Achmad Lutfi

Hidup untuk menanam. Ranumnya dipetik seketika mata terpejam.

  • Puisi
  • Cerita Pendek
  • Ruang Kata
  • Ruang Fotografi
  • Cerbung: Arina & Adjie
  • Cerbung tumbleD
  • Cerbung: Satu Senyum untuk Esok
  • ask me anything
  • submit a post
  • rss
  • archive
  • Menyia-nyiakan hari yang cerah dan awan yang biru, hanya karena mungkin esok hujan dan badai?

    Saudara, hidup akan selalu ada manis getirnya. Maka tak adil kalau suasana hati kita hanya tahu menikmati sendu, dan menolak merayakan suka cita yang sederhana.

    Tuhan mencipta tawa, karena ia percikan bahagia. Sebagaimana Tuhan mencipta air mata, karena ia hujan bagi luka.

    Semua ada momennya. Semua ada masanya.

    Jangan merampas tawa untuk hatimu yang sedang berbunga. Jangan pula mencuri tangis untuk hatimu yang sedang berduka.

    • 1 year ago
    • 35 notes
  • Ingat selalu ya, anak-anak kita tidak bertanggung jawab atas mimpi-mimpi kita yang tak tercapai.

    Boleh kita punya harapan pada mereka. Semoga mereka kelak begini atau begitu. Menjadi ini atau itu. Membekali ini maupun itu.

    Tapi jangan sampai mereka dipaksa mewujudkan sesuatu yang bahkan kita saja tak mampu.

    Anak-anak tetap punya hidupnya sendiri. Bantu mereka mengeluarkan potensinya. Bimbing mereka mengoptimalkan kelebihan dan mengelola kekurangan.

    Anak-anak akan menghadapi tantangan yang ada di zaman mereka, yang belum tentu ada di zamanmu.

    Penuhi mereka dengan bahagia dalam taat kepada Tuhan. Bukan memaksa yang akhirnya membuat mereka lari ketika sudah remaja.

    Bersabarlah dalam memberi beban. Sebab pundak mereka bukanlah pundakmu. Imannya perlu terus dipupuk dan diberi nutrisi yang cukup. Tidak kekurangan. Tidak berlebihan.

    • 1 year ago
    • 62 notes
  • Nak, terima kasih sudah mencintai buku!

    Aku pikir hanya gurauan waktu kamu tanya, “Pa, boleh pinjam buku ini?” Sambil menunjuk Harry Potter berbahasa Jerman itu.

    Tentu aku mengiyakan. Meski ragu kamu akan tuntas satu buku, sebab kamu baru kelas satu dan sebelumnya hanya buku-buku untuk pemula yang kau baca. Kupikir kamu akan bosan, tak ada gambar di sana, hurufnya kecil-kecil, spasinya rapat-rapat.

    Tapi rupanya ibarat membuka kotak pandora.

    Ibumu bercerita, sepanjang perjalanan kalian ke luar kota, dirimu tenggelam di dalam ceritanya. Hanyut menyusuri baris demi baris. Tak berhenti oleh jenuh.

    Dan hoopla! Beberapa hari kemudian matamu berbinar-binar menceritakan ulang padaku isi buku itu, lantas bertanya, “Boleh belikan buku yang kedua?”

    Ah, Nak! Kamu yang memohon, tapi seolah aku yang mendapat hadiah.

    Ada haru mendapatimu mulai membaca novel beratus halaman. Sendiri. Dan kamu mengerti.

    Teruslah, Nak. Teruslah membaca dan selesaikan serialnya. Rengkuh buku-buku yang lain. Usiamu adalah usia yang haus akan imajinasi.

    Terang benderang di mataku bahwa kamu sedang bertumbuh. Ingin tahu lebih banyak kata. Lebih mengerti makna keluarga, sahabat, luka, dan bahagia, melalui kisah-kisah.

    Maka teruslah begitu. Dan aku pun tak kan jenuh memandumu memilih serta memilah. Ceritakan padaku segala yang berkesan bagimu.

    Seperti malam itu, tengah membaca satu buku, tiba-tiba kau memelukku. Menyembunyikan wajah di dadaku. Lalu menangis.

    Rupanya kamu tersedu sebab seorang nenek yang baik dan jenaka dalam kisah itu tutup usia, wafat selepas berjuang melawan sakitnya yang berat. Dan kamu jujur atas perasaanmu.

    Dear, I really love you.

    • 1 year ago
    • 27 notes
    • #buku
    • #parenting
    • #fatherhood
  • Hai,

    Kamu tahu tidak, kenapa langit itu luaaass sekali? Karena ia selalu bersedia menyimak semua ceritamu.

    Semuanya.

    Telinga manusia itu terbatas. Waktunya terbatas. Suasana hatinya tak tentu. Tapi tidak dengan langit. Apapun yang kamu tumpahkan, tak pernah ditolaknya. Semua ceritamu penting. Suka dukamu tak ternilai. Keluh kesahmu adalah kumpulan episode yang membuatmu terus bertahan.

    Dan langit setia menyimak.

    Lewat sujud dan serah dirimu. Bahwa kamu lemah dan tak berdaya tanpa pertolonganNya. Tuhanmu di singgasanaNya, selalu ada.

    • 1 year ago
    • 72 notes
  • Hai,

    Betapapun sulitnys hari ini, tetaplah lihat sisi baiknya. Mungkin setidaknya kamu mendapat ilmu baru? Mungkin setidaknya kamu dapat teman baru? Mungkin setidaknya kamu diberi upah di akhir bulan?

    Tarik nafasmu dalam-dalam. Jangan biarkan sesak berlama-lama di dalam dadamu. Hidup ini ya begini. Semua orang dengan kesulitannya masing-masing.

    Jangan korbankan kesehatanmu untuk sesuatu yang tak terlalu bernilai. Jika kamu masih punya pilihan, dan aku harap begitu, beranjaklah dari satu keadaan pada keadaan yang lebih baik bagimu.

    Jangan pedulikan bila orang bilang kamu menyerah. Jangan dengarkan bila orang bilang kamu itu lemah. Kamu dengan kesehatan dan ketenangan hidupmu, itu selalu jauh lebih penting.

    Simak selalu suara kecil di dalam hatimu. Acuhkan dia. Sebab dia lah yang biasanya paling jujur, paling apa adanya, dan paling menyayangimu, tidak lain dan tidak bukan, dia adalah dirimu sendiri.

    • 1 year ago
    • 46 notes
  • Hai,

    Kenapa kamu sudah tak pernah bercerita lagi? Apakah kamu sudah bosan mendengar lelahmu sendiri? Apakah kamu sudah tak berminat lagi mengurai pikiranmu yang rumit?

    Jangan simpan semua sendiri dalam lamunan yang panjang. Terduduk di beranda rumah sambil memandang pucuk-pucuk pohon mangga, tapi pikiranmu tak ada di sana.

    Ceritamu selalu perlu didengar. Oleh dirimu sendiri, namun bukan dalam percakapan yang membuat orang lain berpikir aneh.

    Hai, berceritalah.

    Seperti hari-hari kemarin. Tentang apapun. Tentang siapapun. Tapi jangan bercerita keburukan orang yang kamu benci. Nanti nasibmu ikut menjadi buruk.

    Aku di sini mengetuk pintumu. Menunggu kamu bercerita lagi.

    • 1 year ago
    • 59 notes
  • Sebab ketulusan itu diuji, sejak dari keadaan kita sendiri.

    • 1 year ago
    • 15 notes
    • #achmadlutfi
    • #Spotify
  • Boleh sibuk. Terus peduli dengan sekeliling. Tapi jangan lupa menyayangi diri sendiri.

    • 2 years ago
    • 31 notes
    • #peduli
    • #hidup
    • #diri sendiri
  • image

    20 Juli 2009. Nyari buku buat nambah-nambah kosakata bahasa Jerman. Akhirnya memutuskan beli Harry Potter. Kenapa Harry Potter? Karena udah tahu jalan ceritanya. 😅

    15 tahun kemudian buku ini dibaca Razan. Buat anak kelas 1 SD, kosakatanya juga masih terbatas. Bedanya, dia jauh lebih paham dan selesai. Saya tidak. 😂

    • 2 years ago
    • 29 notes
  • Jangan terlalu serius dengan dunia. Seriuslah yang dengannya berdampak pada akhiratmu.

    • 2 years ago
    • 24 notes
  • Hai, semoga selalu dalam keadaan yang baik. Tentu hari tidak selalu mudah. Tapi semoga semua lelah menemukan penawarnya.

    Redalah reda wahai cemas yang mewujud hujan. Yang turunnya seperti tak mau henti. Mengguyur hari-hari hingga jadi kuyup di dalam dada.

    Semua akan baik-baik saja.

    Tidak harus menjadi yang terhebat. Tidak harus menjadi yang sempurna. Sebab tanpa cela itu tiada. Tanpa cacat itu mustahil.

    Jalan lagi. Esok hari. Hujan akan berhenti. Berganti sejuk. Menumbuhkan mimpi dan doa-doa.

    • 2 years ago
    • 60 notes
  • image
    • 2 years ago
    • 11 notes
  • Hari ini usai menjemput Razan dari sekolah, kami ke Perpus Kota. Menemani anak sulungku yang baru duduk di kelas satu SD meminjam buku adalah diantara momen paling aku suka.

    Dan tampaknya hari ini tercatat sebagai hari terbanyak buku yang kami bawa pulang ke rumah. Lebih tepatnya 18 buku untuk dibaca anakku itu.

    Ya! Delapan belas! Itu semua buku bacaannya. Sebagian besar pilihanku. Dan dia selalu senang, sebab aku sudah paham benar tema yang paling dia suka adalah petualangan, detektif, dan cerita secara umum.

    Buku yang kupilih juga buku yang hurufnya besar-besar. Banyak gambar ilustrasinya. Berwarna itu juga penting.

    Sepertinya minggu depan sudah tuntas dia baca semua buku itu. Dan kami harus kembali lagi ke Perpus mencari buku menarik lainnya.

    Aku pikir ini salah satu konsekuensi sebab tidak adanya video game di rumah. Setidaknya tidak untuk saat ini. Untuk usia anak-anakku yang masih perlu banyak fokus dan konsentrasi dengan dunia belajar dan merawat rasa ingin tahunya.

    • 2 years ago
    • 16 notes
  • image

    Bersabarlah atas godaan. Kelak sabarmu akan berbuah manis. Untuk kehidupan yang selamanya.

    • 2 years ago
    • 38 notes
  • Hai, apa kabar kalian?

    Teman-teman online yang barangkali kita tak pernah bertegur sapa di dunia nyata atau pun maya. Tapi saling berjumpa lewat tulisan masing-masing.

    Hai, semoga kalian baik-baik saja.

    Tahun berganti baru. Meski tak menyambutnya dengan pesta, aku tetap mendoakan semoga tahun 2024 ini kita semua dalam keadaan yang lebih baik. Keimanan, kesehatan, finansial, studi, karir, hubungan dengan orang lain, kepribadian, segalanya.

    Aku tahu setiap kita tengah berjuang. Tengah berupaya mewujudkan doa yang aku sebutkan tadi. Meski kadang hasil pergulatan itu mungkin tampak tidak terlalu baik, janganlah mudah patah dan menyerah.

    Keadaan di banyak tempat kenyataannya memang tidak sebaik itu. Kita bisa melihat banyak kesulitan dan masalah. Namun hidup mesti tetap dilanjutkan bukan?

    Jangan melulu berharap kesempurnaan. Itu memang naluri kita sebagai manusia. Tapi yang namanya dunia, tetap harus dijalani dengan penuh realita. Yah beginilah adanya.

    Teruslah sibuk dengan kegiatan yang positif. Teruslah lakukan hal-hal yang kamu suka. Dan teruslah menjadi orang baik. Rawat dirimu. Sesekali boleh kok beli makanan enak untuk kamu nikmati sendiri. Nikmatilah hasil jerih payahmu. Kamu berhak untuk itu.

    Tidur yang cukup juga penting. Kurang-kurangi lihat kehidupan orang lain. Apalagi di media sosial. Kebanyakan tidak seperti yang kamu lihat. Semua orang menyimpan apa yang tidak ingin orang lain tahu. Sehingga kadang membuat kita jadi merasa paling menderita. Padahal tidak. Nyatanya tidak seperti itu.

    Bacalah buku-buku. Sebab bukan hanya lambung kita yang perlu diberi asupan, otak dan pikiran pun begitu. Mereka juga bisa merasa kelaparan. Sehingga kita jadi sering mentok. Tak punya ide atau pengetahuan akan sesuatu. Juga mudah terbawa isu yang belum tentu benar adanya.

    Waktu yang diisi dengan hal-hal baik, tidak akan sia-sia. Dampaknya boleh jadi tidak instan. Namun ia menumbuhkanmu jadi pribadi yang lebih berkualitas. Terlebih bila menjadi kebiasaan yang panjang.

    Sekali lagi, selamat menjalani tahun 2024.

    Selamat bertumbuh dan terus bersinar.

    Januari 04, 2024

    • 2 years ago
    • 54 notes
© 2011–2026 Achmad Lutfi
Next page
  • Page 1 / 126