350.post-74420398246080875622008-07-01T00:42:00.000-07:002008-07-01T00:46:59.350-07:00Puisi Joseph Brodsky<div style="text-align: center;"><span style="font-weight: bold;font-size:85%;" >MARI SAMBUTLAH: JOSEPH BRODSKY….</span><br /></div><span style="font-size:85%;"><br />Selamat malam para pembaca blog yang budiman….<br />Selamat bertemu lagi dengan saya, pemandu blog anda yang anda cintai. Kali ini saya akan menampilkan sebuah sajak dari Joseph Brodsky yang berjudul “Lagu Belfas” hasil terjemahan dari Tuan Agus R. Sarjono dan Nyonya Nikmah Sarjono. Sajak yang memukau ini saya comot dari buku “Joseph Brodsky: Kepada Ukraina” yang diterbitkan oleh Forum Sastra Bandung pada tahun 1998. Seperti telah kita ketahui bersama bahwa penyair yang bernama panjang Iosif Alexandrovich Brodsky ini merupakan salah satu penyair besar dunia yang pernah meraih hadiah Nobel di bidang sastra. Baiklah kalau begitu, tanpa banyak bacot lagi, langsung saja saya haturkan: “Lagu Belfas” karya Joseph Brodsky.<br />Selamat menikmati.<br /><br /></span><div style="text-align: center;"><span style="font-weight: bold;font-size:85%;" >LAGU BELFAS</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Ada seorang gadis dari sebuah kota yang berbahaya</span><br /><span style="font-size:85%;">Ia memotong pendek rambutnya yang gelap</span><br /><span style="font-size:85%;">hingga tak banyak dari dirinya yang musti berwajah masam</span><br /><span style="font-size:85%;">ketika seseorang terluka.</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Ia melipat kenangannya seperti melipat parasut.</span><br /><span style="font-size:85%;">Jatuh, ia mengumpulkan tanah bakaran</span><br /><span style="font-size:85%;">dan memasak makanannya di rumah: mereka menembak</span><br /><span style="font-size:85%;">sambil makan-makan di sini.</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Ah, ada lebih banyak langit di bagian ini dibanding, katakanlah,</span><br /><span style="font-size:85%;">daratan. Sejak suaranya menggantung</span><br /><span style="font-size:85%;">dan pandangannya menodai retinamu, seperti bola lampu</span><br /><span style="font-size:85%;">memucat ketika kau nyalakan.</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Belahan-belahan bumi. Dan gaunnya yang sepanjang lutut</span><br /><span style="font-size:85%;">terpotong roknya untuk menangkal angin kencang</span><br /><span style="font-size:85%;">yang tiba tak terduga.</span><br /><span style="font-size:85%;">Aku bermimpi tentangnya</span><br /><span style="font-size:85%;">entah dicintai atau terbunuh</span><br /><span style="font-size:85%;">karena kotanya terlalu kecil.</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">1986.</span><br /></div><span style="font-size:85%;"><br /></span>intjahhttp://www.blogger.com/profile/01523218798186178245noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-7217374030544787350.post-36057768078860148802008-04-17T05:56:00.000-07:002008-04-17T06:03:12.305-07:00Cerpen "Tuduhan"<div style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;">Para pembaca blog yang budiman,<br />selamat bertemu lagi dengan saya, pemandu yang anda cintai. Kali ini saya akan menayangkan sebuah cerpen karya saya sendiri yang berjudul "Tuduhan". Cerpen ini merupakan cerpen eksperiman. Rencananya cerpen ini akan dimuat di dalam sebuah kumpulan cerpen yang berjudul "Dekonstruksi, Suatu Hari...." Bersama beberapa prosais anti-cerita Surabaya, seperti Ribut Wijoto dan Muhammad Aris.<br />Saya kira, sebegini dulu ucapan dari saya. Selamat membaca.<br /><br /></span> <div style="text-align: center;"><span style="font-weight: bold;font-size:85%;" >TUDUHAN</span><br /><span style="font-size:85%;">Cerpen: Indra Tjahyadi*)</span><br /></div> <span style="font-size:85%;"><br />Alkisah, di sebuah tempat, di suatu forum, di suatu hari yang tak jauh dari masa kini seseorang pernah berhujah: “Sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak berkarakter!”<br />Saat itu, tentu saja, mereka yang merasa dirinya sastrawan Jawa Timur berbondong-bondong lekas berberondong-berondong memberikan gugatan terhadap pernyataan itu. Menurut mereka penyataan tersebut mereka tidak beralasan dan berlandaskan itu. Mereka berpendapat, pemberi pernyataan adalah seseorang tidak mengenal baik kultur Jawa Timur yang heterogen.<br /> Tadinya saya, sebagai seseorang yang juga merasa dirinya sastrawan Jawa Timur, juga merasa tergerak untuk ikut melakukan gugatan balik atas pernyataan itu. Tapi niatan itu saya urungkan. Saya ingin memahami dulu pernyataan itu secara utuh, terutama pada kata berkarakter, meski kata tersebut acap muncul sehari-hari.<br /> Kiranya akan lebih mudah bagi saya dalam memahami kata tersebut apabila saya mengetahui terlebih dulu arti kata tersebut. Kata berkarakter adalah kata berimbuhan. Kata ini memiliki kata dasar karakter yang dikenai prefiks ber-. Bersama me-, pe-, se-, ter-, di-, ke-, prefiks ber- adalah salah satu imbuhan yang baku dalam bahasa Indonesia. Demi mengetahui hal ini, maka saya pun mulai mencari terlebih dahulu apa arti kata karakter.<br /> Setelah membolak-balik isi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi III (2001) ternyata kata karakter yang saya cari tidak tercantum sebagai lema. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Bukankah kata tersebut adalah kata yang terhitung akrab dalam pergaulan berbahasa kita sehari-hari?<br /> Kesal dengan keadaan ini, selekasnya saya tutup kamus resmi bahasa Indonesia tersebut, dan beralih kepada Kamus Inggris-Indonesia (1996) yang disusun oleh Jhon M. Echols dan Hassan Shadily. Dalam kamus tersebut, kata character berarti: (1) watak, karakter, sifat; (2) peran; (3) huruf. Meski telah mendapatkan sedikit gambaran atas arti kata karakter, tapi dalam benak saya muncul pertanyaan yang lain: apakah pernyataan “sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak berkarakter” itu sama artinya dengan: (a) sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak berwatak, (b) sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak bersifat, (c) sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak berperan, dan (d) sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak berhuruf?<br /> Kata watak dalam KBBI Edisi III berarti sifat batin manusia yang memengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku; budi pekerti; tabiat. Sementara kata berwatak berarti memunyai watak; berkepribadian; bertingkah laku. Jadi pernyataan “sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak berwatak” dapat diartikan sebagai: pertama, sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak memunyai watak. Dalam artian bahwa ia tidak memunyai sifat batin manusia yang memengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku.<br />Pertanyaannya: sebagaimana sastra pada umumnya yang merupakan hasil cipta, karsa dan rasa manusia, mungkinkah sastra Jawa Timur tidak memunyai sifat batin manusia yang memengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku, sebab bukankah sebagai hasil dari cipta, karsa dan rasa manusia, sastra Jawa Timur juga terikat dengan sifat batin manusia, dan bukankah dengan terlontarnya pernyataan tentang ihwal keberadaan itu berarti bahwa sedikit-banyak ia telah memeranguhi pikiran dan tingkah laku manusia?<br /> Untuk menjawab pertanyaan ini, kiranya, diperlukan penelitian yang mendalam dan detail terhadap sastra Jawa Timur dalam hal pengaruh-memengaruhinya. Tanpa hal itu, pernyataan yang bersifat mendiskreditkan sastra Jawa Timur tersebut akan hanya menjadi omong kosong belaka. Sebab, secara sepintas lalu saja, saya ragu apabila insan-insan sastra di negeri ini yang tidak mengenal nama-nama besar sastrawan Jawa Timur semacam Muhammad Ali, Budi Darma, D. Zawawi Imron, Beni Setia, Tjahjono Widijanto, Tjahjono Widarmanto, Mardi Luhung, ataupun Mashuri.<br /> Arti kedua dari penyataan “sastra Jawa Timur adalah sastra yang tak berwatak” dapat dipahami sebagai bahwa sastra Jawa Timur tidak berkepribadian. Dalam KBBI Edisi III kata kepribadian berarti sifat hakiki yang tercermin pada sikap seseorang atau suatu bangsa yang membedakannya dari orang atau bangsa lain. Jadi secara luas arti kedua dari pernyataan “sastra Jawa Timur adalah sastra yang tak berwatak” dapat dipahami sebagai bahwa sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak memunyai sifat hakiki yang tercermin pada sikap seseorang atau suatu bangsa yang membedakannya dari orang atau bangsa lain.<br />Pertanyaannya: benarkah novel-novel atau cerpen-cerpen Muhammad Ali tak sedikit pun memiliki perbedaan dengan membaca novel atau cerpen-cerpennya A.A. Navis misalnya? Benarkan novel-novel atau cerpen-cerpennya Budi Darma tak sedikit pun memiliki perbedaan dengan membaca novel-novel atau cerpen-cerpennya Umar Kayam misalnya? Benarkah puisi-puisinya D. Zawawi Imron tak sedikitpun memiliki perbedaan dengan membaca puisi-puisinya Umbu Landu misalnya? Lagi-lagi pertanyaan-pertanyaan sederhana yang membutuhkan jawaban yang tidak sederhana.<br /> Ketiga, arti dari “sastra Jawa Timur adalah sastra yang tak berwatak” adalah sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak bertingkah laku. Maksudnya adalah sastra Jawa Timur adalah sastra tidak memunyai kelakuan atau perangai. Dalam artian, bahwa sastra Jawa Timur adalah sastra yang tidak memiliki cara khas seseorang dalam beraksi terhadap berbagai macam fenomena.<br /> Pertanyaannya: benarkah demikian? Apakah seorang Muhammad Ali tidak memunyai cara khas dalam beraksi terhadap berbagai macam fenomena sehingga ia dapat begitu saja dipersamakan dengan Mochtar Lubis misalnya? Apakah seorang Budi Darma tidak memunyai cara khas dalam beraksi terhadap berbagai macam fenomena sehingga ia dapat begitu saja dipersamakan dengan Kuntowijoyo misalnya? Apakah seorang D. Zawawi Imron tidak memunyai cara khas dalam beraksi terhadap berbagai macam fenomena sehingga ia dapat begitu saja dipersamakan dengan Umbu Landu misalnya? Apakah seorang Mashuri tidak memunyai cara khas dalam beraksi terhadap berbagai macam fenomena sehingga ia dapat begitu saja dipersamakan dengan Binhad Nurrohmat misalnya?<br /> Memahami penalaran di atas, tiba-tba saya teringat dengan perkataan Remy Sylado: “Sudah jadi model Indonesia: asal gebuk, zonder nalar.” Ah, sayang sekali. Sayang sekali… <br /><br /></span></div>intjahhttp://www.blogger.com/profile/01523218798186178245noreply@blogger.com7tag:blogger.com,1999:blog-7217374030544787350.post-17155097175627202072008-04-11T05:52:00.002-07:002008-04-11T06:16:19.095-07:00Dari Manuskrip "Syair Pemanggul Mayat"<div style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;">Para pembaca blog yang saya hormati,<br />selamat bertemu lagi dengan saya, pembaca acara anda yang tercinta. Kali ini saya menayangkan beberapa puisi saya yang termaktub dalam manuskrip kumpulan puisi saya yang saya beri judul "Syair Pemanggul Mayat". Manuskrip ini kelar saya susun tahun kemarin. Semoga para pembaca blog yang saya hormati suka membacanya. Akhir kata saya ucapkan: "Selamat menikmati."<br /></span></div><span style="font-size:85%;"><br /><span style="font-weight: bold;font-size:78%;" >MEMAJANG LANGIT</span><span style="font-size:78%;"><br /><br />Kupajang langit. Malaikat-malaikat merintih dalam tidur<br />yang sepi. Bulan terbakar dan sajak lahir dari kebencian matahari.<br />Aku tarik segenap luka dan bau busuk orang mati.<br />Nafasku buruk. Bersekutu dengan iblis dan hantu malam hari.<br /><br />Aku tapaki jurang-jurang kegelapan. Bumi kuubah jadi puing,<br />jadi ilusi kebosanan yang keji. Lumpur-lumpur melompat dan banjir<br />tak terbendung lagi. “O betapa khidmat kelicikan mengubah hari<br />jadi sungai-sungai sampah yang pesing!”<br />Kuseret mobil-mobil dengan dendam dan darah musim.<br /><br />Bangkai-bangkai tikus memberi makan pada mimpi yang sedih.<br />Aku berpegang teguh pada angin. Ruhku begitu gaib menyayati iklim.<br />Aku maut yang bergeleparan di ranjang-ranjang! Di tanah,<br />hasrat yang paling jijik berlingkaran bagaikan lipan. Arwahku<br />menembus malam. Menjadi dosa yang menggeram di kerak Neraka.<br /><br />1998.<br /><br /></span><span style="font-weight: bold;font-size:78%;" >DARI PETA KESUNYIAN WAJAHMU</span><span style="font-size:78%;"><br /><br />Dari peta kesunyian wajahmu, lanskap cuaca<br />yang pecah menanam pohon kematian<br />di puncak diamku.<br /><br />Suara-suara memanggil impresi rumah<br />pembakaran mayat dan tahun<br />tahun berbatu.<br /><br />Kanopi musim begitu terjaga dan utuh,<br />tapi persalinan gerimis demikian<br />landai, membentuk semesta<br />dalam warna kuning kusam dari ingatan<br />dan kerinduan yang samun bersemu.<br /><br />Aku tersepih dalam hening, dan udara<br />kering membeku. Di antara tiang<br />rumpang dan rumput kuyup kulukis taifun,<br />seperti anak jembalang yang membidik angin<br />dengan matanya yang hancur.<br /><br />Aku adalah jari-jari kesia-siaan yang terpanggang<br />bara dan harum aroma nafasmu. Dan pada<br />kisaran yang dibawa kelu, berpegang<br />pada kabut, teguh.<br /><br />Meski di sungai-sungai yang asat dan putih itu<br />kekal kupu-kupu telah terperangkap. Sedang<br />kita masih saja tak mengerti, bagaimana<br />seribu kunang-kunang limbur, sementara hidup<br />kian dihanyutkan, serupa perahu.<br /><br />1999.<br /><br /></span><span style="font-weight: bold;font-size:78%;" >AKU SAKSIKAN BURUNG-BURUNG KEMATIAN</span><span style="font-size:78%;"><br /></span><span style="font-weight: bold;font-size:78%;" >BERPENDAR DI DASAR OTAKKU</span><span style="font-size:78%;"><br /><br />Aku saksikan burung-burung kematian berpendar di dasar otakku.<br />Tombak angin yang menderita menorehkan gerimis pada batu.<br />Seribu kali kilat rasa sakit tergila meledak dalam jantungku,<br />seraya menyerakkan ribuan belatung, seperti kemenawanan tahajud<br />daun gugur yang sarat dengan perih dan senantiasa menyeret jejakku<br />menuju seribu tahun.<br /><br />Rupa kegelapan terkeras mengiris hitam wajahku. Anak-anak malaikat<br />mengubah para pejalan jadi waktu. Sesuatu tengah tumbuh<br />dan berdentam dalam bayanganku, seperti harapan para pembakar<br />yang menghuni sejarah dan seribu luka pendiamanku, yang akan senantiasa<br />mengubah segalanya jadi abu, seperti gairah penyair yang muram-busuk,<br />yang menjejalkan ribuan ular ke dalam mulutku.<br /><br />Aku tenggelam dalam impian yang kuimpikan, yang memimpikan aku.<br />Kupu-kupu arwah mencecap kelaminku. Tangan kekar halilintar<br />begitu lekap membekap nafasku, perlahan pikiranku tercuri seribu niat buruk,<br />membangun menara geludhuk dalam warna kuning perdu, seperti tidur<br />sepanjang gerhana yang meniupkan hidup pada maut dan akan senantiasa<br />menggelantungi pucuk rentan alisku.<br /><br />Kerangka musim hujan menggali kuburan pada anusku. Cuaca begitu buruk<br />mendirikan kuil ratusan abad dalam tubuhku. Ini adalah kegembiraan<br />kegembiraan yang senantiasa membangkitkan hantu-hantu dalam nafsuku,<br />seribu kali menorehkan amis darah pada jidatku, seperti narasi suram yang kekal:<br />pulau para pecinta yang tak lagi berpenghuni selain pemabuk.<br /><br />1998-2000.<br /><br /></span><span style="font-weight: bold;font-size:78%;" >ORNAMEN PATAH</span><span style="font-size:78%;"><br /> buat Dorothea<br /><br />Dan perasaan yang mengeras dengan pohon<br />pohon tak bersalju telah mengapungkan<br />seluruh kesendirianku.<br /><br />Hingga kenangan masa kanakku menggumpal,<br />menjelma kata-kata yang lebih muram<br />ketimbang mayatku.<br /><br />Meski dari tatapan patung-patung yang tumbuh<br />dalam matamu, kita telah melihat burung<br />burung berlayar, seperti perahu,<br />dengan bayang-bayang hitam yang menancap<br />di ulu tidurku, serupa Nuh atau tahajud batu-batu.<br /><br />Bahkan ketika sosok keparauan menajam seperti gemuruh<br />(tapi masih percayakah kau pada peta, peta yang ditulis<br />dalam kabut?).<br /><br />1999-2000.<br /><br /></span><br /></span>intjahhttp://www.blogger.com/profile/01523218798186178245noreply@blogger.com1tag:blogger.com,1999:blog-7217374030544787350.post-23141823503108380822008-03-13T04:37:00.000-07:002008-03-13T04:49:45.104-07:00Berita Kompas Pustakaloka<div style="font-weight: bold; text-align: justify;font-family:arial;" id="judulartikelcetak"><span style="font-size:85%;"><span style="font-size:100%;"><span style="font-size:85%;"><span style="font-weight: normal;">Pemirsa blog yang budiman,</span><br /><span style="font-weight: normal;">kali ini saya menayangkan sebuah tulisan yang dari harian Kompas, Senin, 10 Maret 2008.<br />Selamat menikmati.<br /></span></span><span style="font-weight: bold;"><br /></span>Ketika Penyair Mencari Ruang</span><br /><br /></span></div><div style="text-align: justify;"> <!--<div id="subjudulartikelcetak">Satuan Keamanan PBB Diterjunkan</div> --> </div><div style="font-family: arial;" class="txtartikelcetak"><div style="text-align: justify;"> <!--zoom image--> <script language="javascript"> function Big(me) { me.width *= 1.700; me.height *= 1.700; } function Small(me) { me.width /= 1.700; me.height /= 1.700; } </script> </div><div style="text-align: justify;" id="boximartikelcetak1"> <table style="text-align: left; margin-left: 0px; margin-right: 0px;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" height="200" width="300"> <tbody><tr> <td> <span style="font-size:85%;"><img src="http://www.kompas.co.id/data//photo/2008/03/10/2680030p.jpg" onmouseover="Big(this);" onmouseout="Small(this);" height="220" width="300" /></span> </td> </tr> <tr> <td> <div align="right"><span style="font-size:85%;"><span class="txfotocetak"> PALUPI PANCA ASTUTI / <a href="http://www.kompasimages.com/" target="_blank">Kompas Images</a> <br /> Para penyair yang memiliki blog pribadi. Dari kiri, Mashuri, Indra Tjahyadi, dan F Aziz Manna (memakai topi). </span></span> </div> </td> </tr> </tbody></table> </div><div style="text-align: justify;"> <span style="font-size:85%;"><span class="tglct">Senin, 10 Maret 2008 | 02:29 WIB</span></span> </div><p style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;">Oleh PALUPI PANCA ASTUTI</span></p><p style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;">Hidup sebagai penyair bukanlah profesi menarik atau menjadi pilihan bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia. Sulitnya menerbitkan buku-buku khusus berisi puisi atau syair-syair sastra di industri perbukuan Tanah Air menjadi salah satu sebab eksistensi penyair sukar mengakar di masyarakat.</span></p><p style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;">Minat pasar yang minim terhadap karya-karya sejenis menjadi alasan klasik penerbit dalam negeri untuk tidak mencetak secara khusus buku-buku puisi. Akibatnya, ruang berekspresi menjadi terbatas. Panggung pertunjukan pun menganaktirikan pentas-pentas pembacaan puisi dan lebih mengutamakan konser musik atau pergelaran seni lainnya.</span></p><p style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;">Maka, alternatif ruang untuk memanifestasikan kemahiran menggelitik kata-kata dalam bentuk sajak atau deklamasi oleh para pujangga pun semakin sempit. Pencarian ruang alternatif ini kemudian menemukan tempatnya ketika teknologi informasi dan komunikasi semakin berkembang di periode tahun 2000-an.</span></p><p style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;">Dan, blog adalah ruang alternatif itu. Blog adalah situs web pribadi yang dapat dimiliki setiap orang dengan mengakses internet. Blog menjadi media personal setiap orang yang menulis dan ingin tulisannya tersebut tersebar luas. Kemampuan internet dengan blog-nya telah menghilangkan dinding dan jarak antarpenulis di dunia maya. Bahkan, ruang bebas ini mampu menghapus aturan sepihak yang biasa ditetapkan penerbit buku, seperti pembatasan jumlah kata, pengeditan yang tidak sesuai, hingga sudut pandang berbeda yang ingin ditonjolkan antara penerbit dan pengarang.</span></p><p style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;">Blog kini tak hanya dilirik oleh mereka yang sekadar ingin menuliskan perasaan sehari-hari seperti fungsi buku harian, bukan hanya untuk menginformasikan hal-hal yang bersifat pengetahuan. Tetapi blog juga adalah ruang ekspresi para novelis, esais, maupun penyair yang ingin karya-karyanya dikenal kalangan masyarakat luas. Blog sekaligus menjadi jembatan komunikasi antarsastrawan maupun pembaca.</span></p><p style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;"><strong>Jurnalistik</strong></span></p><p style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;">Hal itulah yang menjadi dasar bagi Mashuri, penyair asal Jawa Timur, untuk membuat blog berisi karya-karya pribadi pria yang juga menggeluti dunia jurnalistik ini. ”Blog pribadi yang saya buat terutama bertujuan sebagai media komunikasi di komunitas sastra, khususnya komunitas sastra Jawa Timur. Alasannya, saat ini semakin sedikit waktu kami miliki untuk sekadar bertemu atau berdiskusi,” katanya.</span></p><p style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;">Mashuri yang memiliki beberapa blog namun hanya mampu memelihara satu saja menambahkan, blog bagi penyair muda seperti dirinya bermanfaat sebagai ruang alternatif berekspresi. Terlebih, saat ini penerbitan karya sastra dalam bentuk cetak bagi pengarang yang belum dikenal sangat sulit. Maka, blog adalah wadah paling tepat untuk menampilkan kreasi-kreasi mereka. ”Sayangnya, akses internet masih menjadi sesuatu yang langka di masyarakat,” sesal pria pemilik blog mashurii.blogspot.com ini.</span></p><p style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;">Sementara F Aziz Manna merasakan sulitnya bertemu dengan teman-teman sesama penulis atau penyair sejak mereka memiliki kegiatan atau pekerjaan rutin lain. Kegiatan berdiskusi dan berbagi pengalaman seputar perkembangan dunia sastra menjadi aktivitas yang semakin jarang dilakukan. ”Padahal, dari diskusi dan sharing itu kami biasanya mendapat ide untuk menulis atau berkarya,” jelas pegiat sastra yang kini bekerja di salah satu surat kabar di Surabaya ini.</span></p><p style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;">Jika frekuensi berdiskusi, yang dikatakan Aziz sebagai ajang ”mencela” karya sesama, semakin berkurang, dikhawatirkan semangat berkreasi pun semakin menurun. Maka, ketika teknologi memudahkan cara berkomunikasi melalui media blog, kekhawatiran itu pun diminimalisasi. ”Blog adalah sarana komunikasi yang paling pas buat kami di komunitas sastra yang masih membutuhkan diskusi, meski di dunia maya,” lanjut Aziz. Pertemuan secara fisik memang kadang masih dilakukan Aziz maupun Mashuri dan teman-teman, tetapi sangat jarang.</span></p><p style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;">Kesamaan tujuan menjadi indikator adanya kebutuhan yang sama ketika para penyair memutuskan untuk membuat blog. Dalam hal ini kebutuhan untuk selalu berhubungan, berkomunikasi, berdiskusi, berimajinasi bersama, hingga mungkin ”gila” bersama. Tak jarang karya-karya sastra hebat lahir dari kegiatan ngalor- ngidul bersama ini. Dan, ketika kondisi dan perkembangan hidup memaksa mereka untuk jarang bertemu muka, membuat blog adalah jalan keluarnya. Pertemuan ide menjadi fokus terpenting ketimbang pertemuan fisik. ”Kami butuh ruang untuk mengomunikasikan sekaligus mengekspresikan karya-karya kami. Dan blog adalah ruang yang tepat,” ujarnya lagi.</span></p><p style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;">Ruang alternatif yang ditemukan penyair melalui blog telah memberikan kesempatan cukup luas bagi mereka untuk terus berkarya sambil membagi hasil kerja kreatif itu ke seluruh peminat sastra di pelosok negeri. Lalu, apakah langkah itu akan semakin menghambat perluasan produk kesusastraan mereka melalui wadah konvensional berupa buku cetak maupun pentas-pentas panggung sastra? Baik Mashuri maupun Aziz tidak meyakini hal itu akan terjadi.</span></p><p style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;"><strong>Membantu penulis</strong></span></p><p style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;">Bagi<span style="font-weight: bold;"><span style="font-weight: bold;"> </span></span>Indra Tjahyadi<b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"></b>, penyair muda yang juga pengajar di Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas Panca Marga, Probolinggo, blog justru sangat membantu para penulis untuk menerbitkan karya-karya mereka secara bebas. ”Blog tidak mengenal ketentuan-ketentuan khusus yang biasa diberlakukan para penerbit buku atau surat kabar kepada penulis yang ingin karyanya dipublikasikan. Apa pun yang ingin kita tulis, blog memberi ruang itu tanpa batas,” ujarnya.</span></p><p style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;">Namun, Indra justru menyayangkan opini masyarakat secara umum yang berpendapat bahwa penulis maupun pe- nyair yang memprasastikan karyanya melalui blog bukanlah sastrawan yang sesungguhnya. Cara publikasi karya sastra melalui media cetak, baik buku, koran, maupun majalah, tetap menjadi ukuran utama seseorang dianggap sastrawan atau bukan. ”Menurut saya, pandangan itu tidak cocok di masa teknologi informasi dan komunikasi seperti sekarang,” lanjut Indra.</span></p><p style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;">Dan, itulah arti blog buat para penyair. Menurut mereka, setiap wadah tetap memiliki kekurangan dan kelebihan. ”Blog memang menjamin akses yang lebih luas, namun sistem filter yang dimilikinya sangat rapuh, bahkan cenderung tidak ada,” kata Aziz.</span></p><p style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;">Sementara Indra Tjahyadi justru menyukai kebebasan yang ditawarkan blog. Sedangkan Mashuri memilih untuk tidak menuangkan seluruh karya di blog-nya.</span></p><p style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;">Bagaimanapun, blog merupakan tawaran menarik bagi siapa pun yang gemar menulis dan ingin mengembangkan dirinya di sebuah ruang yang maha luas namun tetap berbatas, bukan begitu? (PALUPI PANCA ASTUTI/<em> Litbang Kompas</em>)</span></p> </div>intjahhttp://www.blogger.com/profile/01523218798186178245noreply@blogger.com1tag:blogger.com,1999:blog-7217374030544787350.post-65972262790581333182008-03-13T04:13:00.000-07:002008-03-13T04:49:14.923-07:00Puisi-puisi Kriapur<span style=";font-family:arial;font-size:85%;" ><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg5U3AYEHGHbtRQfMsudN5OTPY_q3ZqZXb6UeFoORxSo23zOkzbYWRJ5B9gkRFGKMX3k5n7uLygqpTJJYOTevLT-lcygI8Lwe-jSMhs2wFwZBfyyPU9oiGXpO2FSZaTN1mtpulC6A6oNGw/s1600-h/kriapur1.jpg"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg5U3AYEHGHbtRQfMsudN5OTPY_q3ZqZXb6UeFoORxSo23zOkzbYWRJ5B9gkRFGKMX3k5n7uLygqpTJJYOTevLT-lcygI8Lwe-jSMhs2wFwZBfyyPU9oiGXpO2FSZaTN1mtpulC6A6oNGw/s200/kriapur1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5177187346080553266" border="0" /></a><br /></span><div style="text-align: center;font-family:arial;"><span style="font-size:85%;"><span style="font-weight: bold;">KRIAPUR (1959-1987)</span><br /></span></div><span style="font-size:85%;"><br /></span><div style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;"><span style="font-family:arial;">Para pemirsa blog yang budiman,</span></span><br /><span style="font-size:85%;"><span style="font-family:arial;">Selamat berjumpa lagi dengan saya, pemandu blog kesayangan anda. Kali ini saya akan menayangkan tiga buah puisi karya Kriapur, seorang penyair Indonesia kelahiran Solo, 6 Agustus 1959. Penyair yang sangat berbakat ini meninggal dalam usia relatif muda, 28 tahun. Ia tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas di daerah Batang, 17 Februari 1987.</span></span><br /><br /><span style="font-size:85%;"><span style="font-family:arial;">Bagi Kriapur, yang bernama asli Kristianto Agus Purnomo, seorang penyair adalah seorang yang: </span><span style="font-style: italic;font-family:arial;" >mengembara di tengah hutan perlambang yang dihuni oleh kata-kata yang dinamainya dunia supernatural, dimana bahasa telah menjilma bangunan transendental yang megah dan mempesona. Logikanya merupakan logika yang akrobatik dan patah-patah karena logika semacam itu merupakan logika transparan tapi justru memberikan kemungkinan-kemungkinan baru yang tak terduga </span><span style="font-family:arial;">(1988, 12)</span></span><br /><br /><span style="font-size:85%;"><span style="font-family:arial;">Tanpa banyak cingcong, bacot, dan omong lagi, langsung saja saya persembahkan tiga buah puisi karya Kriapur yang saya ambil dari bukunya Mengenang Kriapur (1959-1987) yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1988.</span></span><br /><br /><span style="font-size:85%;"><span style="font-family:arial;">Akhir kata: “Selamat Menikmati!”</span></span></div><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;font-family:times new roman;"><span style="font-size:85%;"><span style="font-family:arial;"></span><o:p></o:p></span></p><div style="text-align: justify;font-family:arial;"><span style="font-size:85%;"><span><span style="font-weight: bold;">Puisi Kriapur</span><br /><br /><span style="font-weight: bold;">KUPAHAT MAYATKU DI AIR</span><br /><br />kupahat mayatku di air<br />namaku mengalir<br />pada batu dasar kali kuberi wajahku<br />pucat dan beku<br /><br />di mana-mana ada tanah<br />ada darah<br />mataku berjalan di tengah-tengah<br />mencari mayatku sendiri<br />yang mengalir<br />namaku sampai di pantai<br />ombak membawa namaku<br />laut menyimpan namaku<br />semua ada di air<br /><br />Solo, 1981<br /><br /><span style="font-weight: bold;">AKU INGIN MENJADI BATU DI DASAR KALI</span><br /><br />Aku ingin menjadi batu di dasar kali<br />Bebas dari pukulan angin dan keruntuhan<br />Sementara biar orang-orang bersibuk diri<br />Dalam desau rumput dan pohonan<br /><br />Jangan aku memandang keluasan langit tiada tara<br />seperti padang-padang tengadah<br />Atau gunung-gunung menjulang<br />Tapi aku ingin menjadi sekedar bagian<br />dari kediaman<br /><br />Aku sudah tak tahan lagi melihat burung-burung pindahan<br />Yang kau bunuh dengan keangkuhanmu —yang mati terkapar<br />Di sangkar-sangkar putih waktu<br />O, aku ingin jadi batu di dasar kali<br /><br />1982<br /><br /><span style="font-weight: bold;">NATAL BAGI MUSUH-MUSUHKU</span><br /><br />aku tak mampu membeli daun-daun<br />ini fajar dengan bangunan dari air biru<br />membebaskan ketaklukan diriku<br />dan mereka yang terus mencari kematianku<br />kuterima dengan doa<br />dan bukan lagi musuhku<br /><br />Solo, 1986</span><span style="font-weight: bold;"><br /></span></span><span style="font-size:85%;"><br /></span></div>intjahhttp://www.blogger.com/profile/01523218798186178245noreply@blogger.com1tag:blogger.com,1999:blog-7217374030544787350.post-59352022112771724492008-02-25T09:49:00.000-08:002008-02-25T09:57:14.854-08:00Foto-foto (1)<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg32HQAjmMveMj9rvsrfdghGxYeWFHkA5P_J3TMqKiwF3jjs0flXxCNGL6YYpSEGidumCy6NdyR0U0tWrXSjBpPw735z8EDcyigKxuQyADPVEGZMKNzSDkQq-EVEYClpUZQL_MfZ2caQPQ/s1600-h/elang1.JPG"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg32HQAjmMveMj9rvsrfdghGxYeWFHkA5P_J3TMqKiwF3jjs0flXxCNGL6YYpSEGidumCy6NdyR0U0tWrXSjBpPw735z8EDcyigKxuQyADPVEGZMKNzSDkQq-EVEYClpUZQL_MfZ2caQPQ/s200/elang1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5170977083819159138" border="0" /></a><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjQS6F1QDNwuY-EbQPp1eyL7eSvesJpsFhACsSec5gp_W_ViIi_X5h1Fh51nwou3HNqt8zGYl-_mhAkFfEA-YBmC7A62Ki36lDuompoLK-6QJZylaG55ioyFKkxrOpBG13hKQFpeyRfsDQ/s1600-h/rth1.JPG"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjQS6F1QDNwuY-EbQPp1eyL7eSvesJpsFhACsSec5gp_W_ViIi_X5h1Fh51nwou3HNqt8zGYl-_mhAkFfEA-YBmC7A62Ki36lDuompoLK-6QJZylaG55ioyFKkxrOpBG13hKQFpeyRfsDQ/s200/rth1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5170977083819159154" border="0" /></a><br /><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgtDJ7k3eBXnxxRSdsrJwwR3rjOXZRfWrqW_Cy1xTSBZHPYvKhuo4U-39b5EIux_wyOF0q7SJjSDgZW8ZXnfPp6B263F2jwWDaocz7skB8muvcwUKIigGjzaqt0L50LsE_AyjmBZPGGDP4/s1600-h/anker+bis.JPG"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgtDJ7k3eBXnxxRSdsrJwwR3rjOXZRfWrqW_Cy1xTSBZHPYvKhuo4U-39b5EIux_wyOF0q7SJjSDgZW8ZXnfPp6B263F2jwWDaocz7skB8muvcwUKIigGjzaqt0L50LsE_AyjmBZPGGDP4/s200/anker+bis.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5170977088114126466" border="0" /></a><br /><p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;">Pemirsa blog yang budiman,<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;">Selamat bertemu lagi dengan saya, pemandu blog kesayangan anda. Kali ini saya akan menampilkan beberapa foto hasil jepretan saya. Maklum beberapa hari terakhir ini saya lagi kecanduan untuk memfoto apa saja.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size:12;"><span style="font-size:85%;">Sekian dulu prakata dari saya. Selamat menikmati.</span><o:p></o:p></span></p>intjahhttp://www.blogger.com/profile/01523218798186178245noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-7217374030544787350.post-68254385742971352312008-01-24T05:04:00.001-08:002008-01-24T05:12:08.387-08:00Puisi-puisi Indra Tjahyadi<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEicQ2IZ6Oy-vqG2oAJHc2TTHaGFp6x9LaJ5M1HR2p9Ir_mL3j2rs64iZkMX1gF21maa3AI9UyRj_eD-pupeGjd1LGTr2NmklRjOLfJuP61b5qC790ipRcKZom75jeEhM5giEGCW87wbkBI/s1600-h/ekspedisi+waktu+-+ic.JPG"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEicQ2IZ6Oy-vqG2oAJHc2TTHaGFp6x9LaJ5M1HR2p9Ir_mL3j2rs64iZkMX1gF21maa3AI9UyRj_eD-pupeGjd1LGTr2NmklRjOLfJuP61b5qC790ipRcKZom75jeEhM5giEGCW87wbkBI/s200/ekspedisi+waktu+-+ic.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5159029378691682386" border="0" /></a><br /><div style="text-align: center;"><span style="font-weight: bold;font-size:85%;" >AKU DAN EKSPEDISI WAKTU</span><br /></div><span style="font-size:85%;"><br /></span><div style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;">Pemirsa blog yang budiman,</span><br /><span style="font-size:85%;">Kali ini saya menayangkan tiga puisi saya yang termuat dalam buku kumpulan puisi tunggal saya yang pertama<span style="font-style: italic;"> Ekspedisi Waktu</span>. Buku ini diterbitkan pertama kali oleh penerbit Atlas Publishing, pada bulan Desember, 2004. Buku ini memuat 73 puisi yang saya ciptakan dalam rentang tahun 1995 sampai dengan tahun 2004. Dalam buku ini dieditori oleh Sdr. Manaek Sinaga dan diberi pengantar oleh Dr JJ Kusni, serta diberi catatan proses kreatif oleh saya sendiri.</span><br /><span style="font-size:85%;">Semoga penayangan ini dapat memberikan manfaat bagi sekalian para pemirsa blog yang budiman. Kiranya sebegini dulu hantaran dari saya. akhir kata saya ucapkan selamat menikmati.</span><br /></div><span style="font-size:85%;"><br /><span style="font-weight: bold;">SETELAH MENGANTARMU</span><br /><br />setelah mengantarmu<br />malam terasa begitu mencekam<br />detik-detik yang bergerak di dalamnya<br />pun terasa ikut menakutkan<br /><br />dua-tiga orang berjaga-jaga<br />dengan perasaan curiga<br />membangun percakapan dengan teror<br />teror dan isu-isu yang dipenuhi anarkisme<br /><br /><span style="font-style: italic;">ada sejumput jantung</span> <span style="font-style: italic;"><br />yang berderakan, di situ</span><br /><span style="font-style: italic;">melayang-layang</span> <span style="font-style: italic;"><br />dalam sergapan ngeri</span><br /><br />tapi, sebuah kabar datang lagi<br />seperti membuat barisan polisi<br />yang berdiri di depan plaza<br /><br />melahirkan peradaban<br />sambil menggeledah<br />tubuh manusia<br /><br />1997.<br /><br /><span style="font-weight: bold;">DI SEBUAH KAFE</span><br /><br />Di sebuah kafe yang senyap kulihat tubuhmu.<br />Di dinding, bayang-bayang kita yang ragu membeku.<br />Tapi, betapakah aku tak pernah tahu manakah yang retak<br />terlebih dahulu: dinding itu atau bayang-bayang kita yang<br />kelabu. Bahkan ketika seorang pelayan datang dan aku<br />biarkan sosokmu berlalu, sementara di jalanan awan perlahan<br />berubah mendung.<br /><br />1998.<br /><br /><span style="font-weight: bold;">IMAJISME XII</span><br />: buat Y.A.<br /><br />Kunang-kunang dan aku<br />menyusuri jalan-jalan<br />yang membentuk lingkaran<br />di matamu.<br /><br />Tanah-tanah<br />mencercap seratus kisah perjalanan<br />dan batu-batu.<br /><br />Burung-burung<br />berlepasan dari taufan<br />dan tahun-tahun<br />berkabut.<br /><br />Segala noda hitam<br />menancap<br />di dasar<br />jantungku:<br />rasa sakit<br />tergila<br />atau ajal<br />yang senantiasa<br />memekik<br />dalam goa<br />kelam<br />kalbuku.<br /><br />Tetapi,<br />demikianlah,<br />keperihan,<br />kesunyian,<br />keindahan,<br />kerinduan<br />dalam ingatan-ingatan<br />yang menafikan<br />gemuruh.<br /><br />Seperti bau-bau<br />geludhuk:<br />keletihan<br />dari seorang pemabuk<br />yang merasa melihat bulan<br />sepanjang mendung.<br /><br />1999-2000.<br /><br /></span>intjahhttp://www.blogger.com/profile/01523218798186178245noreply@blogger.com1tag:blogger.com,1999:blog-7217374030544787350.post-25499824309696629332008-01-22T04:38:00.000-08:002008-01-22T04:45:34.173-08:00Puisi-puisi Iwan Simatupang<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhlFA85sT9MfHtVthZop1-dk4CR4eI3b-xajBBGS6MvUN8LVxWJWKt9TGiRb6jGsMYSUfrfpaAQbHiH-VTQt11SKgRi40WeE4IIqfAxNnv-GaNCEd6coJyRKj_HTqWZqJc0yLyRD4I-nKE/s1600-h/ziarah+malam+-+is1.JPG"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhlFA85sT9MfHtVthZop1-dk4CR4eI3b-xajBBGS6MvUN8LVxWJWKt9TGiRb6jGsMYSUfrfpaAQbHiH-VTQt11SKgRi40WeE4IIqfAxNnv-GaNCEd6coJyRKj_HTqWZqJc0yLyRD4I-nKE/s200/ziarah+malam+-+is1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5158280717055820802" border="0" /></a><br /><div style="text-align: center;"><span style="font-weight: bold;font-size:85%;" >IWAN SIMATUPANG (1928 – 1970)</span><br /></div><span style="font-size:85%;"><br /></span><div style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;">Pemirsa blog yang budiman,</span><br /><span style="font-size:85%;">Selamat bertemu lagi dengan saya. Pada episode kali ini saya akan menayangkan tiga buah sajak dari Iwan Simatupang, seorang sastrawan besar Indonesia yang dilahirkan di Sibolga, Sumatera Utara, pada tanggal 18 Januari 1928, dan meninggal pada 4 Agustus 1970, yang masing-masing berjudul<span style="font-style: italic;"> Requiem, Potret,</span> dan <span style="font-style: italic;">Ziarah Malam</span>, yang kesemuanya saya ambil dari buku kumpulan puisi Iwan Simatupang yang berjudul <span style="font-style: italic;">Ziarah Malam</span> (Grasindo, 1993).</span><br /><span style="font-size:85%;">Sajak <span style="font-style: italic;">Requiem</span> menarik bagi saya bukan hanya disebabkan sajak tersebut diciptakan di Surabaya, sebuah kota yang saya cintai, tetapi juga karena sajak tersebut memunyai kekuatan puitik yang kuat. Membaca sajak tersebut saya seakan dihadapkan pada khazanah puisi epik, yang saat ini semakin tidak saya temui. Sementara sajak <span style="font-style: italic;">Potret</span> dan <span style="font-style: italic;">Ziarah Malam</span> saya pilih untuk ditayangkan karena kedua sajak tersebut memiliki napas-cerita yang baik dan kuat, meskipun dikemas dalam bentuk puisi. Dan herannya lagi, meski naratif, ternyata kedua puisi tersebut tidak kekurangan kekuatan puitik.</span><br /><span style="font-size:85%;">Untuk menjawab mengapa napas-cerita terasa begitu kuat dan kentara pada sajak-sajak Iwan Simatupang, kiranya perkataan Dami N. Toda dalam <span style="font-style: italic;">Catatan Penutup</span> untuk buku kumpulan puisi tersebut sungguh sangat pantas, yakni:</span><span style="font-size:85%;"> <span style="font-style: italic;">(bahwa) tarikan dan tiupan napas-cerita dalam penciptaan puisi (yang naratif), memang wajar saja, karena puisi itu juga kisahan rasa manusia liris yang dapat dijabar dari suatu bingkai atau mengarah justru kepada membentuk bingkai (kisah), tetapi bagi Iwan rupanya peristiwa kreatif model begitu merupakan gejala yang mendesak-desak dari alam bawah-sadar panggilan naratif untuk menulis kisah/ drama/ novel sebagai dunia utamanya. </span></span><span style="font-size:85%;">(1993: 46)</span><br /><span style="font-size:85%;">Memang benar adanya, Iwan Simatupang lebih dikenal sebagai novel, cerpenis, penulis naskah darama, ataupun esais ketimbang sebagai penyair sebab </span><span style="font-size:85%;">“<span style="font-style: italic;">Sebagai penyair, namanya jarang disebut-sebut atau dibicarakan secara khusus oleh para peminat dan kritikus sastra. Ini beralasan jika kita ingat bahwa hingga akhir hayatnya Iwan tidak memiliki kumpulan sajak.” </span></span><span style="font-size:85%;">(1993: v)</span><br /><span style="font-size:85%;">Ah, betapa ironisnya. Hanya karena tidak memiliki buku kumpulan puisi, orang sekaliber Iwan Simatupang jarang dibicarakan dalam khazanah perpuisian Indonesia. Ini menimbulkan kecurigaan, jangan-jangan banyak penyair-penyair Indonesia yang sebenarnya berkualitas bagus, hanya karena tidak memiliki buku, ia jadi jarang, atau bahkan tak pernah, dibicarakan.</span><br /><span style="font-size:85%;">Maka tanpa banyak omong lagi, saya persembahkan tiga buah sajak karya Iwan Simatupang. Selamat menikmati.</span><br /><br /><span style="font-weight: bold;font-size:85%;" >REQUIEM</span><span style="font-size:85%;"><br /><span style="font-style: italic;">mengenang manusia perang I.H. Simandjuntak: </span></span> <span style="font-style: italic;font-size:85%;" >Let., bunuh diri!</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Aku tiada dapat katakan </span><br /><span style="font-size:85%;">apakah pergimu pada fajar atau senja </span><br /><span style="font-size:85%;">aku hanya tahu </span><br /><span style="font-size:85%;">kau pergi berlangit merah mencerah</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Sejak kau pergi, prajurit-kematian, </span><br /><span style="font-size:85%;">kami berkesulitan menghalau gagak-gagak </span><br /><span style="font-size:85%;">ingin berhinggapan di lembah kami </span><br /><span style="font-size:85%;">dan berseru seharian dalam suatu lagu </span><br /><span style="font-size:85%;">yang bikin kami pada bergelisahan</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Langit kami kini bertambah mendung </span><br /><span style="font-size:85%;">bukan oleh arakan mega yang bawa rintik-rintik </span><br /><span style="font-size:85%;">tapi oleh kawanan gagak </span><br /><span style="font-size:85%;">yang kian tutupi celah-celah terakhir </span><br /><span style="font-size:85%;">dari kebiruan langit jernih </span><br /><span style="font-size:85%;">dan kecuacaan mentari</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Kawan </span><br /><span style="font-size:85%;">kami kini memikirkan </span><br /><span style="font-size:85%;">pengerahan gadis-gadis dan orang tua kami </span><br /><span style="font-size:85%;">untuk menghunus segala tombak dan keris hiasan </span><br /><span style="font-size:85%;">yang berpacakan di dinding ruang-ruang tamu kami </span><br /><span style="font-size:85%;">sebab </span><br /><span style="font-size:85%;">sejak kau pergi </span><br /><span style="font-size:85%;">pemuda-pemuda gembala dan petani kami </span><br /><span style="font-size:85%;">berlomba-lomba meninggalkan lembah </span><br /><span style="font-size:85%;">dan pergi lari ke kota </span><br /><span style="font-size:85%;">jadi penunggu taman-taman pahlawan </span><br /><span style="font-size:85%;">atau pembongkar mayat-mayat</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Saksikanlah </span><br /><span style="font-size:85%;">di sini ada tantangan dari suatu kemuraman </span><br /><span style="font-size:85%;">yang ingin pudarkan segala irama dan kehijauan</span><br /><span style="font-size:85%;">dengar di sini ada kesediaan dari nafas demi nafas</span><br /><span style="font-size:85%;">yang ingin pertahankan keluasaan jantung berdetak</span><br /><span style="font-size:85%;">dalam deretan detik demi detik</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Tidak kawan </span><br /><span style="font-size:85%;">kami tiada akan mencari pelarian kami </span><br /><span style="font-size:85%;">ke dunia tempat mantera berserakan </span><br /><span style="font-size:85%;">walau kami tahu </span><br /><span style="font-size:85%;">bahwa mantera ditakuti gagak-gagak </span><br /><span style="font-size:85%;">dan akan buat langit kami </span><br /><span style="font-size:85%;">kembali cerlang</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Kami benci mantera-mantera </span><br /><span style="font-size:85%;">kami benci semua yang bukan datang </span><br /><span style="font-size:85%;">dari kelenjar dan darah kami </span><br /><span style="font-size:85%;">sebab kamu tahu </span><br /><span style="font-size:85%;">kekuatan yang dalam tanggapan </span><br /><span style="font-size:85%;">adalah jua kelemahan</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Tidak kawan </span><br /><span style="font-size:85%;">kami akan tantang pertarungan ini </span><br /><span style="font-size:85%;">tanpa sikap dan gita kepahlawanan </span><br /><span style="font-size:85%;">sebab kami tahu </span><br /><span style="font-size:85%;">pahlawan berkehunian </span><br /><span style="font-size:85%;">bukan di bumi ini.</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Kami tiada berani ramalkan </span><br /><span style="font-size:85%;">kesudahan dari pertarungan ini </span><br /><span style="font-size:85%;">kebenaran bukan lagi dalam </span><br /><span style="font-size:85%;">ramal, tenung ataupun renung</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Tapi </span><br /><span style="font-size:85%;">andaikata lembah kami </span><br /><span style="font-size:85%;">menjadi lembah dari gagak-gagak </span><br /><span style="font-size:85%;">dan belulang kami mereka jadikan </span><br /><span style="font-size:85%;">bagian dari sarang-sarang mereka </span><br /><span style="font-size:85%;">ketahuilah </span><br /><span style="font-size:85%;">di sini telah rebah </span><br /><span style="font-size:85%;">manusia-manusia yang tiada akan </span><br /><span style="font-size:85%;">memikul tanda-tanda tanya lagi</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Tapi </span><br /><span style="font-size:85%;">andaikata gagak dapat kami tiwaskan satu demi satu </span><br /><span style="font-size:85%;">dan haruman langit dapat kami hirup dengan luasa kembali </span><br /><span style="font-size:85%;">o, kegembiraan kami tiada akan kami unjukkan </span><br /><span style="font-size:85%;">dengan sesaat pun jatuh bertiarap di puncak bukit-bukit kami </span><br /><span style="font-size:85%;">sambil menatap kerinduan ke udara kosong </span><br /><span style="font-size:85%;">dan membacakan mantera-mantera …</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Pun tiada akan kami kutuki </span><br /><span style="font-size:85%;">pemuda-pemuda kami yang lari ke kota </span><br /><span style="font-size:85%;">mencari kegemuruhan dalam menunggu kelengangan </span><br /><span style="font-size:85%;">sebab </span><br /><span style="font-size:85%;">kami mengibai semua mereka </span><br /><span style="font-size:85%;">yang tiada tahu dengan diri </span><br /><span style="font-size:85%;">pada kesampaian di tiap perbatasan</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Inilah langkah pertama kami </span><br /><span style="font-size:85%;">kepengijakan suatu bumi baru </span><br /><span style="font-size:85%;">di mana kami bukan lagi tapal </span><br /><span style="font-size:85%;">dari kelampauan dan keakanan </span><br /><span style="font-size:85%;">tapi </span><br /><span style="font-size:85%;">kamilah kelampauan dan keakanan!</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Inilah tarikan-nafas kami yang pertama </span><br /><span style="font-size:85%;">dalam penghirupan udara di suatu jagat baru </span><br /><span style="font-size:85%;">di mana nilai-nilai ketakberhingaan </span><br /><span style="font-size:85%;">bukan lagi terletak dalam </span><br /><span style="font-size:85%;">ramal, tenung ataupun renung </span><br /><span style="font-size:85%;">tapi: </span><br /><span style="font-size:85%;">dalam kesegaran dan keserta-mertaan!</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Aku tiada dapat katakan </span><br /><span style="font-size:85%;">apakah pergimu fajar atau senja </span><br /><span style="font-size:85%;">aku hanya tahu </span><br /><span style="font-size:85%;">kau pergi berlangit merah mencerah, </span><br /><span style="font-size:85%;">pahlawan!</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Surabaya, 29 Januari 1953</span><br /><br /><span style="font-weight: bold;font-size:85%;" >POTRET</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Di sudut kamat seorang dara</span><br /><span style="font-size:85%;">Tergantung potret serdadu senyum:</span><br /><span style="font-size:85%;">‘Tunggu! Sepulangku, bahtera kita kayuh!</span><br /><span style="font-size:85%;">Di atasnya salib: Pahlawan kasih yang</span><br /><span style="font-size:85%;">Belum jua pulang.</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Kini dara sudah lama tak menunggu lagi. </span><br /><span style="font-size:85%;">Langkah-langkah pelan, yang biasa datang</span><br /><span style="font-size:85%;">Menjelang tengah malam dari kebun belakang</span><br /><span style="font-size:85%;">Bawa cium dan kembang—</span><br /><span style="font-size:85%;">Takkan lagi kunjung datang.</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Di sudut kamar seorang dara</span><br /><span style="font-size:85%;">Tergantung potret serdadu senyum:</span><br /><span style="font-size:85%;">‘Jangan tunggu! Aku bangkai dalam bingkai!</span><br /><span style="font-size:85%;">Di atasnya salib: Pahlawan kasih yang</span><br /><span style="font-size:85%;">Masih jua belum pelung</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Kini dara sudah lama dalam biara.</span><br /><br /><span style="font-weight: bold;font-size:85%;" >ZIARAH MALAM</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Tahun lalu ia lari tinggalkan biara</span><br /><span style="font-size:85%;">Kerna tak tahu tempatkan kasih</span><br /><span style="font-size:85%;">Pada Tuhan atau padri muda</span><br /><span style="font-size:85%;">Yang masuk biara kerna ingin tobat</span><br /><span style="font-size:85%;">Dari dosa: memperkosa ibu tirinya</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Bulan lalu ia diangkut ke sanatorium</span><br /><span style="font-size:85%;">Kerna tak tahu apa lagi akan dikasihinya</span><br /><span style="font-size:85%;">Setelah Tuhan dan padri muda ia tinggalkan</span><br /><span style="font-size:85%;">Dan kasih yang membara di buah dadanya</span><br /><span style="font-size:85%;">Akhirnya mengapung ke paru-parunya</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Siang tadi ia dikubur kemari</span><br /><span style="font-size:85%;">Kerna lewat tahu, bahwa kasih</span><br /><span style="font-size:85%;">Yang pulang dari Tuhan, daging dan kelengangan</span><br /><span style="font-size:85%;">Hanya akan berterima lagi oleh</span><br /><span style="font-size:85%;">Tepi pertemuan kembola dan langit malam</span><br /><br /><span style="font-size:85%;">Dan di bimbang bintang Tuhan masih Maha Pengasih</span><br /></div><span style="font-size:85%;"><br /></span>intjahhttp://www.blogger.com/profile/01523218798186178245noreply@blogger.com1tag:blogger.com,1999:blog-7217374030544787350.post-56250083131408560232008-01-14T09:16:00.000-08:002008-01-24T05:21:58.548-08:00Puisi-puisi Subagio Sastrowardoyo<span style="font-size:85%;"><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjG6gWfuQ7X2271zpQf8cizmPgNLb0n1qtnPhqaQOnVa3UkNA_qml-PQE6zhNB3SSEpVrYzxMmuD2uibJ2sqnRZx9XDcaOqupBgbM5GTLDSi9a8Pey0NKY4QZguRTmFrauJ76z0h9rVWJ8/s1600-h/dan+kematian+-+ss1.JPG"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjG6gWfuQ7X2271zpQf8cizmPgNLb0n1qtnPhqaQOnVa3UkNA_qml-PQE6zhNB3SSEpVrYzxMmuD2uibJ2sqnRZx9XDcaOqupBgbM5GTLDSi9a8Pey0NKY4QZguRTmFrauJ76z0h9rVWJ8/s200/dan+kematian+-+ss1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5155383585521009634" border="0" /></a><br /></span> <p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span style="font-size:85%;"><b><span style="font-size:11;">SUBAGIO SASTPWARDOYO (1924 - 1995)<o:p></o:p></span></b></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;"><span style="font-size:11;"><o:p> </o:p></span></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;"><b><span style="font-size:11;">Pengantar<o:p></o:p></span></b></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"><span style="font-size:85%;"><span style="font-size:11;">Subagio Sastrowardoyo, sebuah nama paten <i>dus</i> beken dalam perpuisian Indonesia. Sulit sekali bagi saya untuk menghindar dari nama tersebut tiap kali berbicara tentang dunia perpuisian Indonesia, meski setelah beliau wafat pada 18 juli 1995, beratus-ratus (atau bahkan beriba-ribu) penyair bermunculan, tetapi nama tersebut terus saja menghantui benak saya.<o:p></o:p></span></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;"><span style="font-size:11;"><span style=""> </span><span style=""> </span>Subagio Sastrowardoyo, lahir di Madiun, 1 Februari 1924. Selain sebagai seorang penyair, ia juga dikenal sebagai seorang kritikus sastra, esais handal, bahkan cerpenis yang mumpuni. Maka, hemat saya, sudah sepantasnya kita menaruh hormat atasnya.<o:p></o:p></span></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;"><span style="font-size:11;"><span style=""> </span>Kali ini, dalam blog yang cukup sederhana ini, saya akan menayangkan 2 puisi karya Subagio Sastrowardoyo yang keduanya saya comot dari buku puisi <i>Dan Kematian Makin Akrab</i> (Grasindo, 1995). Buku puisi ini memuat 100 puisi Subagio Sastrowardoyo. Kiranya, akan sangat merugi apabila seorang pecinta atau penyuka puisi melewatkan buku ini.<o:p></o:p></span></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;"><span style="font-size:11;"><span style=""> </span>Dua buah puisi Subagio Sastrowardoyo yang saya tayangkan kali kebetulan memiliki judul yang sama <i>Tamu</i>. Saya sendiri tidak tahu terjadinya penjudulan yang sama atas 2 puisi yang berbeda ini dilakukan oleh penyairnya secara sengaja atau tidak. Tetapi, jujur saja, sebenarnya saya tak terlampau peduli dengan hal itu. Sebab, toh kedua puisi dengan judul yang sama tersebut tetap memiliki kekuatan dan keasyikan masing-masing.<o:p></o:p></span></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;"><span style="font-size:11;"><span style=""> </span>Selamat menikmati!<o:p></o:p></span></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;"><span style="font-size:11;"><o:p> </o:p></span></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;"><b><span style="font-size:11;">Puisi-puisi Subagio Sastrowardoyo<o:p></o:p></span></b></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size:85%;"><span style="font-size:11;"><o:p> <span style="font-weight: bold;">TAMU</span><br /><br />masih ada yang mau singgah<br />di pondok tua — kesan sesal<br />gamit rindu, gores duka<br />biar terbuka pintu muka<br />buat tamu tak terduga<br />siapa akan mengajak berbicara —<br />rumput, batu, matahari<br />arti kabur di pudar hari<br />di bawah jenjang berdiri bayang<br />di tangan pisau belati<br />tiba ia menoleh memperhati<br /><br /><span style="font-weight: bold;">TAMU</span><br /><br />Lelaki yang mengetuk pintu pagi hari<br />sudah duduk di ruang tamu. Aku baru<br />bangun. Tapi rupanya ia tidak<br />merasa tersinggung waktu aku belum<br />mandi dan menemui dia. Rambutku masih<br />kusut dan pakaianku hanya baju kumal<br />dan sarung lusuh.<br />“Aku mau menjemput,” katanya pasti,<br />seolah-olah aku sudah berjanji sebelumnya<br />dan tahu apa rencananya.<br />“Bukankah ini terlalu pagi?” tanyaku ragu.<br />“Dia sudah menunggu!” Ia nampak tak sabar<br />dan tak senang dibantah. Aku belum tahu<br />siapa yang ia maksudkan dengan “dia”,<br />tetapi sudah bisa kuduga siapa.<br />“Tetapi aku perlu waktu untuk berpisah<br />dengan keluarga. Terlalu kejam untuk<br />meninggalkan mereka begitu saja. Mereka<br />akan mencari.”<br />Nampaknya tamu itu begitu angkuh seperti<br />tak mau dikecilkan arti. Siapa dapat lolos<br />dari tuntutannya.<br />Sebelum aku sempat berbenah diri ia telah<br />menyeret aku ke kendaraannya dan aku dibawanya<br />lari entah ke mana. ke sorga atau ke neraka?”<br /><br /></o:p></span></span></p>intjahhttp://www.blogger.com/profile/01523218798186178245noreply@blogger.com1